Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lebih Dekat dengan Wakapolres Kediri Kompol Hari Kurniawan

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Selasa, 27 Mei 2025 | 11:15 WIB
Photo
Photo

Ada di posisi saat ini bukan didapat Kompol Hari Kurniawan dengan cara instan. Ada perjalanan panjang yang harus dia lalui. Termasuk pengalaman yang memacu adrenalin.

ASAD M.S., Kabupaten, JP Radar Kediri

Di ruang kerjanya, Hari Kurniawan sibuk memeriksa berkas-berkas. Satu per satu laporan dari setiap satuan dia teliti. Beberapa kali aktivitasnya itu terjeda. Menerima beberapa kepala polisi sektor (kapolsek). Yang datang memberi laporan.

Ya, laki-laki yang akrab disapa Hari ini adalah orang nomor dua di jajaran Polres Kediri, wakil kepala Polres (wakapolres) Kediri.

Berpangkat komisaris polisi (kompol). Jabatan yang didapat melalui perjalanan panjang yang berliku. Melewati berbagai tantangan dan pengalaman. Termasuk pengalaman-pengalaman ekstrem ketika mengabdi pada NKRI.

Di sela-sela kesibukannya itu, Hari menceritakan bagaimana pengalaman-pengalamannya itu. Terutama pengalaman yang penuh dengan adrenalin.

“Saya masuk polisi pada 1990,” jelas perwira pangkat melati emas di pundak itu. Sambil memeriksa berkas di hadapannya, sang wakapolres bercerita tentang pengalamannya mengabdi pada negeri.

Usai menamatkan pendidikan, Hari ditempatkan di satuan Brigade Mobile (Brimob) di Surabaya. Pengalamannya di satuan ini sangatlah banyak. Selama 19 tahun.

Salah satu pengalaman yang paling diingatnya pada 1993 sampai 1998. Ketika bertugas di bagian penjinak bahan peledak (jihandak) gegana satuan Brimob, yang kala itu juga masih rintisan.

Saat itu, ada beberapa seniornya yang harus dia gantikan. Bukan karena bermasalah, melainkan karena mengalami cedera parah saat melakukan penjinakan.

“Ada itu yang kena ledakan sampai membuat gendang telinganya pecah,” terang laki-laki kelahiran Ngawi ini. Sambil mengenang, dia kembali melanjutkan ceritanya.

Karena pengalaman buruk dari seniornya itu,  sempat membuat nyali Hari ciut. Kondisi yang wajar dan sangat manusiawi. Sebagai manusia, tentu saja dia masih memiliki rasa takut.

“Awal masuk ya dredek. Tahu kalau ada peristiwa seperti itu. Tentu saja ada ketakutan tersendiri,” terangnya.

Setiap kali ada laporan adanya bom, setiap berangkat selalu ada perasaan takut. Tidak hanya jika peledak yang ditangani bisa mencelakainya. Namun juga kekhwatiran bakal mencelakai warga sekitar.

Tugas tim jihandak ini merupakan garda terdepan ketika ada kunjungan orang-orang petinggi negara. Karena itulah, walau ketakutan menghantui, hal itu juga membuatnya bangga. Sehingga rasa takut itu bisa dia lawan.

Berikutnya, pada 1998, dia menjadi salah satu prajurit yang dipilih untuk dikirim misi perdamaian di Aceh. Dalam operasi Sadar Rencong 3 dan Operasi Cinta Meunasah.

Pada awal kedatangan kompi dari Jatim, Hari bersama teman-temannya disambut ‘meriah’. Bukan disambut dengan pesta perayaan, melainkan dengan dihujani peluru.

“Saat itu pas malam hari. Masih baru tiba dan lagi menata-nata barang. Tiba-tiba ditembak GLM (Grenade Launcher Module, Red) asap. Langsung dihujani peluru markasnya,” terangnya.

Saat itu memang baku tembak tidak berlangsung lama. Sekitar 30 menit. Namun suasananya sangat mencekam. Selain malam hari, pasukan Gerakan Aceh Meredeka (GAM) juga menyerbu kompinya dari berbagai arah.

Di dekat pos itu, juga ada permukiman warga. Otomatis tidak hanya melindungi diri, namun juga berusaha melindungi warga setempat.

“Alhamdulillah aman. Setelah diserang itu langsung pukul balik dan mengejar pasukan lawan,” terangnya.

Saat di Aceh, tidak jarang konvoi pasukannya diserang. Beberapa kawannya juga harus gugur di medan pertempuran.

Usai melaksanakan misi dari Aceh, dia mendapatkan penghargaan Satyalancana Ksatria Tamtama dan Satyalancana Dharma Nusa. Atas keberhasilan tugasnya dalam melakukan tugas operasi pemulihan keamanan di daerah konflik bersenjata.

Berikutnya pada 2007 pindah ke Polda Jatim. Usai melakukan ujian perwira, dia ditempatkan di bagian propam. Selanjutnya pada 2020 diberi tugas menjadi Kapolsek Asem Rowo, Tanjung Perak selama tiga tahun. Berikutnya menjadi Wakapolres Jombang pada 2022 hingga 2024. Dan sejak awal tahun ini menjadi Wakapolres Kediri.

“Untuk menjaga keamanan, tentu perlu sinergi antara semua pihak. Agar kamtibmas di Kediri bisa terjaga,” terangnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#radar kediri #sosok inspiratif