Tak punya latar belakang dunia pageant tak membuat Jeanette Claurence Jonathan patah semangat.
Gadis kelahiran Batu, 10 Oktober 2006 itu justru menjadikan cibiran sebagai bahan bakar untuk melesat.
Putri pasangan Gandhi Yonathan dan Ferika Krisdiana tersebut memiliki mental baja. Dia menunjukkan bahwa kerja keras mampu menepis keraguan.
Sejak kecil, Jeanette memang akrab dengan panggung. Saat TK hingga SD, dia gemar mengikuti lomba modelling.
Memasuki bangku SMP di SMPN 3 Kediri, minatnya beralih ke tarik suara. Ia sempat les vokal saat SD meski kelas 5 berhenti karena fokus sekolah.
Setelah sempat vakum, dia kembali ingin menggeluti dunia musik saat SMP. Bahkan, dia aktif ikut FLS2N.
Bergabung dengan paduan suara. Hingga berani tampil di ruang publik. Jeanette bahkan menciptakan lagu sendiri dan membawakannya di berbagai kesempatan.
Bersama bandnya, Cemarakustik, dia menerima job wedding, sweet seventeen, hingga manggung di kafe.
“Waktu SMP itu aku sudah pakai uang hasil nyanyi buat uang jajan sendiri,” ujar anak ketiga dari tiga bersaudara itu.
Perjalanan pendidikannya berlanjut di SMAN 3 Kediri. Di sana ia merasa butuh tantangan baru karena merasa stagnan di dunia tarik suara.
Saat melihat pengumuman seleksi Panji Galuh, dia mendaftar tanpa ragu. Namun, langkahnya sempat dipandang sebelah mata.
Bahkan, ada seorang guru yang sempat meremehkannya. Ucapan itu justru menjadi pelecut semangat.
Menariknya, sosok yang disebut-sebut lebih pantas itu justru tidak ikut. Sementara Jeanette lolos seleksi.
Meski sempat pesimis karena merasa tak punya latar belakang di dunia duta, dia menemukan celah dari bakatnya.
Banyak peserta menampilkan lagu populer sambil bermain gitar. Jeanette tampil berbeda dengan membawakan lagu ciptaan sendiri.
Yang sebelumnya juga membawanya menang di FLS2N. Dari panggung itulah dia menyabet gelar Galuh Berbakat Kota Kediri 2024.
Prestasinya tak berhenti di situ. Dia juga menjadi Juara 1 Putri UNESA Kampus 5 Magetan serta menyandang predikat Putri Berbakat UNESA.
Di sela aktivitas akademik di jurusan hukum, Jeanette rutin ikut pelayanan di gereja saat pulang ke Kediri. Ia menjadi penyanyi, gitaris, bahkan pemain bass di band gereja.
“Kita harus ingat bahwa kita hanya punya dua tangan, jadi tidak bisa menutup semua mulut. Tapi kita bisa menutup telinga kita agar kita bisa fokus meraih mimpi,” pesannya bijak.
Editor : Andhika Attar Anindita