Jalan hidup Sujito benar-benar unik. Dia seorang lulusan sekolah teknik menengah-nama untuk SMK di zaman dulu-yang justru berprofesi sebagai guru. Sementara, minatnya di dunia seni membuatnya layak disebut sebagai seniman.
ASAD M.S., Kota, JP Radar Kediri
Rumah itu masuk ke dalam gang, di wilayah Kelurahan Banjaran, Kecamatan Kota. Bagian depannya berbentuk pendapa. Berisi benda-benda ukir, buah karya si pemilik rumah. Menghiasi berbagai sudut.
Pemiliknya adalah seorang lelaki yang sudah memasuki umur 62 tahun. Sujito namanya. Kerut memang sudah memenuhi wajah tuanya. Namun, semangat berkesenian tak juga lekang oleh usia. Dia tetap enerjik ketika berurusan dengan bidangnya.
“Karena memang suka berbagi. Saya tidak pernah pelit soal ilmu. Suka mengajarkan pada banyak orang,” ucap pria yang gemar memakai udeng hitam di kepalanya itu.
Ucapan itu Sujito buktikan ketika berlangsung Festival Kuno Kini 2025 beberapa waktu lalu.
Tepatnya Minggu (25/5). Ketika dia mentrasnfer ilmu membuat benda bernilai seni berbahan serbuk kayu. Ya, sang seniman ini pengisi workshop pembuatan topeng dari serbuk kayu.
Sujito berhenti bercerita sejenak. Mengambil beberapa karyanya. Beberapa di antaranya berupa hasil pahatan. Sebagian lagi topeng dari serbuk kayu. Menunjukkan kepiawaiannya dalam berseni rupa.
Tapi, siapa sangka bila pria ini tak punya back ground pendidikan seni secara formal. Justru, dia berlatar belakang guru olahraga. Kemahirannya dalam berkesenian diperoleh secara otodidak.
Sujito pun mengenang, saat-saat dia kecil. Kesukaannya adalah menggambar. Pria kelahiran 1963 ini juga kreatif membuat mainan dari barang yang tak terpakai.
Hasratnya berkesenian kian membuncah ketika melihat tetangganya sedang berkarya. Sang tetangga itu memang seorang seniman. Sarjana lulusan seni.
“Saya suka lihat ketika dia membuat karya. Pas memahat gitu saya suka lihat,” kenang laki-laki berkumis tebal itu.
Sayang, keinginannya menjadi seorang seniman masih terhalang saat itu.
Faktornya adalah soal ekonomi. Dia yang berasal dari keluarga sederhana tak mampu bila harus membeli peralatan mematung seperti pahat.
Dasar sudah punya otak seniman, Sujito ternyata punya seribu akal. Kreativitasnya menuntunnya membuat pahat dari peralatan seadanya. Memodifikasi paku menjadi alat membuat patung.
“Paku itu pucuknya tak pipihkan (paku itu ujungnya saya pipihkan, Red), itu tak pakai alat pahat,” terangnya.
Tapi, tetap saja dia tak bisa memuaskan hasrat berseni rupa dengan maksimal. Tak bisa masuk sekolah seni.
Karena ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuatnya harus masuk sekolah teknik menengah (STM). Jurusannya, kelistrikan. Berharap setelah lulus langsung bisa bekerja dengan keterampilannya itu.
Tapi, manusia bisa berencana, Tuhan jua yang menentukan. Bukannya jadi teknisi, Sujito lebih berminat di bidang olahraga.
Kebetulan selama bersekolah di STM dia gemar bermain sepak bola, bola basket, dan olahraga lainnya.
Karena itu, ketika ada program pendidikan guru olahraga, selama empat bulan, dia langsung mengambil kesempatan itu.
“Dari situ jalan saya jadi guru olahraga,” terangnya sembari menyebut dia mulai menjadi guru olahraga sekolah dasar (SD) di usia 19 tahun.
Menjadi guru olahraga tidak dia lakoni dengan setengah-setengah. Bahkan, dia juga seorang pelatih atlet Kota Kediri.
Yang telah menelurkan atlet-atlet andal yang mampu membawa prestasi membanggakan.
Walaupun di sela-sela kesibukannya, dia juga tetap melanjutkan hobinya di dunia seni. Bapak tiga anak itu juga aktif di dunia teater. Dari situ dia juga mengenal terkait pertopengan.
“Dulu awalnya topeng kertas. Untuk main teater itu kan perlu topeng ya. Yang bahannya murah pakai kertas digunting-gunting dihias dikit jadi,” kenangnya.
Kebetulan dia juga bermain dengan kayu. Berkarya dengan media kayu.
Ketika ada kayu yang keropos, dia menambal dengan dempul. Saat melakukan itu, di benak Sujito, tiba-tiba keluar ide, bagaimana kalau membuat topeng dengan bahan serbuk dan dempul kayu.
“Bahannya mudah didapatkan dan murah. Bahkan untuk serbuk kayu juga gratis,” jelasnya. Dengan berbinar-binar, dia menjelaskan. sembari menunjukkan beberapa karya topeng dari serbuk kayu yang dia buat.
“Memang gak nyambung semua, hobi awal di seni. Kemudian sekolah di STM kelistrikan. Profesinya jadi guru. Tapi saya syukuri. Karena itu ada beberapa bidang keterampilan yang diberikan Tuhan sama saya,” aku laki-laki yang sudah banyak uban itu.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira