Mohamad Sultoni sudah akrab dengan dunia olahraga sejak kecil. Jika di awal dia ingin jadi pemain bola profesional hingga konsultan olahraga, kini dia nyaman menjadi masseur atau terapis pijat kepercayaan Macan Putih.
Setelah para pemain Persik selesai berlatih, idealnya semua mulai bersantai. Namun, tidak demikian dengan Sultoni. Pria yang akrab disapa Toni itu justru semakin sibuk.
Dia berjalan mondar-mandir mendatangi pemain sembari menggenggam botol berisi minyak zaitun.
“Biasanya juga sambil bawa krim pemanas,” aku pria bertubuh kurus itu saat ditanya isi botol yang dibawanya pada Senin (22/9) lalu.
Ya, Toni memang masseur atau terapis pijat di Persik Kediri. Dia pertamakali bergabung kala skuad Macan Putih naik kasta ke Liga 1. Tepatnya pada 2020 silam.
Menjadi bagian dari Macan Putih memang impiannya sejak kecil. “Tapi dulu pengennya jadi pemain,” seloroh Toni saat ditemui di Kediri Soccer Field, tempat latihan Persik Kediri.
Meski angan-angannya mbleset, Toni mengaku tetap senang. Bahkan dia rela melakukan apa saja demi tim kebanggaannya itu.
Tak terkecuali saat diminta untuk memberikan pijat terapis di luar jam latihan. “Saya juga nggak memikirkan berapa yang saya terima (gaji, Red),” akunya saking senangnya saat pertama kali diterima menjadi masseur Macan Putih.
Menjadi bagian dari Persik tak ubahnya mimpi yang terwujud. Sulung dari dua bersaudara itu sangat menyukai dunia olahraga sejak kecil.
Saat masih duduk di bangku sekolah dasar (SD), dia pernah mengikuti sekolah sepak bola (SSB) yang dulu bernama Kediri Putra.
Kecintaannya terhadap olahraga berlanjut saat dia masuk kuliah. Pada 2007 silam, Toni mengambil jurusan Pendidikan Olahraga di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Saat itu pula dia mulai mengenal sport massage. “Dulu sport massage memang dipelajari. Selama dua semester,” tambah pria yang pernah bekerja sebagai guru di SD Manisrenggo, Kota Kediri itu.
Sebelum berlabuh ke Persik, dia harus melakoni banyak pekerjaan. Misalnya, Toni sempat menjalani profesi sebagai pendidik selama tiga tahun.
Setelah dia lulus kuliah, Toni memilih tidak lagi mengajar. Lulus pada 2011 silam, dia langsung mengambil lisensi wasit C3.
Kini dia juga sudah terdaftar sebagai wasit di Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) Kediri.
Dengan lisensi itu, dia juga disibukkan dengan aktivitas menjadi pengadil lapangan di tingkat kabupaten atau kota.
Di sela-sela dua aktivitas utamanya itu, Toni masih membuka jasa sebagai pelatih renang privat hingga pernah melatih atlet atletik Kota Tahu.
“Kurang lebih saya tiga tahunan terus saya tinggal ke bola,” lanjutnya tentang aktivitas yang dilakoninya hingga 2014 silam itu.
Selanjutnya, pada 2016 Toni merapat ke PSBI Blitar. Tim yang kala itu berlaga di Liga 2. Di sana, dia membantu tim untuk meningkatkan kondisi fisik pemain sekaligus masseur tim. Kurang lebih selama dua tahun.
“Terus 2018 saya pernah ada tawaran di Persebaya. Sudah ngobrol dengan Pak Ram, itu sekretaris waktu itu. Tapi seiring berjalannya waktu, nggak jadi,” cerita pria yang memiliki sertifikat masseur level 1.
Tawaran untuk memijat terus berdatangan. Lepas dari Persebaya, dia mendapat tawaran dari Persita Tangerang.
Hanya saja, kebersamaannya bersama tim berjuluk Pendekar Cisadane itu tidak berlangsung lama.
Yaitu hanya setengah musim saja lantaran ada sebuah ‘musibah’ yang tak bisa diceritakannya.
“Saya resign. Dan terus Persik Kediri naik Liga 1, saya masuk,” kenang pria yang tinggal di Kelurahan Pakunden, Pesantren.
Dengan perjalanan panjangnya itu, Toni mengaku akan melakukan apa saja demi Persik Kediri. Dia pun mengklaim dirinya dekat dengan para pemain Macan Putih.
Sampai-sampai dia kesulitan saat diminta menyebutkan nama pemain yang paling berkesan baginya. “Saya dekat dengan semua,” elaknya.
Kedekatan dengan pemain jadi kunci kesuksesannya sebagai terapis. Sebab, dia bisa leluasa mengobrol.
Termasuk saat pemain merasakan keluhan setelah berlatih atau bertanding. Sikap terbuka pemain memudahkan dirinya dalam melakukan penanganan.
Dengan pengalaman panjangnya di Persik, kini Toni juga membuka praktik pijat di rumahnya. Siapapun oleh datang untuk dipijat.
Syaratnya kedatangan mereka tidak berbarengan dengan jadwal Persik Kediri. “Saya tidak memasang tarif untuk pelanggan,” tandas pria yang ingin jadi konsultan olahraga itu sembari mengaku senang bisa membantu sesama.
Editor : Andhika Attar Anindita