JP Radar Kediri - Terbiasa membantu orang tua di sawah tak membuatnya minder untuk tampil di panggung pageant. Dara asal Desa Kalipang, Kecamatan Grogol itu justru membuktikan bahwa latar belakang sederhana bukan penghalang untuk berprestasi. Bahkan dia pernah menyabet gelar Best Motif 2 Putra Putri Batik Kabupaten Kediri 2025.
Sejak kecil, dia sudah tertarik dengan dunia modeling dan pageant. Awalnya karena sering melihat kontes kecantikan yang menampilkan sosok perempuan anggun dan percaya diri.
Ketertarikan itu kemudian dia sampaikan kepada orang tuanya. Beruntung Agnes mendapat dukungan penuh untuk mengembangkan bakatnya tersebut.
Perjalanan awalnya tidak langsung mulus. Pada ajang pertama Duta Wisata Kabupaten Kediri, ia belum berhasil menunjukkan hasil maksimal.
Namun kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti mencoba dan justru menjadi pengalaman berharga untuk memperbaiki diri.
Baca Juga: Sosok Lupita Dewi Efendi, Influencer dan Entrepreneur Muda Asal Kota Kediri
"Percobaan pertama masih gagal," jelas anak kedua dari dua bersaudara pasangan Sumardi dan Parti itu.
Setahun kemudian, ia kembali memberanikan diri mengikuti ajang Putra Putri Batik Kabupaten Kediri. Tentunya dengan persiapan yang lebih matang.
“Kalau pesimis pasti ada, tapi saya selalu tanamkan kalau saya sudah berusaha maksimal dan apapun hasilnya itu yang terbaik,” ujarnya.
Selama proses persiapan, Agnes mendapat dukungan dari sekolah serta banyak pihak lainnya. Karena itu, dia menjalani dengan penuh tekad.
Mulai dari persiapan berkas, photoshoot, latihan catwalk, hingga grand final. Semuanya dijalani dengan penuh kesungguhan.
Baca Juga: Mengenal Sosok Jeanette Claurence Jonathan, Galuh Berbakat Kota Kediri 2024
Kemampuan catwalk diasah bersama teman-teman yang memiliki pengalaman di dunia pageant. Sehingga semakin percaya diri saat tampil.
Sementara kemampuan public speaking ia pelajari secara otodidak dengan memanfaatkan pengalaman aktif di kegiatan gereja dan organisasi. Hal itu membuatnya terbiasa berbicara di depan umum.
Meskipun tetap perlu terus diasah agar semakin baik. Dengan bekal latihan keras dan kepercayaan diri, ia berhasil lolos hingga terpilih sebagai salah satu pemenang. "Walau awalnya sempat gak nyangka," akunya.
Di balik aktivitasnya di dunia pageant, Agnes tetap menjalankan keseharian membantu orang tua di sawah sebagai bentuk tanggung jawab.
Baginya, kegiatan tersebut bukan sekadar kewajiban. Melainkan juga menjadi cara sederhana untuk menikmati suasana alam yang menenangkan.
“Di sawah itu seperti healing, bisa lihat alam, orang berinteraksi, itu nikmat Tuhan yang luar biasa,” tuturnya.
Baca Juga: Perjuangan Fincha Amadea Putri di Dunia Modelling, Sempat Tak Dapat Restu Ayahanda
Dia juga tidak malu akan hal itu. Pengalaman hidup yang sederhana itulah yang membentuk karakter Agnes menjadi pribadi yang tetap membumi meski tampil di panggung.
Ia ingin menunjukkan bahwa dunia modeling dan pageant tidak harus membuat seseorang melupakan akar kehidupan dan budaya. Sebagai generasi muda, ia ingin membawa nilai keseimbangan antara modernitas dan tradisi.
Khususnya dalam mengenalkan batik Kediri. Ia juga aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan batik agar lebih dekat dengan generasi muda.
Dia percaya bahwa setiap pengalaman, baik di sawah maupun di panggung, merupakan bagian dari proses menuju masa depan.
“Latar belakang kita bukan penghalang untuk berprestasi, yang penting berani mencoba dan terus berkembang,” tegasnya.
Editor : Andhika Attar Anindita