Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Eldita Arum Yuniar Fatma, Peraih Best Motif Terbaik 1 Ajang Putri Batik Kabupaten Kediri 2025

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Sabtu, 17 Januari 2026 | 19:21 WIB
Eldita Arum Yuniar Fatma, Peraih Best Motif Terbaik 1 Ajang Putri Batik Kabupaten Kediri 2025 itu dulunya pemalu. Sekarang banyak pencapaian yang berhasil dia raih setelah mendobrak zona nyaman (Asad)
Eldita Arum Yuniar Fatma, Peraih Best Motif Terbaik 1 Ajang Putri Batik Kabupaten Kediri 2025 itu dulunya pemalu. Sekarang banyak pencapaian yang berhasil dia raih setelah mendobrak zona nyaman (Asad)

Rasa minder pernah menjadi tembok besar Eldita Arum Yuniar Fatma. Berbicara di depan umum membuat siswi kelas XII SMAN 1 Kandat itu gemetar. Mikrofon seolah menjadi benda paling menakutkan.

Namun, keberanian untuk keluar dari zona nyaman justru mengantarkannya pada berbagai prestasi. Termasuk terpilih menjadi bagian Putra Putri Batik Kabupaten Kediri 2025. //

Remaja kelahiran Kediri 8 Juni 2007 itu merupakan anak keempat dari empat bersaudara pasangan Edi Susanto dan Titim Fatimah.

Sejak kecil, gadis yang akrab disapa Eldita sebenarnya sudah bersentuhan dengan dunia panggung.

Saat TK, dia kerap tampil menyanyi dan mengikuti drum band. Bahkan, Eldita pernah meraih juara 3 menyanyi solo dan juara 1 Gitapati tingkat kabupaten.

Namun, seiring bertambah usia, rasa percaya dirinya justru sempat menurun.

“Dulu itu malu banget. Kalau pegang mic tangan saya pasti getar,” ungkap Eldita. Rasa takut dinilai orang lain membuatnya sering ragu mengambil kesempatan. Titik balik mulai muncul saat duduk di bangku SD.

Guru melihat potensinya dan menyarankan Eldita mengikuti lomba membaca puisi dan mendongeng.

Meski awalnya merasa tidak mampu, dorongan orang tua membuatnya berani mencoba.

Keputusan itu berbuah manis. Eldita berhasil meraih juara 3 mendongeng tingkat kabupaten dan juara harapan 1 membaca puisi tingkat kabupaten.

Dari situ, dia mulai memahami bahwa keberanian mencoba jauh lebih penting daripada rasa takut gagal.

“Awalnya nggak berani, tapi setelah nyoba malah pengin lagi,” katanya.

Saat SMP, langkahnya sempat tersendat akibat pandemi Covid-19. Banyak ajang lomba yang ditiadakan.

Meski begitu, Eldita tetap mengikuti Lomba Baca Berita (LBB) tingkat kabupaten. Dan berhasil lolos.

Memasuki SMA, keinginannya untuk menunjukkan kemampuan kepada orang tua semakin kuat. Dia kembali aktif mengikuti lomba. Meski tidak semuanya berbuah juara.

Di SMAN 1 Kandat, Eldita meraih juara 2 LBB tingkat kabupaten dan terpilih sebagai Duta Smaneka.

Kepercayaan dirinya semakin terasah. Namun, ujian mental sesungguhnya datang saat ia memberanikan diri mengikuti ajang Putra Putri Batik Kabupaten Kediri 2025.

Ajang tersebut sempat membuat Eldita kembali diliputi rasa minder. Dia sadar betul bahwa para pesaingnya bukan orang sembarangan.

Banyak di antara peserta merupakan langganan ajang pageant.

Bahkan sudah sering menang di berbagai kompetisi serupa. “Waktu itu minder. Soalnya yang lain pengalamannya jauh lebih banyak,” tutur Eldita.

Persiapannya terbilang sangat minim. Dia mengaku sudah mengetahui informasi lomba sekitar sebulan sebelumnya.

Namun baru benar-benar mendapat kepastian dari sekolah empat hari sebelum hari H.

Dalam waktu singkat itu, dia harus mempersiapkan mental, latihan modeling, hingga busana. Dia juga mencoba mengikuti privat modeling kelas intensif selama empat hari.

Dengan persiapan singkat dan rasa minder yang sempat muncul, Eldita mengaku tidak memasang ekspektasi tinggi.

Dia merasa peluang lolos sangat kecil. Namun, dorongan orang tua kembali menjadi penguat mentalnya. “Orang tua selalu bilang, jangan minder duluan sebelum lomba. Percaya diri dulu,” katanya.

Hasilnya di luar dugaan. Eldita berhasil lolos dan menyabet penghargaan Best Motif Terbaik 1 Putri dalam ajang Putra Putri Batik Kabupaten Kediri 2025.

Penilaian tersebut didasarkan pada kesesuaian motif batik yang dikenakan dengan karakter dan penampilan peserta.

Prestasi itu menjadi penanda perubahan besar dalam diri Eldita. Rasa malu perlahan tergantikan oleh kepercayaan diri.

Latihan berbicara di depan umum yang terus dilakukan membuat gemetar di tangannya menghilang. “Latihan terus, lama-lama getarnya hilang sendiri,” akunya.

Kini, Eldita yang bercita-cita menjadi guru itu ingin terus mencoba berbagai kesempatan positif. Dia tak ingin berhenti hanya karena rasa takut atau minder.

“Generasi Muda yang berani mencoba adalah mereka yang sedang menulis masa depannya sendiri,” pungkas Eldita. 

Editor : Andhika Attar Anindita