Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Melihat Keseruan Trial Class Seru di SDN Bangsal 3, Bantu Siswa TK Siap Masuk SD!

Ayu Ismawati • Rabu, 2 Juli 2025 | 21:44 WIB

KELAS UJI COBA: Puluhan siswa lulusan TK B mengikuti trial class di SDN Bangsal 3 yang dikemas fun (30/6).
KELAS UJI COBA: Puluhan siswa lulusan TK B mengikuti trial class di SDN Bangsal 3 yang dikemas fun (30/6).
Setiap sekolah dasar (SD) di Kota Kediri memiliki cara masing-masing untuk mempermudah siswa baru beradaptasi.

SDN Bangsal 3 memilih menggelar trial class bagi lulusan TK agar mereka tidak kaget mengikuti pembelajaran baru.

AYU ISMA, KOTA, JP Radar Kediri

Suara nyaring sejumlah anak-anak menirukan nyanyian bapak dan ibu guru memecah keheningan di SDN Bangsal 3 Senin (30/6) pagi.

Selama beberapa pekan ini, ruang-ruang kelas di sekolah yang terletak di Kelurahan Bangsal, Pesantren itu cenderung sepi. Maklum saja, ratusan penghuninya memang sedang libur sekolah.

Namun, Senin (30/6) lalu suasananya berbeda. Puluhan bocah yang baru lulus Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) berkumpul di sekolah yang berlokasi Jl Brigjen Pol. IBH Pranoto itu.

Memakai kartu nama bergambar ikan yang dipasang di dada, anak-anak terlihat duduk rapi.

Berbeda dengan siswa SD kebanyakan, sebanyak 24 anak itu memakai pakaian santai. Tidak ada satu pun yang berseragam karena memang bukan jam sekolah resmi.

“Sebelum kita mulai hari ini (1/7), kita awali dengan berdoa. Sebelum berdoa, kita bernyanyi, ya,” ajak Fera Uswatun Arif, salah satu guru, sebelum memandu anak-anak bernyanyi sembari menari-nari kecil dalam trial class untuk para calon siswa SDN Bangsal 3 itu.

Mendapat ajakan menyanyi dan menari, puluhan anak-anak yang baru lulus TK B itu langsung semangat. Sontak mereka berdiri dan menirukan gerakan bapak-ibu guru di depannya.

Gerakannya jauh dari kata kompak. Bahkan cenderung asal-asalan sesuka hati. Tipikal kelakuan anak-anak di usia 5 – 7 tahunan. Namun, mereka melakukannya dengan gembira. Senyum mengembang di bibir anak-anak itu.

 “Ini (trial class, Red) memang bukan tes. Tetapi sebagai kelas percobaan supaya anak-anak itu mengenal pembelajaran yang ada di SD itu bagaimana,” lanjut guru kelas 1 itu.

Tujuan trial class memang membangun lingkungan belajar yang adaptif. Karenanya, sebisa mungkin pembelajaran dilakukan dengan cara yang ‘kekanak-kanakan’. Misalnya, pembelajaran diselipkan ke dalam permainan.

Selebihnya, guru juga memperbanyak media visual agar menarik bagi siswa. Sasarannya tentu anak-anak yang tahun ini memasuki jenjang pendidikan SD.

“Supaya mereka tidak kaget kalau masuk ke SD. Ada mewarnai juga. Anak-anak diajak main games berhitung, mengenal abjad, dan lainnya,” beber Fera.

Kelas percobaan gratis itu sengaja digelar karena selama ini kerap ditemui anak-anak dari TK yang canggung saat masuk SD.

Dari sana, guru-guru ingin menunjukkan bahwa kegiatan belajar di SD juga bisa menyenangkan. Tak ubahnya saat di TK.

Untuk mewujudkan kegiatan belajar yang menyenangkan itu, penekanan pada visual seperti memperbanyak gambar-gambar, menjadi salah satu metodenya.

“Meski banyak gambar, tapi disisipi bacaan-bacaan yang bisa memancing anak-anak supaya terbiasa dengan literasi dan numerasinya,” urai guru asal Kecamatan Ngadiluwih itu.

Diakui Fera, siswa yang baru lulus TK memang lebih sulit beradaptasi di sekolah dasar. Sifat kekanak-kanakan siswa masih lekat. Mereka juga belum cukup mandiri saat baru masuk SD. 

 Terbukti, selama trial class beberapa anak belum bisa lepas dari sifat kekanak-kanakannya. Misalnya saat seorang anak laki-laki tiba-tiba berlari menghampiri orang tuanya. Dia langsung menangis karena lupa tidak membawa pensil warna.

Bocah bernama Rafif itupun mau kembali ke kelas setelah dibujuk bapak dan ibu guru. “Nggak apa-apa saling pinjam temannya, ya,” pinta Muji, salah satu guru di sana.

 Tak sedikit pula siswa yang nampak santai dan menikmati proses belajar di ruang kelas SD.

Salah satunya Gebi. Suaranya paling lantang saat ditanya bapak dan ibu guru. Bocah laki-laki dengan pipi chubby itu juga tak sungkan menjawab setiap interaksi yang dibangun bapak dan ibu guru.

 “Senaaang!” jawabnya lantang saat ada guru yang menanyakan perasaannya belajar di SD. 

Melihat itu, para orang tua yang menunggu di luar pun hanya bisa tersenyum. Mereka mengintip perilaku anak-anaknya dari celah jendela kelas.

Tak seperti di TK, orang tua sudah harus melepaskan anak-anaknya untuk belajar dengan mandiri di SD.

Sejak pukul 07.30–09.00, anak-anak dari berbagai TK itu diajak melakukan beragam aktivitas. Mulai dari games sederhana, menyanyi dan menari, hingga berlatih menulis dan mewarnai.

“Menyanyi dan menari itu untuk ice breaking saja supaya anak-anak tidak jenuh untuk mengikuti pembelajaran,” tandasnya.

 Kepala SD Negeri Bangsal 3 Dewi Sholihatur Rohmah mengatakan, sekolah berinisiatif menggelar trial class agar siswa lulusan TK B itu bisa memperoleh gambaran pelaksanaan pembelajaran di SD.

Khususnya di lembaga yang dipimpinnya. “Biar anak-anak TK tidak takut sekolah. Sekaligus menyukseskan program transisi PAUD-SD yang menyenangkan,” imbuhnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira