Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Suroso, dari Rewang Manten ke Instruktur Workshop Kreasi Janur

Habibah Anisa M. • Sabtu, 24 Mei 2025 | 02:21 WIB
Suroso sedang membuat isen-isen kembar mayang di rumahnya, di Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
Suroso sedang membuat isen-isen kembar mayang di rumahnya, di Kelurahan Bujel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.

Festival Kuno-Kini bakal menjadi tonggak penting bagi lelaki ini. Menjadi instruktur dalam Workshop Kreasi Janur. Menularkan ilmu yang dia dapat dari belajar pada sang kakek.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kota, JP Radar Kediri

Tempat tinggal Pak Tuwek, demikian lelaki ini biasa disapa, berada di salah satu gang di Jalan Suparjan Mangun Wijaya Kota Kediri. Gangnya buntu, hanya selebar satu meter. Diapit dua toko di bagian depan. Salah satunya toko bangunan.


Panjang jalan di gang ini pendek saja. Paling sekitar sepuluh meter. Ujungnya langsung menjadi halaman bagi tiga rumah. Yang salah satunya ditinggali Suroso, nama asli Pak Tuwek.


Selain berada di urutan pertama, penanda rumah Pak Tuwek adalah pekarangannya yang ditumbuhi tanaman. Melati, cabai, hingga pisang. Yang langsung ditanam di tanah. Bukan di pot seperti dua tetangganya.

Baca Juga: Vanessa Siami, Anak Pedagang Buah KeIiling di Kediri Ini Tak Berdaya akibat Tumor Saraf
Ada lagi yang juga bisa jadi penanda tempat tinggal Suroso. Yaitu potongan batang pisang. Yang biasa dijadikan penancap hiasan kembar mayang.


“Masnya ini nanti yang membantu waktu workshop kreasi janur,” kata Suroso, menunjuk anak muda yang terlihat bersamanya di teras rumah.

Workshop yang disebut Suroso tersebut adalah salah satu rangkaian acara dalam Festival Kuno-Kini, yang akan berlangsung di Taman Hijau Simpang Lima Gumul mulai 23 Mei besok. Berlangsung dua kali, Sabtu (24/5) dan Senin (26/5).

Suroso boleh disebut ahlinya kreasi janur. Pengalamannya sangat banyak. Keahliannya itu sering dimanfaatkan oleh penyedia jasa dekorasi pesta atau make up artist (MUA) pernikahan. Membuat kembar mayang hingga penjor. Sehari bisa empat tempat. Upahnya, Rp 1 juta.

Baca Juga: Ketua IBI Kabupaten Kediri Hj. Farida Hidayati, S.ST.Bd., M.Kes Ajak Sejawat Bidan Lebih Aktif dan Bermanfaat
“Tapi kalau warga sini saya minta disiapkan bahan bakunya saja. Soal biaya dipikir belakangan,” kata pria yang juga pengawas di Kelompok Bermain Rejomulyo.
Dari mana pria yang masih betah membujang ini mendapatkan keahlian merangkai hiasan janur? “Dari kebiasaan ikut kakek dan paman dulu,” jawabnya.

Pak Tuwek pun bercerita, dia sudah belajar membuat kembar mayang sejak duduk di bangku SMP. Caranya, ngikut sang kakek yang memang sering mengerjakan dekor manten.

“Jadi, belajarnya langsung praktik di lokasi,” kenang Suroso, sembari menunjukkan kemampuannya membuat isen-isen kembar mayang. Isen-isen sendiri adalah dekorasi tambahan untuk kembar mayang selain yang berbentuk lengkung. Biasanya berupa hewan-burung dan sarangan ulat-, pecut, atau pedang-pedangan.
Baca Juga: Ketika Honorer ‘Senior’ Disdik Kota Kediri Berjuang Menjadi Pegawai Negeri

Saat membentuk rupa-rupa itu, tangannya lincah memotong janur menjadi beberapa bagian. Menggunakan pisau yang dibuat dari gunting bekas dan pegangan payung. Peralatan itu juga dia dapat dari melihat sang kakek.

Mengikuti sang kakek pergi mendekor manten pada zaman itu menjadi kegembiraan tersendiri. Baginya, bisa dianggap sebagai ‘perbaikan gizi’. Sebab, selain belajar dia juga akan mendapat bonus sepiring rawon dari yang punya hajat.

“Upahnya ya itu, sepiring rawon. Pulangnya dibawakan jajan,” kenang pria kelahiran 1972 ini.
Saat ini, di keluarganya, hanya dia yang memiliki keahlian dekorasi janur. Sering diminta membuat kembar mayang dan hiasan lain di berbagai pernikahan.

Selama itu, dia juga merasakan berbagai perubahan dalam proses pembuatannya. Terutama era setelah 2000, ketika janur sulit diperoleh. Tak bisa dicari di sekitar rumah. Melainkan harus membelinya di pasar khusus.
Baca Juga: Ketika Honorer ‘Senior’ Disdik Kota Kediri Berjuang Menjadi Pegawai Negeri
“Biasanya dulu bahan sudah disediakan oleh yang punya hajat,” ucapnya mengingat saat-saat itu.
Tak hanya janur yang sulit didapat, bunga pohon jambe pun jadi langka. Padahal, bunga itu juga digunakan isen-isen wajib. Akhirnya, sebagai solusi, saat ini diganti dengan bunga pohon palem.

“Tentu saja beda, karena bunga palem tidak selentur bunga jambe,” sebut Suroso.
Perubahan lain adalah waktu pengerjaan. Dulu, bisa semalam suntuk. Sebab, selain masih cara manual, juga ada ritual khusus. Terutama ketika penyerahan kembar mayang dari pembuat ke pemilik rumah.

Kini, ritual itu sudah tidak ada lagi. Kembar mayang sudah dibuat di rumah dan diantar dalam bentuk jadi. Selain itu, peralatan yang digunakan juga sudah lebih modern. Menggunakan gunting dan steples.

Sayang, upah membuat kembar mayang ini masih dianggap ora nyucuk bagi generasi sekarang. Karena itu, jarang yang mau belajar. Karena itulah, dari workshop kreasi janur itu dia berharap akan muncul generasi muda yang mau menggeluti. Agar keahlian ini juga ada penerusnya

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#sosok inspiratif #seniman kediri