Kediri, JP Radar Kediri—Di balik senyum ramah seorang guru taman kanak-kanak bernama Magdalena Ernawati, tersimpan kisah ketekunan dan semangat pantang menyerah.
Setiap pagi buta, sebelum matahari menampakkan sinarnya, Magdalena sudah bersiap di lapak ayam potong miliknya di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Ia bukan hanya seorang pendidik yang sabar mendidik anak-anak usia dini, tetapi juga seorang pengusaha tangguh yang membangun usahanya dari nol.
Perempuan kelahiran 1986 itu telah menjalani rutinitas ganda selama lebih dari satu dekade. Pagi-pagi buta ia sibuk melayani pembeli ayam potong, sementara siang harinya ia berdiri di depan kelas mengajar anak-anak Taman Kanak-Kanak.
Dalam satu hari, Magdalena bisa menjalani peran sebagai pedagang, guru, ibu rumah tangga, sekaligus manajer usaha kecil menengah (UMKM). Semua dilakukannya dengan tekad kuat dan niat tulus untuk membantu perekonomian keluarga.
Kisahnya bermula pada tahun 2011, ketika sang suami—yang sejak lama bekerja di bidang perunggasan—mengajak dirinya untuk ikut membantu menjual ayam broiler hidup. Awalnya, Magdalena menganggap kegiatan itu hanya pekerjaan sambilan. Namun, hasilnya yang lumayan membuatnya mulai menaruh perhatian lebih serius.
“Dulu cuma bantu suami. Sekarang sudah punya pelanggan tetap dari hajatan, warung, sampai kafe,” ujarnya tersenyum bahagia.
Dari lapak kecil di pinggir jalan, kini usahanya telah berkembang menjadi “Ayam Potong Fresh Bu Magdalena”, penyedia ayam potong segar dan ayam broiler hidup dengan kualitas terjamin dan harga terjangkau. Dalam sehari, ia dan suaminya bisa melayani pesanan hingga 150 kilogram ayam, terutama saat musim hajatan atau menjelang hari raya.
Produknya dikenal karena kesegaran dan kebersihan yang selalu dijaga. Ayam dipotong setiap hari, dibersihkan dengan higienis, dan segera dikirim ke pelanggan. Magdalena percaya, menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan adalah kunci utama agar usaha bertahan lama.
Antara papan tulis dan lapak dagang. Selain berwirausaha, Magdalena tetap menjalankan tugasnya sebagai guru di TK Dharmawanita Asmorobangun 2 Puncu, tempat ia mengajar sejak tahun 2005. Kecintaannya terhadap dunia pendidikan membuatnya tidak rela meninggalkan profesi tersebut meskipun usahanya sudah mulai berkembang.
Setiap hari, pukul 05.00 WIB pagi, ia sudah bersiap di lapak ayam. Ia melayani pelanggan yang datang pagi-pagi, menimbang daging, membungkus pesanan, dan mencatat pembeli yang ingin pesan untuk hajatan. Pukul 07.00 WIB pagi, ia bergantian dengan suaminya untuk menjaga lapak, lalu bergegas mengantar anaknya sekolah dan berangkat mengajar.
Jarak rumah ke sekolah ditempuh sekitar 15 menit. Setelah mengajar hingga siang, ia menjemput anaknya pulang, lalu kembali membantu suaminya di lapak hingga sore hari. Meski padat, rutinitas itu dijalani dengan penuh keikhlasan.
“Capek pasti. Tapi saya senang bisa bantu suami dan tetap ngajar anak-anak. Rasanya bahagia kalau dua-duanya bisa jalan,” ujarnya sambil tersenyum.
Tantangan yang tidak sedikit. Di balik keberhasilan yang tampak hari ini, perjalanan Magdalena tidak selalu mulus. Ia pernah mengalami masa-masa sulit, seperti ketika dagangannya tidak laku sama sekali. “Pernah bawa 25 ekor ayam, yang laku cuma lima. Sisanya dibawa pulang lagi,” kenangnya.
Selain itu, saat pandemi COVID-19 melanda, ia terpaksa berhenti jualan sementara karena pembatasan kegiatan masyarakat. Kondisi ekonomi keluarga pun ikut menurun. Namun, bukannya menyerah, Magdalena justru mencari cara baru agar tetap bisa berjualan tanpa melanggar aturan. Ia mulai memanfaatkan media sosial, seperti Facebook dan grup WhatsApp, untuk memasarkan produknya. Strategi ini membawa perubahan besar.
Kini, pelanggan Magdalena datang dari berbagai wilayah—mulai dari Puncu, Badas, Pare, hingga Kediri kota. Ia pun sering mendapat pesanan dalam jumlah besar untuk acara hajatan dan rumah makan.
Untuk menjaga loyalitas pelanggan, Magdalena juga menawarkan promo menarik: pembelian 10 kg ayam dapat bonus setengah kg, atau potongan harga setara. Untuk pembelian di atas 25 kg, pelanggan bisa menikmati gratis ongkir hingga luar kota Kediri.
Belajar dari kegagalan, sebelum menemukan keberhasilan di usaha ayam potong, Magdalena sempat mencoba berbagai jenis usaha. Ia pernah menekuni budidaya jamur tiram, tetapi usaha itu harus tutup karena permintaan pasar tidak stabil. Ia juga pernah mencoba ternak bebek, namun dihentikan karena baunya menimbulkan protes dari warga sekitar.
Meski dua kali gagal, Magdalena tidak putus asa. “Setiap kegagalan pasti ada pelajaran. Saya jadi tahu mana usaha yang cocok di lingkungan saya,” ujarnya. Dari pengalaman itu, ia belajar pentingnya menyesuaikan usaha dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi sekitar.
Kini, bersama dua karyawannya, Magdalena dan suami mampu menjaga produksi dan distribusi tetap lancar. Ia juga tengah mengurus izin industri rumah tangga (IRT) agar usahanya lebih profesional dan mendapat pengakuan resmi dari pemerintah desa.
Kehidupan yang sederhana, semangat yang luar biasa. Di usia 39 tahun, Magdalena menjalani hidup sederhana bersama suami dan anak laki-lakinya yang kini duduk di bangku kelas 2 SD. Ia selalu menanamkan nilai kerja keras dan kejujuran kepada anaknya. Bagi Magdalena, kesuksesan bukan hanya tentang penghasilan, tetapi tentang ketekunan dan rasa syukur dalam menjalani setiap proses.
“Yang penting jalan terus. Rezeki itu nggak akan salah alamat,” katanya dengan mata berbinar.
Meski pendapatannya kini stabil, Magdalena tetap rendah hati. Ia masih menggunakan lapak sederhana dan mengutamakan hubungan baik dengan pelanggan. Setiap pelanggan disambut dengan ramah, bahkan banyak yang sudah mengenalnya secara pribadi. “Kalau orang beli, bukan cuma transaksi, tapi juga silaturahmi,” ujarnya.
Ketekunan Magdalena menjadi contoh nyata bagi masyarakat di sekitarnya. Banyak ibu rumah tangga di Puncu yang mulai mengikuti jejaknya untuk membuka usaha kecil sendiri. Magdalena sering memberikan saran kepada mereka tentang cara menjaga kualitas produk, melayani pelanggan, hingga mengatur waktu antara keluarga dan pekerjaan.
Dalam pandangannya, perempuan tidak harus memilih antara bekerja atau mengurus rumah tangga. Keduanya bisa dijalani jika dilakukan dengan niat baik dan manajemen waktu yang seimbang. “Asal ada kemauan dan niat tulus, semua bisa dijalani,” tuturnya.
Kini, nama “Ayam Potong Fresh Bu Magdalena” bukan sekadar merek dagang, melainkan simbol dari semangat, kerja keras, dan dedikasi seorang perempuan sederhana dari Puncu. Dari lapak kecil di pinggir jalan, lahir kisah inspiratif tentang ketulusan, keberanian, dan keteguhan hati untuk bangkit dari kesulitan.
Ditulis Leha Sari, Mahasiswa prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya.
Editor : Shinta Nurma Ababil