Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Kerja “Darurat” DPRD Kota Kediri setelah Gedung Habis Terbakar oleh Massa

Ayu Ismawati • Selasa, 9 September 2025 | 18:54 WIB
Sejumlah staf sekretariat dewan (setwan) menempati ruangan Takmir Masjid Baiturrohmah Semampir sebagai kantor darurat pascakerusuhan Sabtu (30/8) malam.
Sejumlah staf sekretariat dewan (setwan) menempati ruangan Takmir Masjid Baiturrohmah Semampir sebagai kantor darurat pascakerusuhan Sabtu (30/8) malam.

Meski gedung DPRD Kota Kediri habis terbakar pada peristiwa kerusuhan Sabtu (30/8) lalu, para wakil rakyat di gedung Mayor Bismo tetap menjalankan tugas-tugasnya. Anggota dewan harus rapat dengan tempat berpindah-pindah. Sedangkan staf menggunakan ruangan Takmir Masjid Baiturrahmah.

AYU ISMA, KOTA, JP Radar Kediri

Sudah lebih dari sepekan sejak gedung yang berada di Jl Mayor Bismo Nomor 21 Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota itu habis dilalap si jago merah. Gedung dengan warna putih dan biru itu menjadi sasaran amukan massa dalam kerusuhan yang terjadi pasca-aksi demonstrasi, Sabtu (30/8) lalu. Bangunan dua lantai itu kini menyisakan lantai dan dinding saja.

          Dengan kondisi yang memprihatinkan itu, aktivitas dewan dan staf sekretariat dewan (setwan) tetap berjalan. Mereka berusaha memaksimalkan kinerja, meski dengan fasilitas serba-terbatas.

          Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, staf sekretariat dewan (setwan) sementara “berkantor” di sebuah ruangan milik Takmir Masjid Baiturrahmah. Bangunan yang tersambung dengan serambi masjid itu terbagi dalam beberapa ruang-ruang. Satu ruangan di tengah-tengah itulah yang dipinjamkan untuk ditempati puluhan staf setwan.

Total ada tiga bidang dengan sekitar 21 pegawai aparatur sipil negara (ASN) yang menempati ruangan berukuran 5 x 10 meter itu. Di ruangan itu, tak ada fasilitas layaknya kantor yang nyaman. Melainkan hanya beberapa meja kayu panjang atau dampar,  sebagai meja kerja mereka yang juga dipinjamkan takmir masjid.

Pekerjaan kantoran seperti mengetik, menulis, hingga makan pun dilakukan di meja pendek itu. Tentunya dengan duduk lesehan beralaskan karpet.

          “Printer ini pinjam. Kebetulan staf ada yang punya, jadi dipinjamkan dulu di sini,” ujar salah satu staf di sana sembari menyebut semua kebutuhan alat perkantoran seperti printer dan kabel roll dibawa dari rumah.

          Dengan fasilitas kantor yang nyaris semuanya habis terbakar dan hilang, para pegawai setwan memang dituntut beradaptasi dengan situasi. Seperti kemarin saat ada masyarakat yang bersurat ke DPRD. Tak ada penyambutan resmi di meja ruang lobi. Sebuah pilar di samping beduk masjid pun cukup untuk menjadi sebagai alas petugas untuk menandatangani dokumen tanda terima surat masuk. 

          Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Kediri Firdaus mengatakan, satu ruangan yang berada di utara gedung DPRD itu memang dipinjamkan langsung oleh takmir masjid secara sukarela. Ruangan itu akan dipakai sebagai kantor darurat setwan sebelum nantinya dipindahkan ke kantor sementara yang lebih representatif. Yakni di Gedung Nasional Indonesia (GNI).

          Meskipun dengan kondisi yang serba-terbatas, menurutnya pekerjaan DPRD tetap harus dikebut. Jika setwan berkantor di ruangan takmir masjid, agenda rapat-rapat anggota dewan yang membutuhkan ruang yang lebih besar digelar secara nomaden atau berpindah-pindah.

          “Kami pinjam di kantor-kantor (milik Pemkot Kediri, Red). Seperti kemarin kami di DLHKP (kantor yang berada tepat di depan gedung DPRD), kemudian sekarang di kantor BKPSDM. Karena banyak (peserta rapat, Red) sehingga kami menggunakan tempat ini supaya tempatnya nyaman dan aman untuk kami melakukan rapat kerja,” terang perempuan yang akrab disapa Ido itu.

          Senin kemarin (8/9), seluruh anggota dewan bersama eksekutif menggelar rapat untuk pertama kalinya sejak peristiwa pembakaran tersebut. Rapat yang juga dihadiri Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati itu membahas tentang langkah strategis pemkot selanjutnya. Termasuk, menyiapkan kantor DPRD sementara yang direncanakan akan berada di kompleks GNI.

          Karena peserta rapat yang relatif banyak, dewan meminjam aula milik kantor yang berada di Jl Himalaya, Kelurahan Sukorame, Mojoroto itu. Untuk menuju ke sana, ada beberapa dewan yang sengaja mengendarai sepeda motor sendiri. Salah satu alasannya, lokasi aula yang dekat dengan tempat tinggal beberapa wakil rakyat itu.

          “(Tempat rapat, Red) Ini menyesuaikan. Karena kantor-kantor ini kan ruangan aulanya juga pasti digunakan untuk keperluan kantor sendiri. Jadi mana yang kira-kira kami bisa kerja sama, mungkin nanti suatu ketika kami juga akan menggunakan pemkot (balai kota). Jadi mana-mana saja yang bisa dan layak untuk kami gunakan sebagai tempat rapat,” tandas politisi Partai Amanat Nasional (PAN) tersebut.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#dprd kota kediri