Gadis ini sempat menjalani operasi amandel. Tapi, setelah itu mulai kehilangan keseimbangan.
Dokter menyebut saraf di otaknya terganggu. Kini, sang gadis remaja ini tidak bisa melihat dan mendengar.
HILDA NURMLA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Tatapan mata Sukarji tak bisa lepas dari anak pertamanya itu, Vanessa Siami. Remaja yang akrab disapa Vanes itu terbaring di kasur.
Di dalam rumah kecilnya, berukuran 4x7 meter, di Dusun Sambijajar, Desa Cengkok, Kecamatan Tarokan.
Bagai elang, mata Sukarji selalu memperhatikan keadaan sang anak dengan seksama. Tangannya tak berhenti mengelus dahi sang buah hati.
Mengusap dengan lembut. Buah hatinya itu didiagnosis menderita tumor syaraf. Kondisi yang membuat RSAL Ramelan Surabaya seakan menjadi tempat yang tak asing baginya. “Pernah setiap minggu harus datang. Entah untuk kontrol maupun menjalani tindakan operasi,” kenang Sukarji.
Tumor saraf ini diperkirakan muncul saat Vanes berusia 13 tahun. Suatu saat dia terjatuh dari sepeda. Membuat kepalanya sakit. Sayang, sang bocah tak berani melapor ke ibunya.
“Istri saya terlalu keras ke anak. Jadi, dia takut menceritakan kejadian sebenarnya,” kata Sukarji.
Sejak saat itu, Vanes sering mengeluh pusing. Yang oleh sang ibu dianggap hanya kekurangan darah saja. Serta diberi obat penambah darah.
Puncaknya ketika Vanes menjalani operasi amandel. Meskipun Sukarji-yang saat itu bekerja di Surabaya-meminta jangan operasi, istrinya tetap ngotot.
Setelah operasi itulah lambat-laun indra penglihatan dan pendengaran sang anak mulai hilang. Juga keseimbangan tubuhnya ketika berjalan.
Baca Juga: Wiji Indah Arianti, Wanita Kediri yang Gemilang di Masterchef Indonesia
“Sekitar lima bulan setelahnya dia menjalani operasi amandel. Dicabut amandelnya hingga serabut sarafnya. Sehingga berpengaruh ke jaringan otaknya,” imbuh Sukarji sembari menjelaskan jika kini istrinya itu pergi entah ke mana.
Sukarji tak bisa menutupi perasaannya yang sangat terpukul. Menyesal tidak bisa menghentikan langkah istrinya yang ternyata berdampak pada masa depan anaknya.
“Saat itu saya masih bekerja di Surabaya. Sudah saya larang tidak usah operasi. Namun diam-diam istrinya tetap melakukannya,” ucap lelaki berusia 38 tahun itu.
Rasa tidak terima sempat hinggap di hatinya. Bahkan dia seringkali merasa sedih jika melihat keadaan sang anak. Belum lagi ketika ada orang lain yang melihat kondisi Vanes dengan tatapan aneh.
Namun, Sukarji menyadari ini adalah ujian hidup. Yang harus dijalaninya dengan ikhlas. Kini, bersama dengan ibunya-nenek Vanes- anak keduanya, bahu-membahu menjaga dan merawat sang buah hati.
Tentu saja, Sukarji yang pekerjaannya hanya pedagang buah keliling tidak mampu mencukupi kebutuhan pengobatan Vanes.
Untungnya, bantuan dari donatur dan relawan sering mengalir. Dan itu membuatnya bersyukur. Empat kali operasi biayanya dibantu para relawan. Dia hanya mengeluarkan biaya operasional saja.
“Alhamdulillah yang terakhir memberi perubahan pada kondisi Vanes. Yang awalnya sulit makan, kini sudah bisa makan dengan lahap,” terangnya.
Sukarji pernah hilang harapan. Yakni ketika anaknya itu divonis mati. Dia sempat menangis. Namun, tiba-tiba ada yang berkata, bahwa tangan anaknya ngawe-awe lagi.
“Ini salah satu mukjizat luar biasa bagi kami,” ungkap Sukarji dengan penuh syukur.
Nenek dan adik Vanes juga terlihat sigap menunggu di sisi kasur. Sewaktu-waktu Vanes membutuhkan bantuan mereka cepat tanggap.
Setiap harinya mereka berkomunikasi dengan Vanes menggunakan bahasa isyarat yang dituliskan ke bagian telapak tangannya. Seperti waktu itu Vanes meminta mandi tetapi Sukarji masih berjualan.
Dia sempat marah karena tidak segera dituruti. Namun dengan sigap adiknya menuliskan ‘bapak berjualan’ di telapak tangannya. Dan Vanes pun langsung tenang kembali.
“Ya seperti ini setiap harinya. Setelah pulang sekolah membantu nenek menunggu kakak. Kasihan kalau nenek sendirian dengan permintaan kakak yang tiba-tiba dan harus dituruti,” ungkap Fiki Ardiansyah, sang adik.
Hidup dengan keterbatasan ekonomi, membuat keluarga ini memiliki rasa saling mengasihi dan empati yang tinggi.
Sang nenek rela seharian mendampingi Vanes. Sedangkan adiknya merelakan waktu bermain bersama temannya demi membantu merawat kakaknya.
“Kalau bapak sudah seharian bekerja di luar. Terkadang kalau pulang masih harus memandikan dan menyuapi makan. Bahkan sakit pun kadang tidak dirasakan,” ungkap Fiki sembari berkaca-kaca.
Di umur Fiki yang baru sepuluh tahun, kedewasaan dan kebesaran hatinya sudah terbentuk. Fiki sangat sayang kepada sang kakak. Tak peduli dengan keadaannya seperti apa.
Perilaku dan sikap yang ditunjukkan Fiki itu menjadi salah satu yang menguatkan hati Sukarji. Selain itu, dukungan dari ibu dan orang terdekatnya pun sangat berarti baginya. Sukarji tidak lagi merasa sendiri dalam menghadapi kondisi tersebut.
Keluarga mereka tetap saling menguatkan. Tidak peduli apa kata orang yang melihat negatif kondisi Vanes, mereka tetap menyayanginya.
“Bagaimanapun juga Vanes merupakan hadiah titipan dari Tuhan. Kami harus merawatnya dengan sepenuh hati,” tutur Sukarji.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira