Bagi Bhara, mengembangbiakan Gecko adalah hobinya. Tak sekadar untuk kepentingan jual beli. Juga untuk bereksperimen mendapatkan jenis gecko baru.
HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Hunian di Perumahan Bumi Kunjang Asri, Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar itu sangat menggambarkan karakter pemiliknya yang pecinta binatang. Ada akuarium kecil di samping rumah. Berisi lima ekor ikan langka.
Di samping akuarium tersebut ada kotak dari jeruji besi. Sebelumnya sebagai kandang biawak. Kini, kandang itu kosong dan berencana dijual oleh sang pemilik.
Ada lagi lima burung yang masing-masing berada dalam sangkar. Sangkar-sangkar itu menempel di tembok teras. Kicaunya yang bersautan membuat suasana menjadi riuh.
Salah satu penghuni rumah tersebut, Bhara Briellina Da Hellsa, memang seorang pecinta hewan. Beragam binatang dia pelihara. Terutama, binatang melata yang bernama gecko.
Khusus untuk gecko, Bhara-demikian dia biasa disapa-menggelutinya lebih dalam. Termasuk dalam pembiakan. Bahkan, boleh dibilang, dia adalah satu dari sedikit breeder gecko di Kediri Raya.
“Awalnya gecko ini saya simpan di kamar. Karena terlalu banyak, akhirnya saya tempatkan di rumah kosong,” ucap Bhara sambil menunjuk ke arah rumah kosong berjarak enam rumah.
Di rumah itu tempatnya menyimpan puluhan gecko. Rumah milik rekan kerja sang ayah yang kebetulan tidak dihuni.
Gecko-gecko itu dia tempatkan dalam thinwall-wadah berbentuk persegi dari plastik transparan yang biasa dijadikan tempat makanan. Masing-masing satu ekor setiap thinwall.
Bhara mulai hobi memelihara gecko pada 2021. Setelah dia memutuskan tak memelihara biawak yang dia tekuni sebelumnya.
“Ini gecko pertama saya, jenis tangerin trempre. Usianya empat tahun,” ucapnya, sembari menunjukkan gecko warga oranye bertotol cokelat.
Tidak sekadar memelihara, pemuda 21 tahun ini juga membiakkan hewan yang habitat aslinya di daerah bergurun ini. Kebetulan, sejak kecil Bhara sangat suka hal yang berbau genetika.
Dia kemudian bercerita, saat usia SD sudah pernah melakukan teknik vegatasi sambung antara durian jenis montong dengan musangking.
“Baru ketika SMA saya mencoba untuk mengawinkan cupang untuk mendapatkan varian baru. Saat kuliah kemudian ganti ke gecko ini,” cerita anak pasangan Helly Kuswanto dan Susanti ini.
Gecko pertama Bhara dia beli seharga Rp 42 ribu, berjenis kelamin jantan. Setelah bisa membeli yang betina, dia pun melakukan breeding.
Dari mana dia belajar breeding gecko, sementara pekerjaannya sebagai akuntan di salah satu perusahaan pakan ternak? “Dari jurnal,” aku Bhara lugas.
Pengetahuannya dari jurnal itulah yang membuatnya paham seluk-beluk per-breeding-an gecko. Mulai usia kawin antara yang jantan dan betina hingga lainnya.
Upaya breeding Bhara berhasil. Dari dua ekor, piaraannya berkembang menjadi 20 ekor hingga sekarang. Pernah suatu saat dia memiliki 110 ekor hasil penangkaran. Karena merasa terlalu banyak, sebagian besar dia jual dengan sistem borongan.
Masih menurut Bhara, mengawinkan gecko tidak bisa sembarangan. Harus diketahui terlebih dulu asal-usul genetisnya.
“Ada dua genetik yang rawan untuk dikawinkan,” ungkap pemuda kelahiran 2003 ini.
Dua genetis yang tak bisa dikawinkan itu adalah lemon frost dan enigma. Alasannya karena nanti bisa terjadi kecacatan genetik. Meskipun bisa menetas, yang lemon akan muncul benjolan. Sementara yang enigma rawan terkena sindrom saraf.
Sebagai breeder Bhara lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas. Tak segan dia meminjamkan gecko-nya utnuk dikawinkan dengan milik orang lain.
Pun, dia selalu mengedukasi pembeli gecko-nya. Memberinya konsultasi gratis tentang tata cara merawat piaraannya.
Pernah ada pembeli yang tak mematuhi arahannya agar tak melapisi kandang dengan cocopeat. Akhirnya, hewannya mati. Setelah dibedah, memang ada media tanam tersebut di tubuhnya.
Selain terjual di wilayah Indonesia, gecko hasil pengembangbiakan Bhara juga sampai di Malaysia. Tepatnya September tahun lalu.
“Terjual tujuh ekor, per ekornya Rp 350 ribu,” kenang Bhara.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira