Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Para Penderita Talasemia Berjuang Mendapatkan Kemudahan Akses Layanan Kesehatan, Bolak-Balik Jombang-Kediri Demi Setetes Darah

Ayu Ismawati • Sabtu, 17 Mei 2025 | 09:40 WIB
Photo
Photo

Bila sudah divonis kena talasemia, protokol kesehatan seumur hidup harus mereka jalani. Banyak yang harus ke luar kota untuk mendapatkannya. Karena tak semua kota tersedia layanan kesehatan untuk penyakit ini.

Bocah delapan tahun itu berjalan santai melewati koridor Rumah Sakit Bhayangkara. Tak canggung dengan aktivitas di sekitarnya.

Dengan lalu lalang para perawat dan dokter. Seolah-olah sudah terbiasa dengan suasana seperti itu.

Sesekali ibu sang bocah yang ada di sampingnya menebar senyum. Menujukan pada beberapa perawat yang menyapa si bocah gempal dengan pipi tembam menggemaskan itu. Yang bila dilihat sekilas mirip tokoh film kartun berjudul Up, Russel.

Bocah itu, bernama lengkap Erlangga Akhtar Yusuf, memang selalu bisa menarik perhatian orang di dekatnya. Selayaknya bocah seumurannya yang sangat aktif dan serba ingin tahu.

Pelajar kelas satu sekolah dasar ini juga aktif di berbagai kegiatan sekolah. Kerap mengikuti lomba mewarna yang memang jadi hobinya. Juga tergolong berotak encer, sering rangking pertama di kelasnya.

“Paling suka pelajaran matematika, PPKn, (eh) semuanya,” ucap sang bocah asal Jombang itu, sabelum meneruskan meminum susu kotak yang ada di pegangannya.

Tapi, Erlangga memiliki ‘penderitaan’ yang bisa membuat orang trenyuh. Dia didiagnosa menderita talasemia mayor sejak usia bayi.

Menderita kelainan genetik, membuat sistem imun atau kekebalan tubuhnya lebih rendah dibanding anak-anak yang lain.

“Sekolah dan bermain tetap seperti biasa. Cuma memang terkadang sebagai orang tua, kami biasanya (bilang) jangan capek-capek ya. Karena kalau kecapekan mudah cepat drop Hb (haemoglobin)-nya,” kata Sariasih, sang ibu, yang terus ada di dekat sang bocah.

Perempuan yang akrab disapa Sari itu menyampaikan, dia dan suaminya bukan penderita talasemia mayor seperti Erlangga.

Namun, yang pasti, tetap merupakan pembawa sifat. Karena kelainan sel darah merah itu merupakan penyakit genetik yang pasti timbul karena diturunkan dari orang tuanya.

“Dan turun ke anaknya ini kan ada persentasenya. Bisa 50 persen normal, 25 persen mayor, 25 persen minor. Kemungkinan ini yang 25 persennya itu yang mayornya,” terang Sariasih menyebut kemungkinan awal putranya menunjukkan gejala talasemia.

Saat ini, anak pertamanya itu harus rutin menjalani protocol pengobatan talasemia. Utamanya transfusi darah yang biasanya dilakukan setiap dua sampai empat minggu sekali, tergantung kondisi. Dan itu harus dilakukan di RSUD Gambiran Kota Kediri.

“Awalnya malah di Soetomo (RSUD Dr Soetomo Surabaya, Red). Tapi waktu (pandemi) Covid di sana, sempat, darah itu langka. Dan sempat nunggu juga di sana. Lalu kenal POPTI (Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia) Kediri. Akhirnya ditarik ke sini,” ceritanya, mengenang awal anaknya jadi berobat rutin di RSUD Gambiran sejak 2021.

Sejak saat itu, hampir setiap bulan dia selalu bolak-balik Kota Kediri-Jombang untuk mengakses pengobatan putranya. Memutuskan berobat di sana juga bukan tanpa alasan.

“Karena setiap anak kan berbeda-beda. Ada yang cocok dengan transfusi darah biasa, ada yang nggak. Nah dia termasuk yang nggak cocok. Harus yang dengan leoko. Dan adanya di sini. Kalau enggak, ada reaksi seperti panas, gatal,” ungkap perempuan 34 tahun itu.

Layanan kesehatan untuk protokol rutin talasemia memang sudah cukup terfasilitasi di beberapa rumah sakit di Kota Kediri.

Yaitu di RSUD Gambiran, RSUD Kilisuci, dan RS Muhammadiyah Ahmad Dahlan. Namun, dengan kebutuhan pengobatan yang selalu dinamis, masih ada beberapa kendala yang dihadapi pasien talasemia di Kediri.

Andy Mashudi, 39, mengatakan saat ini masih sulit mencari fasilitas kesehatan di Kediri yang bisa memberikan layanan secara utuh. Salah satunya dalam hal penegakan diagnosis talasemia yang belum bisa dilakukan di Kediri.

“Saya sampai sekarang belum penegakan talasemia. Jadi masih antara anemic atau talasemi. Karena untuk lebih validnya memang dianjurkan ke Surabaya (RSUD Dr Soetomo, Surabaya) tapi masih belum sempat ke Surabaya,” ungkap pria asal Banyakan itu.

Sebelumnya lewat pemeriksaan di rumah sakit di Kota Kediri, Andy memang dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di RSUD Dr Soetomo. Meski belum mendapat diagnosis definitif talasemia namun dia tetap harus menjalani transfusi darah secara berkala.

“Awalnya karena memang gejalanya identik. Kulit pucat, sering kelelahan. Tapi memang untuk penegakannya harus ke Surabaya,” tandasnya.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#pemkot kediri #Penderita Talasemia #radar kediri terkini