KEDIRI, JP Radar Kediri- Semangat Raden Ajeng Kartini tak lagi sekadar gema pingitan atau aksara dalam surat-surat lawas. Bagi dr. Ririen Indah Perbawati, Sp.OG, emansipasi adalah ketika seorang perempuan berdaulat penuh atas raga dan rahimnya.
Ia melihat bahwa perjuangan masa kini adalah memberikan kunci pengetahuan kepada perempuan untuk memahami simfoni yang terjadi di dalam tubuhnya sendiri.
Baginya, semangat Kartini yang relevan saat ini adalah edukasi. Perempuan harus memahami siklus menstruasi, keseimbangan hormon, hingga masa subur.
"Di situlah letak emansipasi, saat ia bisa menentukan apa yang terbaik untuk tubuhnya," ungkap dr. Ririen dengan nada bicara yang tenang namun penuh keyakinan.
Langkah dr. Ririen di Kota Kediri bermula pada tahun 2014. Kala itu, ia menjumpai banyak pasangan yang memendam rindu akan tangis bayi.
Namun terbentur oleh dinding akses kesehatan yang terasa menjulang tinggi. Seolah impian mempunyai keturunan hanya menjadi milik mereka yang berkantong tebal.
Terdorong oleh rasa empati, dr. Ririen merasa terpanggil untuk mendalami Program Hamil (Promil) Alami. Hingga akhirnya ia kembali menimba ilmu dari guru-guru berpengalaman di RS Hasan Sadikin, Universitas Padjadjaran, Bandung.
Baginya, setiap perempuan, tanpa memandang kasta ekonomi, berhak atas kesempatan yang sama untuk menjadi ibu.
Promil alami yang diusung dr. Ririen bukanlah sebuah penolakan terhadap medis. Melainkan sebuah bentuk kerja sama dengan alam. Ia menitikberatkan pada perbaikan lingkungan tubuh.
Layaknya sebuah upaya menyuburkan tanah sebelum benih ditanam. Fokusnya ada pada kualitas ovulasi, kesehatan sperma, dan keseimbangan gaya hidup.
"Promil alami itu mengoptimalkan fungsi alami tubuh. Fokusnya pada nutrisi dan gaya hidup. Banyak kasus infertilitas ringan sebenarnya bisa diperbaiki tanpa intervensi berat jika ditangani sejak awal," jelas perempuan yang hobi running ini.
Namun, tantangan terbesar bukanlah pada teknologi. Melainkan pada keraguan yang kerap menyelimuti hati para pejuang garis dua. Masih banyak yang menganggap bahwa melangkah ke dokter kandungan akan menguras pundi-pundi harta.
Menepis hal itu, dr. Ririen selalu menyisipkan pesan penguat. Bahwa keberanian untuk memeriksakan diri adalah langkah awal dari sebuah keajaiban yang harus diiringi dengan doa.
Menariknya, dr. Ririen melihat Kediri sebagai ladang yang sangat mendukung kesuburan. Kediri yang kondang sebagai Kota Tahu menyediakan sumber protein nabati melimpah lewat tahu dan tempe.
Didukung dengan tanah subur dan hasil sayuran hijau yang segar. Nutrisi bagi para calon ibu sebenarnya sudah tersedia di depan mata.
Ia pun menekankan bahwa perjuangan ini bukanlah orkestrasi tunggal. Peran suami adalah instrumen yang tak terpisahkan.
"Dalam pembuahan, diperlukan sel telur yang bisa dibuahi dan sel sperma yang mampu membuahi. Laki-laki masa kini sudah semakin sadar akan peran penting mereka," tambah dokter yang terkenal ramah tersebut.
Pesan dr. Ririen kepada kaum hawa sangat jelas. Berkaca pada sosok R.A. Kartini, kekuatan sebuah keluarga bermula dari keteguhan hati seorang ibu.
"Jika seorang ibu kuat maka suami akan kuat, anak-anak juga kuat, dan keluarga menjadi kuat. So, be strong," tandas ibu tiga anak tersebut.
Di tangan dr. Ririen, Hari Kartini bukan sekadar kebaya dan seremoni. Ia adalah dedikasi untuk memastikan bahwa setiap perempuan memiliki hak untuk memahami tubuhnya.
Penantian Belasan Tahun Berbuah Manis
Dalam dunia medis yang kerap kaku dengan aroma antiseptik dan deretan mesin canggih, dr. Ririen Indah Perbawati, Sp.OG, memilih jalan yang berbeda.
Baginya, membantu sepasang suami istri menjemput buah hati bukan sekadar urusan teknis di atas meja periksa. Melainkan sebuah diplomasi antara kemajuan teknologi medis dan kearifan alami tubuh manusia.
Seringkali masyarakat terjebak dalam dikotomi. Memilih jalur medis yang sarat intervensi atau jalur alami yang dianggap tradisional.
Namun, di mata dr. Ririen, keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama. Mereka bukan musuh yang saling meniadakan. Melainkan mitra yang saling menyempurnakan.
“Teknologi medis tetap penting untuk diagnosis dan pemantauan. Namun, pendekatan alami digunakan untuk memperbaiki kondisi dasar tubuh,” jelas dr. Ririen.
Ia mengibaratkan proses ini seperti merawat tanaman. Teknologi medis adalah alat untuk mengecek kondisi tanah dan kualitas benih.
Sementara pendekatan alami adalah upaya memberikan pupuk, air, dan sinar matahari yang tepat. “Jadi pasien mendapatkan penanganan yang lebih komprehensif,” tuturnya.
Saat ditanya mengenai kisah mana yang paling membekas di sanubarinya, dr. Ririen terdiam sejenak. Baginya, kata "paling" adalah sebuah ketidakadilan bagi ribuan pejuang lainnya.
Sebab, setiap pasangan yang melangkah masuk ke ruang praktiknya membawa beban rindu yang sama beratnya.
“Tidak ada yang paling berkesan, karena bagi saya, semua pasien program hamil itu amazing,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Ia menyaksikan sendiri bagaimana para pejuang ini datang dengan sisa-sisa harapan setelah bertahun-tahun melewati badai suka dan duka.
Ada pengorbanan jiwa yang terkuras oleh tekanan mental, raga yang letih oleh prosedur, hingga harta yang luruh demi sebuah impian.
Namun, sejarah mencatat sebuah keajaiban yang sulit dilupakan di kliniknya. Nyonya Nur Latifah adalah seorang pasien dengan usia pernikahan mencapai 13 tahun.
Sebuah angka yang bagi sebagian orang mungkin terasa seperti akhir dari harapan datang mengetuk pintunya.
“Alhamdulillah, setelah berjuang sekian lama dan kemudian mengikuti program di sini selama sekitar dua bulan, beliau berhasil hamil,” kenang perempuan yang hobi traveling bersama keluarganya tersebut.
Bagi dr. Ririen, keberhasilan sebuah program hamil alami bukan hanya soal seberapa canggih alat yang digunakan. Melainkan seberapa tangguh mental sang ibu dan seberapa besar dukungan sang suami.
Kediri terkenal subur. Tahu dan sayuran hijau melimpah. Dia percaya bahwa alam telah menyediakan segalanya. Manusia hanya perlu belajar menyelaraskan diri kembali.
Baginya, profesi dokter kandungan hanyalah perantara. Sementara sang pemilik kehidupan tetaplah Tuhan Yang Maha Esa.
Keberanian untuk memulai, ketulusan dalam berusaha, dan kekuatan untuk terus berdoa adalah ramuan utama dalam menjemput sang buah hati. (*/tar)
Editor : Andhika Attar Anindita