HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Ruangan itu kecil saja, hanya berukuran 2x3 meter. Berada di depan rumah tinggal serta garasi pemiliknya. Lokasinya berada di dalam gang. Persisnya di Gang 4 Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto.
Bagian depan ruangan itu dari kaca berwarna gelap, yang orang biasa menyebutnya sebagai kaca riben. Lengkap dengan stiker besar bergambar sesosok pria yang sedang bekerja dengan mesin jahit.
Bagian bawah stiker itu bertuliskan ‘Jas Tailor Kediri’. Sedangkan bagian atasnya, memayungi sosok dalam gambar, tertulis ‘Tailor Suit with Best Quality’.
Di dalam ruangan ada lelaki berkaos oblong berwarna putih berpadu celana jeans hitam. Tangannya sibuk dengan gawai. Sepintas, sosoknya mirip dengan gambar dalam stiker di kaca.
“Ini, sedang membalas pesan dari customer,” ucap pria yang saat itu berkalung meteran untuk menjahit itu.
Pria tersebut adalah Fitra Akbar Kurniawan. Dia adalah pemilik tempat itu. Seorang desainer sekaligus penjahit spesialis jas.
Pelanggan Fitra tak sedikit. Itu terlihat dari lemari di ruangan itu yang penuh dengan jas-jas bergelantungan. Juga ada yang terpasang di manekin alias boneka display. Jas yang berada di dalam lemari itu milik para pelanggan.
“Dulu belajarnya otodidak. Tak pernah sekolah atau ikut pelatihan menjadit,” aku penjahit yang mengaku hanya jebolan sekolah dasar ini.
Meskipun hanya lulusan SD, dan belajar jahit otodidak, kualitas karya Fitra tak bisa dipandang remeh. Jas buatannya banyak digunakan para pejabat tinggi di Kediri Raya. Pelanggannya mulai kepala instansi, kepala kepolisian resor, bupati, hingga wali kota.
“Kalau Wali Kota Kediri yang memesan sejak masa kepemimpinan Samsul Ashar, Abdullah Abu Bakar, hingga Vinanda Prameswati sekarang ini,” ujarnya, menyebut deretan wali kota yang pernah memesan jas.
“Juga Bupati Pak Dhito dan Pak Anggi,” sambungnya menyebut dua nama pejabat yang menjadi pelanggan. Pak Dhito yang dia maksud adalah Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Sedangkan Pak Anggi adalah Kapolres Kediri Kota AKBP Anggi Saputra Ibrahim.
Namun, di balik tingginya pamor Fitra sebagai penjahit jas, ada kisah penuh suka duka yang menyertai. Dia menjadi penjahit karena terpaksa. Sebelum itu pekerjaaanya adalah serabutan. Termasuk menjadi buruh kasar di toko grosir.
Suatu saat, dia dibohongi pemilik toko tempatnya bekerja. Meskipun sudah bekerja keras tapi tak mendapat gaji. Akhirnya, dia pun diajak mertuanya membantu membuat jas. Kebetulan, mertuanya memang sudah memiliki usaha pembuatan jas.
Awalnya hanya membantu, lama-lama Fitra terpikat. Selain butuh pekerjaan, mertuanya kian beranjak tua yang butuh penerus. Kebetulan usaha jahit mertuanya juga sudah memiliki banyak pelanggan.
“Jas abah (mertua, Red) ini dulu langganan pondok-pondok yang ada di Kediri Raya. Dulu juga belum terkenal seperti sekarang. Tapi yang jelas sama adalah kualitasnya,” imbuh bapak dari dua anak itu.
Lalu, apa yang membuat jas bikinan Fitra terasa istimewa? “Bikinnya manual, ngukurnya satu per satu. Jadi bisa menyesuaikan setiap tubuh pemesan,” terangnya.
Meskipun ribet dan butuh waktu lama, tapi itulah yang jadi pembeda. Pelanggan menjadi merasa puas karena hasilnya pas di badan. Meskipun, mesin jahit yang digunakan masih sederhana, masih manual dengan penggerak kayuhan kaki.
Fitra berkisah, jasa jahit mertuanya sudah ada sejak 1973. Tapi, tak cukup modal untuk menjadi besar. Meskipun pelanggannya banyak sering dilabeli brand orang lain.
“Jadi, brand pembuat jas membawa ke abah. Setelah selesai dilabeli dengan brand mereka,” kenangnya.
Setelah dipegang Fitra, dia mengubahnya. Tak lagi hanya menerima orderan dari brand lain tapi berpromosi di media sosial. Hal itu dia lakukan sejak 2014.
Awalnya, animo orang tak terlalu besar. Toh, Fitra berusaha konsisten. Lama-lama mulai banyak pesanan masuk dari pejabat tinggi. Baik dari Kediri maupun luar daerah.
Hal itu tak lepas dari value yang ditawarkan Fitra. Dia membuat jas dengan detil dan perfeksionis. Dia sering meminta pelanggan datang untuk berkonsultasi. Tak hanya soal bentuk hingga warna, namun juga pada konsep acara yang akan didatangi dengan menggunakan jas tersebut.
“Sebagai penjahit tentu saya harus tahu detilnya. Agar jas yang saya buat mampu menarik pandangan mata ketika dikenakan di sebuah acara,” ucap lelaki 36 tahun itu.
Dedikasinya pada masalah kualitas membuat pelanggannya tak surut. Bahkan, juga datang dari Negeri Kincir Angin, Belanda.
“Terjauh yang memesan adalah orang Belanda. Saat itu beliau ada acara di Kediri kemudian memesan jas ke saya. Karena cocok hingga saat ini pun masih memesan,” ungkapnya bangga.
Selain Belanda, juga ada dari negara Jepang dan Malaysia. Sedangkan untuk wilayah Indonesia sendiri hampir dari Sabang sampai Merauke sudah pernah memesan jas buatannya.
Melihat sudah banyaknya pelanggan yang percaya pada hasil karyanya. Dia pun berencana untuk mewariskan usaha dan keahliannya kepada putranya.
"Kebetulan anak kedua saya cowok memang tertarik di dunia jahit. Karena sering melihat bapaknya dalam melayani pelanggan dan menjahit. Meskipun cita-cita menjadi penjahit sering diremehkan oleh gurunya di sekolah tapi dia tak menghiraukan. Karena melihat ayahnya saja bisa sukses dari usaha jahit ini," pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira