Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Dian Etika Putri, Industri Kerajinan Bambu-nya Berdayakan Warga Sekitar

Habibah Anisa M. • Jumat, 30 Mei 2025 | 00:00 WIB
Dian Etika Putri bersama empat karyawan tengah memproduksi  kerajinan bambu, di rumahnya, di Desa Kerkep, Kecamatan Gurah.
Dian Etika Putri bersama empat karyawan tengah memproduksi kerajinan bambu, di rumahnya, di Desa Kerkep, Kecamatan Gurah.

Sang mertua sempat menentang ketika Dian ‘mengubah’ produksi kerajinan bambu dari besek menjadi barang-barang kekinian. Setelah melihat hasilnya, mereka pun jadi melunak. Kini, industri rumahan ini mampu mengangkat ekonomi para tetangga.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Dari jalan raya, tempat ini sudah terlihat. Berada di tepi jalan raya, jurusan Kediri-Pare. Dengan aneka kerajinan bambu yang tertata rapi di rak.

“Ini kemarin, waktu pameran di Festival Kuno Kini dapat orderan dari Polda Jatim. Nampan custom ukuran 25x25 dam 30x40,” ucap Dian Etika Putri.

Dian adalah pemilik toko Kerajinan Bambu Indah (KBI). Tak sekadar memajang dan menjual, melainkan juga perajinnya. Memiliki rumah produksi yang mempekerjakan beberapa orang.

Para pekerja itu terlihat duduk di tikar. Semuanya pria. Ada yang membuat gagang nampan custom. Ada pula yang membikin kotak tisu. Yang lain, membentuk lampu hias.

“Mereka semua bisa membuat aneka bentuk kerajinan bambu,” terang wanita yang punya nama panggilan Dian ini.

Total karyawan KBI saat ini sepuluh orang. Mereka kebanyakan adalah pemuda desa. Yang dia ajak karena melihat mereka hanya luntang-lantung.

“Mereka saya ajak bicara. Saya bilang daripada cangkruk tidak jelas menghabiskan uang. Bagaimana cangkruk menghasilkan uang,” kenang wanita 36 tahun ini.

Tidak hanya mengajak anak-anak pengangguran, Dian juga mengajak warga desanya yang dikucilkan. Seperti yang pernah terkena masalah hukum hingga kesulitan mendapat pekerjaan.

Dari mana Dian mendapat keterampilan membuat kerajinan bambu? Dari sang mertua. Ya, Dian bukan warga asli Desa Kerkep. Melainkan asal Rejoso, Nganjuk, yang mendapat jodok pemuda Kerkep, Agus Sujiyanto.

Nah, orang tua Agus sejak awal adalah perajin bambu. Tapi hanya berbentuk peralatan lawas seperti besek, tampah, tompo, dan lainnya. Hasil kerajinan tersebut kemudian dijual di Gurah dan sekitarnya, hingga ke Pare dan Brenggolo.

Pada 2018, Dian yang meneruskan usaha kerajinan ini berusaha mencari terobosan baru. Kebetulan dia berkenalan dengan dua orang perajin bambu, yang dia sebut sebagai Pak Gun dan Mas Sobirin.

Dari dua orang inilah dia belajar mengembangkan model produk. Menjadi berbagai bentuk kekinian seperti rantang, sokase (wadah untuk parsel), kotak tisu, teko hiasan, hingga lampu hias.

Uniknya, kedua mertuanya sempat menentang apa yang dilakukan Dian. Memintanya tetap meneruskan bentuk-bentuk tradisional seperti yang mereka buat. Namun, naluri bisnis Dian berkata lain.

Pasar produk kerajinan lama itu hanya menengah ke bawah. Yang membeli dengan harga murah. Sedangkan benda-benda kekinian punya ceruk pasar menengah ke atas.

Karena itulah dia dan suaminya bergeming. Tetap membuat benda-benda kekinian. Tertantang untuk menunjukkan bahwa anggapan sang mertua salah.

Karena berselisih paham dengan mertua, Dian harus mencari bahan baku sendiri. Terpaksa nempil dari pengrajin lain. Barulah ketika terbukti produk baru itu punya pasar, mertuanya balik mendukung.

“Mendapat dukungan ini setelah sering ikut pameran,” ungkap mantan guru SMK ini.

Kini, pelanggan tetapnya sudah banyak. Termasuk hotel berbintang di Kota Kediri, Grand Surya. Hotel ini memang pelanggan sejak awal dan sering membeli tenong dan besek. Setelah tahu Dian bisa membuat bentuk yang kekinian, mereka memesan sokase.

Perjalanan bisnis Dian tak mulus. Pada 2020 sempat terhenti karena pandemi. Dua tahun vakum kemudian bangkit lagi. Diawali dengan pesanan ratusan sokase untuk Imlek oleh Hotel Grand Surya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #sosok inspiratif