Pilihan hidup lelaki ini ibarat menelusuri jalan sunyi. Di tengah perkembangan musik pop dan lagu-lagu barat, dia kukuh bergumul dengan lagu tradisional. Jalan terus meski sering dianggap selera jadul.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Berpakaian ala generasi Z, yang biasa disebut gen-Z. Lengkap dengan hodie dan celana gombrong. Dipadu sepatu boot berwarna hitam.
Gayanya yang khas anak-anak zaman now itu tak mengurangi antusiasmenya dalam bercerita. Tentang jalan hidupnya yang menjadi pelestari musik tradisional. Jalan hidup yang tergolong menyempal dari kebanyakan orang seusianya.
“Sejak kecil saya suka mendengarkan musik. Kemudian menirukannya dengan menyanyi,” akunya. Sambil mengatakan hal itu dia kemudian mengingat-ingat, sejak kapan mulai gemar menyanyi. Sejurus kemudian, usia tujuh tahun keluar dari mulutnya, menyebut umur kala dia mulai gemar melakukan aktivitas seni ini.
Ya, Syahrul Hanafi adalah seorang penyanyi. Sekaligus pelestari musik tradisonal. Baik ber-genre campursari maupun keroncong. Meskipun hidup di tengah kemajuan musik modern, dia tidak pernah bosan untuk terus berkreasi dalam menyanyikan lagu-lagu Jawa.
Lagu-lagu Jawa ini dikenalnya karena sering diputar di radio. Ditambah dengan keikutsertaannya sebagai wiraswara sejak sekolah menengah pertama (SMP). Hal-hal yang membuatnya semakin fasih dalam melafalkan setiap lirik.
“Sebagai wiraswara saya lebih sering menyanyikan langgam dan gending-gending Jawa,” ujar lelaki berusia 24 tahun itu.
Tentu sebagai gen-Z yang hidup di dunia yang serba modern membuatnya seringkali dianggap kudet dan tak gaul oleh teman sebayanya. Tak jarang dia mendapat omongan-omongan yang kurang mengenakan hati.
Tapi, lagi dan lagi, semua itu tak dia indahkan. Dianggap sebagai risiko yang memang harus dihadapi.
Jika terpengaruh dengan omongan tersebut menandakan bahwa dia kalah. Sebaliknya jika dia terus maju maka dia yang dianggap sebagai pemenang.
“Tak peduli omongan orang di luar sana. Intinya apa yang saya lakukan adalah hal baik yang mungkin tidak semua orang peduli untuk melestarikannya,” paparnya dengan melempar senyum.
Waktu demi waktu dia lalui dengan sungguh-sungguh. Tak puas hanya sebagai wiraswara, Syahrul mengembangkan bakatnya sebagai penyiar radio.
Saat itu di usianya yang masih belia dia berhasil memperoleh juara 1 sebagai penyiar radio termuda di Jawa Timur. Dia juga menjadi master of ceremony (MC) di beberapa acara penting.
“Saat itu saya masih duduk di bangku SMK. Tapi pengalaman di bidang tarik suara tak perlu diragukan,” ujarnya dengan penuh bangga.
Untuk diketahui, keahliannya ini diperoleh secara otodidak. Tidak ada bakat yang diturunkan sama sekali oleh orang tua maupun keluarga besarnya. Bahkan di antara empat bersaudara hanya dia yang memiliki keahlian di bidang tarik suara.
Meskipun memiliki banyak keahlian di bidang tarik suara, Syahrul tetap menjadikan menyanyi adalah hobi utamanya yang ingin terus dikembangkan. Hampir semua lagu-lagu campursari pun sudah dia kuasai.
Terbukti bakatnya dalam menyanyikan lagu campursari membuatnya dilirik salah satu agensi terkemuka di Jawa Timur. Itu karena mampu melahirkan musisi-musisi terkenal. Salah satunya adalah Happy Asmara.
“Pengalaman paling berkesan saya saat bisa duet dengan Happy Asmara. Terlebih menyanyikan lagu rungkad yang sedang viral-viralnya,” kenangnya.
Pengalaman demi pengalaman yang dimilikinya tersebut ternyata mampu mengantarkan Syahrul untuk belajar musik keroncong dari ahlinya langsung. Yaitu Sundari Untinasih Soekotjo atau yang lebih dikenal dengan Sundari Soekotjo.
“Alhamdulillah saya menjadi salah satu perwakilan dari Provinsi Jawa Timur yang berhasil terpilih untuk mengikuti program BBM (belajar bersama maestro, Red). Suatu kebanggaan tersendiri,” jelasnya dengan raut wajah terharu.
Tentu dalam belajar musik keroncong tidaklah mudah. Itu karena ada pakem tersendiri yang jauh berbeda dengan musik campursari yang dikuasainya.
“Kalau campursari saya bisa bebas berkreasi dengan cengkoknya. Tapi kalau keroncong saya harus memperhatikan pakemnya,” terangnya sembari mencontohkan perbedaan nada lagu campursari dan keroncong.
Namun, kesulitan ini justru menjadi tantangan yang harus ditaklukkan baginya. Kini lelaki asal Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu semakin tertarik untuk berlatih dan belajar musik keroncong. Targetnya pun tak main-main, yaitu bisa bernyanyi musik keroncong di taraf internasional.
“Namanya cita-cita kan harus tinggi. Saya berharapnya bisa ikut memperkenalkan musik tradisonal ini (musik keroncong, Red) ke kancah internasional. Dan menunjukkan bahwa anak muda tetap bisa gaul dengan lagu-lagu Jawa,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira