JP Radar Kediri - Berbeda dari ruang kerja kepala desa pada umumnya. Ruang kerja Kades Bogem Moh. Samsodin dihiasi oleh berbagai benda antic. Seperti keris, tombak, payung, hingga lukisan-lukisan kuno. Bukan karena unsur magis. Namun, benda-benda tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi.
Pria yang telah menjabat sebagai kepala desa sejak tahun 2013 ini sejatinya tidak memiliki latar belakang pendidikan arkeologi atau sejarah. Dia murni seorang penghobi dan pencinta budaya. Terutama kebudayaan Jawa.
“Saya tidak punya latar belakang itu, tapi saya senang dan hobi nguri-uri (melestarikan, red) budaya saja. Jangan sampai budaya lokal kita hilang,” ungkap Samsodin.
Baca Juga: Pemdes Brenggolo Plosoklaten Kediri Rawat Punden dan Bangun Sumber Lomendrik
Ketertarikannya terhadap benda peninggalan bersejarah sudah muncul sejak kecil. Inisiasi pembuatan museum desa pun lahir dari rasa prihatinnya melihat benda-benda bersejarah yang dulunya tidak terawatt. Bahkan sering kali dijual oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Benda-benda peninggalan tersebut ia kumpulkan kembali semata-mata untuk menjadi bahan edukasi. Samsodin pun aktif memberikan sosialisasi, terutama dalam pertemuan rutin maupun rapat antar-RT.
“Saya selalu edukasikan bahwa Desa Bogem ini punya banyak peninggalan. Jangan sampai warga Bogem sendiri malah tidak tahu sejarah desanya,” ucapnya.
Baca Juga: Strategi Pemdes Gogorante Ngasem Tingkatkan PAD Desa, Kelola Lapangan dan Ruko Desa
Tak hanya mendirikan museum desa, Samsodin juga rutin menggelar acara kirab tumpeng dalam rangka menyambut kemerdekaan. Acara ini melibatkan berbagai sanggar tari warga setempat hingga penampilan kebudayaan dari anak-anak desa.
Tujuannya jelas, yakni menarik minat wisatawan untuk berkunjung, mengingat Desa Bogem tidak memiliki potensi wisata alam. “Kami tidak punya tempat wisata, jadi desa ini berusaha dikenal melalui peninggalan budayanya. Dan, kirab itu setiap tahun ditonton oleh ribuan orang dari luar desa,” jelas Samsodin.
Tradisi kirab tumpeng ini sudah enam kali diselenggarakan. Tumpeng yang diarak bukan tumpeng biasa. Yakni tumpeng raksasa yang membutuhkan lebih dari 40 orang untuk mengangkatnya.
Baca Juga: Pemdes Blimbing Gurah Kediri Gandeng Remaja lewat Voli dan Mengaji
Selama menjabat, Samsodin juga terus berupaya menelusuri sejarah dan tokoh-tokoh penting desa melalui penuturan sesepuh yang kemudian dicocokkan dengan literasi yang ada. Salah satu upayanya adalah mencari tahu silsilah pemimpin desa, mulai dari era yang masih disebut Demang hingga saat ini.
“Saya cari dari keluarganya, kemudian ketemu datanya sekaligus hingga perangkat-perangkatnya dulu. Setiap ada acara, para pendahulu ini kami doakan sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur,” pungkasnya.
Upaya edukasi yang dilakukan Samsodin kini menunjukkan progres yang bagus. Kesadaran warga Bogem meningkat. Salah satu buktinya ketika menemukan benda peninggalan, mereka kini lebih memilih melaporkannya ke pemdes. Daripada menjualnya kepada kolektor luar.
Editor : Andhika Attar Anindita