Mewujudkan mimpi menjadi penari professional bukan menjadi hal gampang bagi seorang Isha Setia Putri. Kerap mendapat cibiran orang. Namun, semua cemoohan itu dia balas dengan sederet prestasi.
ASAD M. S., Kabupaten, JP Radar Kediri
"Juru kunci bayarane gak sepira ae arep neka-neka lanjut kuliah.”
Kalimat itu diucapkan Isha Setia Putri. Menirukan omongan orang yang mencibir keinginannya kuliah seni bila sudah lulus SMA nanti.
Ayah gadis ini memang seorang juru kunci makam. Namanya Iskak. Lokasi kerjanya di tempat pemakaman umum (TPU) Kapasan, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. Karena itulah dia dicibir, dianggap terlalu ketinggian menggantungkan keinginan.
Tapi, bukan Acha-demikian dia biasa disapa-kalau langsung patah arang. Sebaliknya, cibiran dan olokan itu melecut semangatnya. Menambah motivasinya untuk menekuni keinginannya itu.
Hasilnya? Sederet prestasi dia koleksi dari kegiatannya menari. Piagam dan piala menjadi saksi bisu bagaimana Acha memang sangat berkompeten di bidang seni.
Dan, saksi-saksi itu terpajang di ruang tamu rumah kakaknya yang beralamat di Desa Tertek, Kecamatan Pare.
Piala-piala dari berbagai ajang lomba tari itu berjajar rapi. Ada juara Tari dan Dance Grup MJ Education Center, Juara Tari dan Dance Grup C Festival Anak Berbakat, Juara tari Kelompok Ramayana Got Talent audisi 25 kota, peringkat ketiga Ramayana Got Talent Grand Final Jawa Timur, juara Tari Group Kategori C Festival Anak Berbakat dan Berprestasi seleksi Kediri, dan masih banyak lagi.
Gadis 18 tahun ini kemudian menceritakan bagaimana awal mula berkecimpung di dunia tari. Hingga bisa mendapatkan banyak raihan prestasi.
Ternyata, dia memang memiliki darah seni. Diperoleh dari sang kakek yang seorang seniman ludruk. Yang memicu ketertarikannya pada dunia tari.
Minatnya pada tari mendapat pintu masuk. Ada kerabatnya yang ikut sanggar tari. Acha pun diajak berlatih. Saat itu dia duduk di kelas lima sekolah dasar.
Uniknya, aktivitas itu awalnya ditentang oleh kedua orang tuanya. Iskak dan Tunjiyah, istrinya, tak sepenuhnya setuju. Mereka lebih ingin sang anak belajar di bidang farmasi.
“Alasannya agar bisa cepat kerja. Biar bisa segera bantu orang tua,” ucapnya, menceritakan keinginan kedua orang tuanya itu.
Tak hanya itu, orang lain juga mencibirnya. Menyayangkan kenapa tidak bekerja saja untuk membantu orang tua.
"Orang tua cuma juru kunci sama tukang sapu puskesmas. Ibuk cuma jualan kembang, mending bantu kerja biar bisa bantu orang tua. Banyak yang (mengatakan) seperti itu," jelas gadis kelahiran 2007 itu.
Toh, Acha tetap kukuh pada pendiriannya. Dia tetap berlatih tari. Tapi, juga tak melupakan kewajibannya sebagai anak membantu orang tua.
Misalnya, ketika musim ziarah kubur, dia membantu ibunya yang membuka lapak berjualan bunga tabur di depan makam. Kebetulan, makam desa memang ada di belakang rumahnya.
"Sudah bantu-bantu seperti itu masih juga ada yang ngece (menghina, Red). Ya ngunu, duwe bapak juru kunci dibanggakne. Gak usah isin (ya begitu, punya ayah juru kunci tetap bangga. Tak perlu malu, Red) Padahal aku gak pernah malu," ujarnya sambil mengulang cibiran-cibiran orang.
Ketika ada di bangku SMP kemajuan kemampuan menarinya semakin terlihat. Dia mulai ikut berbagai lombaan. Tidak selalu menang memang, tapi tak sedikit pula trofi juara yang dia dapatkan.
Perkembangan itu mulai membelokkan pandangan kedua orang tuanya. Mereka mulai bangga mendukung penuh keinginan sang anak. Saking bangganya, sang bapak sampai berucap pada semua orang bahwa anaknya nanti akan dia kuliahkan di bidang seni.
Lagi-lagi keinginan itu jadi bahan cemoohan. "Banyak yang mencibir, gak usah kuliah, langsung kerja ae," kenang Acha.
Cibiran demi cibiran yang datang kian memacu motivasinya. Dia pun kian sering membawa pulang prestasi.
Bahkan, dari kemampuannya itu dia pun kini jadi instruktur tari. Mampu menularkan kebisaannya pada anak didiknya. Terbukti tak sedikit anak didiknya yang juga meraih prestasi di berbagai ajang.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira