Karya siswa dan guru SMKN 3 Kediri ini jadi sorotan dunia. Tampil dalam pesta mode tahunan di Hongkong. Dipakai melenggang di catwalk oleh model-model internasional.
AYU ISMAWATI, Kota, JP Radar Kediri
Peragawati-peragawati itu berjalan anggun di catwalk. Di bawah sorotan gemerlap lampu panggung peragaan busana berkelas internasional. Juga jepretan lampu flash dari para fotografer model terkenal.
Setidaknya seperti itulah yang tergambar dalam video yang terposting di akun Instagram SMKN 3 Kediri-yang juga ada di akun IG Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Rekaman ketika para model profesional memeragakan karya lokal di panggung internasional, di ajang Centrestage 2025 Asia's Fashion Spotlight ke-10. Pesta mode tahunan yang digelar oleh Hong Kong Trade Development Council (HKTDC), 3-6 September lalu.
“Dadakan kami diajak dari Provinsi (Dinas Pendidikan Jatim, Red),” ungkap Arum Yusia Eka Kumala.
Wanita itu adalah ketua Konsentrasi Keahlian Busana di SMKN 3 Kediri. Dan, memang, pakaian yang dikenakan oleh para model internasional dalam video tersebut adalah karya dari siswa dan guru sekolah tersebut.
Tentu saja pencapaian yang bukan ‘kaleng-kaleng’. Acara yang tahun ini berlangsung di Hong Kong Convention and Exhibition Centre (HKCEC) itu merupakan gelaran peragaan busana berskala internasional. Diikuti ratusan brand dari 25 negara dan wilayah.
Jejak karya orang Kediri di panggung itu bersamaan dengan 10 sekolah lain di Jatim yang mewakili Dindik Jatim. Ada enam koleksi dari SMKN 3 Kediri yang mejeng di panggung tersebut.
Penunjukkan berpartisipasi itupun menjadi suatu kehormatan dan momen langka bagi sekolah ini. Membuktikan kemampuan orang Kediri menampilkan karya di panggung internasional.
Menariknya, SMKN 3 Kediri memilih tampil beda dibanding wakil Jatim lain. Mereka menyajikan karya yang menjadi ciri khas. Yakni busana dengan mengusung kekayaan wastra khas Kota Kediri berupa tenun ikat. Kain tenun ikat dengan berbagai motif itupun berhasil disulap menjadi enam koleksi pakaian ready-to-wear dengan nuansa warna krem dan salem yang hangat.
“Dari 11 sekolah itu, yang memakai tenun hanya SMKN 3 Kediri. Itu yang menjadi daya tarik dan berbeda dari yang lain. Karena semuanya kebanyakan batik dan ada beberapa yang pakai lurik,” beber perempuan yang akrab disapa Arum itu.
Tangan dingin dari 5 guru pendamping dan 6 siswa SMKN 3 Kediri itu tak hanya sekadar mengolah kain tenun menjadi pakaian yang indah. Tetapi juga sekaligus membawa pesan bijak berpakaian. Dalam event itu, mereka membawa tema sustainable fashion. Salah satunya dengan memanfaatkan kembali kain untuk melengkapi koleksi tersebut.
Baca Juga: Sejarah Lahirnya Kampung Inggris Pare Dari Desa Kecil Jadi Pusat Bahasa
“Persiapan kami nggak ada sebulan. Tetapi karena kebetulan kami sudah punya beberapa koleksi, jadi tinggal membuat lagi lainnya sampai jadi enam koleksi secara kilat,” sambung Arum tentang hari-hari lembur yang mereka lalui untuk bisa menampilkan karya terbaik.
Sejak mengajar selama belasan tahun, menurutnya, ini merupakan pengalaman pertama bagi SMKN 3 Kediri tampil di luar negeri. Meski hanya berlangsung kurang dari 30 menit namun cukup menjadi sesuatu yang berharga dan berkesan. Dari acara berskala internasional itu, semakin banyak orang yang lebih mengenal nama sekolah.
“Yang nggak tahu jadi tahu (prestasi anak SMKN 3 Kediri). Oh, ternyata SMK di Indonesia, terutama di Jawa, bisa go internasional. Ya, enggak menyangka saja. Apalagi dengan waktu yang singkat,” akunya.
Selain itu, tenun ikat yang menjadi wastra kebanggaan Kota Kediri pun ikut naik kelas. Menurutnya selama ini, peragaan busana dengan mengusung kain tenun ikat Kediri masih sangat jarang ditemui.
“Saya melihat setiap ada event, tenun Kediri itu tidak ada saingannya. Jadi kami selama ini bikin baju juga selalu unggulannya (berbahan) tenun ikat itu. Dan itu juga kelebihan SMKN 3 karena kainnya kami bisa produksi sendiri, bikin desain, sampai menjahit bajunya sendiri,” beber Arum.
Prestasi yang ditorehkan SMKN 3 Kediri dan beberapa SMK lainnya di Jawa Timur itu juga mendapat atensi dari Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Melalui akun Instagram resminya, Khofifah menyampaikan apresiasi atas prestasi siswa-siswa SMK tersebut pada Selasa (9/9) lalu.
“Prestasi ini adalah bukti bahwa pendidikan vokasi kita tidak kalah saing dengan negara lain. Anak-anak SMK Jatim telah menunjukkan bahwa karya mereka bukan hanya berstandar industri, tapi juga berkelas global,” kata Khofifah, melalui unggahan di media sosialnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira