Ya, Minggu (2/11) pagi, para relawan itu memimpin anak-anak senam di taman yang jadi jujukan masyarakat tersebut. Sebelum masuk pada agenda utama penampilan dongeng, anak-anak diajak rileks lebih dulu.
Senam yang sedianya merupakan olah tubuh itu menjadi meriah karena kostum-kostum unik yang digunakan anak-anak. Memakai baju dari limbah plastik dan kardus bekas, kostum mereka penuh warna.
Ada yang berbentuk gaun hingga menyentuh mata kaki. Ada pula berbentuk rompi dan perisai. Beberapa tulisan seperti ‘jaga bumi’ dan ‘sampah di mana-mana, bumi merana’ turut menghiasi atribut yang mereka kenakan.
“Yang namanya kampung dongeng, isinya ya mendongeng. Jadi sebenarnya kami ini pemandu wisata imajinasi,” ujar Koordinator Komunitas Kampung Dongeng Kediri Ulya tentang aktivitas mereka.
Dibentuk sejak 2018 lalu, komunitas ini aktif bergerak di bidang literasi. Mendongeng di depan anak-anak pun sudah menjadi rutinitas mereka. Tak sekadar mendongeng, mereka punya misi khusus menyebarkan wawasan peduli lingkungan kepada anak-anak.
“Sudah mulai dua tahun terakhir kami ingin fokus di ekologi. Jadi tidak lagi sekadar isu-isu seperti bullying dan lainnya, itu sudah biasa. Kalau kami kemarin kesepakatan dengan teman-teman relawan, ayo kita konsen di ekologinya,” beber perempuan asal Kelurahan/Kecamatan Mojoroto itu.
Perubahan haluan itu tak lepas dari keprihatinannya akan kondisi bumi saat ini. Yakni, timbulan sampah yang tak terkontrol, hingga ancaman kerusakan sumber air akibat sampah yang tidak dikelola dengan baik. Dan, anak-anak menjadi sasaran utama edukasi lewat dongeng itu dengan harapan mereka bisa menjadi agen perubahan di masa depan.
Diakui perempuan berusia 45 tahun itu, isu lingkungan akan terdengar ‘berat’ bagi anak-anak. Karenanya, dia menyiasati itu dengan menciptakan metode komunikasi yang menyenangkan. Sehingga bahasa-bahasa ‘orang dewasa’ itupun bisa terdengar sederhana dan masuk akal di telinga anak-anak.
“Misalnya edukasi tentang pembuatan kompos. Kompos itu kan biasanya skala besar pakai komposter dan sebagainya. Kalau kami, kami ajarkan kompos mini dengan toples,” beber Ulya.
Selain itu, penampilan yang interaktif juga dibutuhkan. Anak-anak harus diajak bergerak bersama untuk menarik perhatian mereka. Oleh karena itu, sebelum dongeng dimulai, anak-anak selalu diajak senam bersama.
Termasuk mengajak anak aktif berkarya. Sebagai bentuk penegasan kampanye lingkungan hidup yang mereka gaungkan, seluruh properti dongeng dibuat dari bahan daur ulang. Seperti wayang-wayang dengan karakter beragam yang dibuat dari kertas bekas.
“Dari awal kami selalu mengangkat konsep recycle. Jadi memang memilih lebih ribet. Dalam arti harus menyiapkan botol-botol bekas untuk buat properti cumi-cumi, misalnya. Jadi berkaryanya karya simpel, tapi tetap recycle dan ramah anak,” sambungnya.
Para relawan di komunitas ini pun berasal dari berbagai latar belakang. Ada yang mahasiswa, ada pula dari kalangan guru. Mereka punya satu hobi dan visi yang sama. Yakni, meningkatkan wawasan literasi dan cinta lingkungan kepada generasi muda. Khususnya anak-anak.
“Biasanya kami adakan acara dongeng ini untuk umum. Tempatnya juga pindah-pindah,” ungkapnya sembari menyebut penampilan dongeng mereka gelar di ruang-ruang publik seperti taman kota hingga ke sekolah-sekolah.
Bagi Ulya, mendongeng sudah bagian dari hidupnya. Dia lahir dari orang tua yang juga seorang seniman teater. Sejak kecil, dia sudah dekat dengan dunia literasi dan aktif mengajak banyak orang untuk ikut mencintai literasi.
Jam terbang yang tinggi itu tak serta merta membuat langkahnya bebas hambatan sejak awal. Dia mengenang saat dulu sering dicueki oleh anak-anak ketika sedang mendongeng.
Situasi itu belakangan jadi bahan evaluasi untuk bisa merumuskan pola komunikasi yang bisa lebih diterima oleh anak. “Jadi kami asyik cerita, mereka asyik ngobrol sendiri. Saat itu akhirnya aku mikir ‘apa yang aku sampaikan ini, kira-kira nggak mengenanya itu di apanya?’. Akhirnya kan learning by doing itu tadi. Oh, ternyata anak-anak sukanya di sini, ya sudah gitu terus,” beber perempuan berhijab itu.
Ulya berkelakar dengan menyebutnya sebagai ‘The power of kepepet’. Sampai saat ini, pembacaan dongeng yang dilakukannya justru lebih banyak memuat improvisasi. Tidak lagi membawakan cerita-cerita rakyat atau dongeng tersohor. Melainkan cerita-cerita improvisasi, namun tetap tak melenceng dari isu utama yang diangkat.
“Kadang saya tanya, ‘mau cerita yang senang atau seram dulu?’. Terus biasanya anak-anak minta cerita yang serem-serem dulu,” ujarnya sembari menunjukkan salah satu properti dongengnya. Sebuah wayang berbentuk hantu.
Alat peraga wayang dengan tokoh-tokoh yang beragam itu menjadi salah satu properti andalan Komunitas Kampung Dongeng Kediri saat mendongeng. Ulya bersyukur properti yang jadi kegemaran anak-anak itu sukses memikat mereka.
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Shinta Nurma Ababil