Menjadi seorang penyiar atau MC (Master of Ceremony) adalah impian yang telah bersemi dalam diri Dyna Wuni Permata sejak lama.
Perempuan berusia 31 tahun ini mengaku, sejak kecil sudah tertarik melihat para presenter di televisi dan radio.
Impian tersebut melekat kuat di ingatannya. Hingga saat dewasa dia semakin yakin menapaki karir tersebut.
Ketertarikan inilah yang membawanya memilih jurusan kuliah yang relevan. Yaitu Komunikasi Penyiaran di UIN Syekh Wasil.
Awal karier Dyna sebagai MC bermula sekitar tahun 2013. Kala itu, dia masih menjalani masa kuliah.
Di jurusannya, dia aktif di studio radio dan TV. Berlatih sebagai presenter. Kesempatan emas datang ketika seorang senior di radio luar kampus mengajaknya menggantikan posisi MC.
Dari sana, tawaran kerja mulai berdatangan. Dyna mengenang, job pertama yang benar-benar dibayar dan berkesan baginya.
Yakni saat dia memandu acara peletakan batu pertama pembangunan sebuah gedung di Kecamatan Puncu.
“Kalau sebelumnya ya cuma event kecil-kecil (di lingkungan tempat tinggal) dengan bayaran nasi kotak,” ungkap ibu tiga anak tersebut sambil tersenyum.
Sejak saat itu, kariernya terus menanjak. Membawanya berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk memandu berbagai acara.
Namun, karir Dyna tentu tidak luput dari pasang surut. Masa sulit datang saat pandemi Covid-19 melanda.
Event sepi. Bahkan sama sekali tidak ada. Membuat pekerjaannya terhenti. Di masa yang sama, dia juga sedang hamil anak pertama.
Sebuah momen yang tidak jarang membuatnya ditolak klien. “Jadi ibu baru kan ada penurunan fisik. Seperti jadi lebih gendut dan lain-lain yang bikin gak pede,” jelasnya.
Untuk menjaga tabungannya agar tidak habis di masa sepi event, Dyna berinisiatif mencari peluang lain.
Dia menggunakan sisa tabungannya untuk memulai bisnis pakaian. Berbagai produk dan merek dicoba.
Bahkan sempat mengalami kerugian dan tak balik modal. Namun, dia terus berusaha hingga bisnisnya berkembang. Bahkan kini dia mampu merekrut karyawan.
Saat ini, Dyna telah kembali aktif sebagai MC. Sebagai ibu dari tiga putri, dia dituntut untuk lihai membagi waktu antara pekerjaan dan perannya di rumah.
Dia memiliki prinsip kuat untuk tetap berkarir. Mengingat kecintaannya pada pekerjaan telah ada sejak kecil.
“Ya harus tega meninggalkan mereka untuk kerja. Karena berkarir kan juga untuk jaga kewarasan dan refresh pikiran. Mereka (anak-anak) aku percayakan dengan keluarga,” ungkapnya.
Jika dulu dia pernah mengambil job luar pulau hingga berhari-hari, kini Dyna lebih membatasi diri. Dalam sehari, dia bisa mengisi 2-3 event.
Namun berusaha membatasi lokasi yang terlalu jauh atau memakan waktu hingga berhari-hari demi anak-anak.
Dyna bercerita pernah ada momen ketiga putrinya protes bahkan menangis saat dia berangkat bekerja. Untuk mengatasinya, ia memilih metode pendekatan yang jujur dengan sering mengobrol.
“Aku kasih pengertian, Bunda kerja biar punya uang, kan katanya kamu mau beli ini-itu,” jelasnya. Metode komunikasi terbuka ini membuat anak-anaknya perlahan mengerti.
Baginya, semua pengalaman kerja berkesan. Baik event kecil maupun besar. Karena ia selalu menghargai setiap acara.
Editor : Andhika Attar Anindita