KOTA, JP Radar Kediri - Dia ada di barisan terdepan saat bicara tentang orang terlantar dan ODGJ di Kota Kediri. Di balik kesibukannya sebagai kepala Seksi Rehabilitasi Sosial (Kasi Rehsos) Dinas Sosial Kota Kediri, Sumarni yang juga atlet voli kawakan itu tetap meluangkan waktu melatih ratusan anak muda.
Sebuah meja di ruangan Seksi Rehabilitasi Sosial (Rehsos) Dinas Sosial Kota Kediri, yang merupakan ruang kerja Sumarni, penuh dengan tumpukan berkas-berkas. Beberapa merupakan dokumen hasil asesmen maupun rehabilitasi warga tuna susila hingga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) telantar.
Di antara tumpukan berkas itu, ada sebuah foto yang terselip di lapisan kaca mejanya. Potret seorang anak perempuan, yang tak lain anak Sumarni, saat tengah berlaga dengan Gresik Petrokimia di kompetisi Livoli Divisi Utama.
Kecintaan Sumarni dengan bola voli memang menurun ke tiga anaknya. Terutama sang bungsu yang masih menggeluti olahraga beregu dengan anggota enam orang itu. Meski sudah puluhan tahun menjadi aparatur sipil negara (ASN) Pemkot Kediri, perempuan yang akrab disapa Marni itu tetap mendedikasikan hidupnya untuk voli.
Hingga kini perempuan berusia 58 tahun itu menjadi pembina sekaligus pelatih voli untuk klub yang didirikannya bersama rekan-rekannya. Adalah Klub Forsa, yang jadi bukti kecintaannya pada voli. Klub yang berdiri sejak 1992 silam itu digagas bersama teman-temannya sesama pecinta voli.
“Saya sejak SD memang sudah suka olahraga,” aku ASN yang menjabat kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Kediri itu.
Sejak kecil pun, Sumarni gemar bermain permainan yang identik dengan laki-laki. Seperti layangan, paton atau gasing kayu, hingga sepak bola. Hingga suatu ketika, perempuan asal Desa Doko, Kecamatan Ngasem itu mulai ikut-ikut bermain bola voli yang digelar di desanya. Ketertarikannya dengan olahraga asal Amerika Serikat itupun mulai tumbuh.
“Akhirnya untuk pertama kali ikut latihan voli di (kantor pemerintahan) kabupaten. Saya sama teman-teman daftar. Dari situ mulai latihan terus dan mulai aktif itu waktu kelas 1 SMP,” kenang mantan spiker atau pemain penyerang itu.
Karirnya sebagai pemain voli itu terus beriringan dengan pendidikannya. Hingga saat dia memutuskan mengikuti tes calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada 1987 silam. Selama itu pula, berbagai kompetisi antarklub hingga antardaerah tetap diikutinya. Mulai dari pekan olahraga desa (pordes), pertandingan tingkat amatir (tarkam), hingga kejuaraan daerah (kejurda) tingkat provinsi. Bahkan hingga resmi diangkat sebagai PNS pada 1991 lalu, berbagai pertandingan tetap dia ikuti. Sebelum kemudian mulai meninggalkan panggung voli pada 2004 lalu.
“Saya mulai berhenti ikut kompetisi itu waktu setelah melahirkan anak ketiga,” beber ibu tiga anak itu.
Kebetulan, sang suami, Hadi Purnomo, juga seorang atlet voli. Di masa jayanya sebagai atlet, rutinitasnya sebagai PNS sekaligus ibu rumah tangga tetap bisa berjalan beriringan. Beruntung, kompetisi voli lebih sering digelar di sore hingga malam hari. Atau, di luar jam kerja sebagai PNS. Di setiap pertandingan pun, tak jarang Marni dan suami turut memboyong anak-anak.
“Waktu anak masih dua, saya ingat suami main di Mojokerto. Saya main di Caruban. Akhirnya anak saya yang mbarep (sulung) ikut diajak bapaknya. Terus yang kecil yang perempuan ikut saya ke Caruban. Jadi bagi tugas juga,” kenangnya sambil tersenyum.
Di usianya yang sudah memasuki kepala lima itu, Marni masih aktif menjadi pembina sekaligus pelatih untuk klubnya. Sebuah halaman di belakang rumahnya menjadi lokasi anak-anak dari usia SD hingga SMA berlatih setiap hari. Sedikitnya ada 125 anggota klub yang rutin berlatih mulai pukul 16.00 – 20.00 selama enam hari dalam seminggu.
Praktis, dia harus membagi waktu secara disiplin. Pada pagi sampai sore hari bergulat dengan tugas-tugas sebagai kasi rehsos. Termasuk menangani gelandangan, pengemis, tuna susila, ODGJ terlantar, hingga wanita rawan sosial ekonomi (WRSE), atau merujuk ke panti rehabilitasi maupun rumah sakit jiwa ke luar daerah. Adapun sore hingga malam hari ganti melatih voli.
“Sebenarnya capek pasti ada. Kadang capek habis mengantarkan ke panti rehab, terus lihat anak-anak itu semangat latihan, rasanya hilang capeknya. Kadang juga saya masih seragaman (lihat latihan),” akunya.
Sebagai kasi rehsos, Marni memang berada di barisan terdepan saat penanganan orang terlantar dan ODGJ. Tahun ini menjadi tahun keenamnya bergelut di bidang itu. Setelah sebelumnya berdinas di Bappeda Kota Kediri selama 30 tahun lamanya.
“Pernah (saat penanganan ODGJ terlantar, Red) sampai ditonjok wajah saya, di-grujuk air teh, didorong sampai mau dibuang ke tol juga pernah,” ungkapnya sembari menyebut, menangani ODGJ di fase aktif termasuk salah satu tantangan bagi petugas dinsos.
Dengan risiko dan tantangan pekerjaan yang besar itu, voli seolah menjadi hiburannya. Sekaligus ladang ibadah dengan menyalurkan ilmunya untuk anak-anak. Pun menggratiskan biaya bagi anak-anak di awal klub berdiri dulu.
PNS yang akan memasuki masa purna-tugas Desember 2025 mendatang itu pun sudah memantapkan diri untuk terus menjadi pelatih voli di usia senjanya. “Prinsip saya, anak-anak ini tetap harus memprioritaskan pendidikannya sembari memupuk prestasi di voli. Jadi jangan sampai voli mengorbankan pendidikan. Tetapi harus berjalan beriringan,” tandasnya sembari berharap semakin banyak anak-anak didikannya yang bisa mengikuti kompetisi hingga ajang yang tertinggi.
Salah satu kebahagiaan terbesarnya adalah saat anak didiknya mampu menjuarai ajang voli yang diikutinya. Melatih dengan sepenuh hati. Melatih dengan happy jadi salah satu resepnya. (ut)
Untuk mendapatkan berita- berita terkini Jawa Pos Radar Kediri , silakan bergabung di saluran WhatsApp " Radar Kediri ". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel
Editor : Anwar Bahar Basalamah