Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Brigadir Polisi Aderay Putra Perdana, Anggota Polres Kediri Kota yang Jalani Misi Perdamaian PBB

Emilia Susanti • Jumat, 28 November 2025 | 20:28 WIB
Aderay Putra Perdana
Aderay Putra Perdana

KEDIRI, JP Radar Kediri - Rabu, 19 November 2025, menjadi hari pertama Brigadir Polisi (Brigpol) Aderay Putra Perdana bertugas lagi di Polres Kediri Kota. Kala itu, dia sudah mengenakan kembali seragam lamanya. Bukan lagi seragam yang dilengkapi dengan berbagai pengamanan diri seperti foto yang dia tunjukkan. Foto yang menunjukkan dirinya tengah memakai rompi taktis. Pakaian yang biasa dipakai personel dalam operasi lapangan. Rompi itu dilengkapi beberapa kantong untuk menyimpan amunisi, peralatan medis, dan lainnya.

Setahun ke belakang, pria yang akrab disapa Putra ini memang absen dari tugasnya di Polres Kediri Kota. Bukan karena mangkir, melainkan untuk mengemban tugas yang lebih besar. Yaitu ikut serta dalam misi perdamaian Persatuan Bangsa-bangsa (PBB) di Afrika Tengah.

"Saya berangkat 10 Oktober 2024," kata Putra yang masih mengingat dengan jelas saat-saat itu.

Ditemani secangkir kopi hitam, dia pun menceritakan pengalamannya saat mengemban tugas tersebut. Dimulai ketika masih berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda). Dia mengatakan salah seorang kerabatnya pernah bergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB. Dari situ, dirinya mulai tertarik.

"Kayak unik gitu," ujarnya.

Hanya saja, dia harus bersabar untuk mewujudkan mimpinya itu. Pasalnya, salah satu syaratnya kala itu adalah harus berpangkat minimal Brigadir Polisi Satu (Briptu). Sementara dirinya masih bripda.

"Untuk bisa daftar saya harus nunggu delapan tahun," ceritanya dengan sesekali menyeruput kopi hitamnya.

Untungnya, Putra berhasil mengikuti tahapan seleksi untuk bisa bergabung dalam Pasukan Perdamaian PBB angkatan keenam. Mulai dari lolos tahap administrasi, tes fisik, menembak, bahasa, dan sebagainya. Hingga akhirnya, dia pun menjadi salah satu dari 140 personel yang akan diberangkatkan ke Afrika Tengah.

"Di sana saya tinggal di Ibu kota Afrika Tengah, di Bangui," lanjut pria berusia 29 tahun ini.

Sesampainya di sana, dia mengaku culture shock. Khususnya terhadap cuaca. Menurutnya, cuaca di Afrika Tengah mencapai 39 - 41 derajat celcius. Tentu saja ini sangat panas bagi masyarakat Indonesia yang biasa merasakan suhu sekitar 26 - 28 derajat celcius.

Selain itu, suasana di ibu kota tidaklah seperti yang ada di Jakarta. Baginya, keramaian di Bangui tak ubahnya seperti Kota Kediri. Di sisi lain, situasi di Bangui menurutnya tidak lebih kondusif dibandingkan Kota Tahu. Misalnya saja masih ada beberapa persimpangan yang tidak dilengkapi dengan traffict light.

"Kalau kegiatan rutin ya patroli, ada sosialisasi terkait sexual harassment kepada wanita dan anak-anak, kemudian ada juga kegiatan pengawalan tamu negara, dan ada banyak lagi," ujar pria yang saat ini bertugas di bagian Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Kediri Kota.

Selain itu, dirinya juga turut membantu kegiatan pendistribusian air bersih. Saat menceritakannya, Putra seperti terdiam beberapa detik. Lalu saat melanjutkan ceritanya lagi, momen itu menjadi salah satu pengalaman yang berkesan baginya.

"Itu sudah seperti happines in another level. Di sana antrean air bersih bisa sampai puluhan orang, ada yang bawa ember, jeriken. Ada ibu-ibu, anak kecil, bapak-bapak," kenangnya sembari menyebut situasi tersebut masih terjadi di wilayah ibu kota.

Beruntungnya, apa yang dialami oleh warga di sana tidak dialami oleh dirinya. Menurutnya, kebutuhan makanan maupun air bersih masih tercukupi selama dirinya mengemban misi tersebut. Tinggal di tempat yang disebutnya dengan camp, Putra mengaku masih bisa merasakan menu makanan Indonesia.

"Ya sayur bayam, sup, dan menu-menu lainnya. Cuma ya rasanya nggak kayak di Indonesia," jelasnya sembari menyebut tempat tinggalnya sudah dilengakapi air conditioner (AC).

Namun demikian, dia mengaku bahwa jaringan internet di Afrika Tengah sangatlah sulit. Karenanya, dia tidak bisa melakukan banyak komunikasi dengan keluarganya. Baik dengan orang tuanya maupun istrinya.

"Tetapi dari awal (saat mendaftar, Red) memang udah dapat izin dari orang tua dan istri," tekannya sembari menyebut pengalamannya ke Afrika Tengah merupakan pengalaman pertamanya ke luar negeri.

Menurutnya, total penugasannya di Afrika Selatan berlangsung tepat selama satu tahun. Pada 10 Oktober 2025, Pasukan Perdamaian PBB angkatan keenam pulang. Lalu pasukan sampai di Tanah Air pada 12 Oktber 2025.

Meski sudah pulang, Putra mengaku tak langsung kembali ke rumah. Melainkan harus terlebih dahulu mengikuti semacam karantina selama kurang lebih dua minggu. Pasalnya, para pasukan memerlukan penyesuaian psikologis lagi. Ya meskipun Putra sendiri mengaku tak mengalami perubahan apapun.

"Tapi setiap ketemu orang, misalnya tadi, pastinya bilangnya, beda ya," katanya menceritakan kesan rekan-rekannya saat melihatnya untuk pertamakali usai menjalani misi perdamaian.

Entah apapun perubahan yang terjadi, dia menyadari ada banyak pelajaran penting yang didapatkannya selama menjalani misi tersebut. Tidak lain adalah memperbanyak syukur.

"Lebih banyak bersyukur, karena ternyata memang di belahan bumi bagian yang tidak dipikirkan orang, itu, jangankan kita mau nyari yang aneh-aneh, yang apalah. Buat minum aja susah. Buat mandi aja susah. Buat masak aja susah. Banyak-banyak bersyukurlah," tandasnya.

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : Shinta Nurma Ababil
#kediri #sosok inspiratif #brigadir polisi #polisi #Aderay Putra Perdana #kota kediri