Dua puluh tahun wanita ini menggeluti usaha jamu. Bermodal resep turun-temurun dari keluarganya. Tak hanya digemari masyarakat menengah ke bawah, minuman herbal tradisional racikannya itu juga digemari tamu-tamu hotel berbintang.
EMILIA SUSANTI, Kota, JP Radar Kediri
Sepeda onthel itu terparkir di samping rumah. Warnanya biru. Sudah terlihat usang. Beberapa bagian catnya sudah mengelupas. Keranjang di bagian depan juga sudah penyok.
Ada gerobak dari kayu di bagian belakang sepeda itu. Tempat si pemilik menempatkan botol-botol berisi minuman yang jadi dagangannya, jamu.
Ya, sepeda itu memang milik Witanti. Seorang pedagang jamu keliling yang tinggal di Kelurahan Bandarlor, Kecamatan Mojoroto.
Yang dia gunakan menjajakan minuman tradisional bikinannya itu berkeliling kota. Berangkat dari rumah, menuju Pasar Bandar, Jalan Veteran, dan balik ke Jalan Penanggungan,
pulang.
“Ibu saya dulu juanan jamu gendong. Nenek saya juga,” cerita wanita yang mulai berjualan jamu sejak 1998 ini.
Ya, pekerjaan yang dilakoni Witanti memang turun-temurun. Dulunya, perempuan dengan dua anak ini sering membantu ibunya menyiapkan jamu.
Kebiasaan itulah yang membuatnya piawai meracik minuman tradisional tersebut hingga sekarang. Resep dari sang ibu itu pula yang dia pertahankan hingga saat ini.
“Rempah-rempahnya saya beli di Solo. Seperti adas, kedawung, saya beli di sana,” akunya.
Tentu saja berjualan di jalanan tidak mudah. Lebih-lebih Witanti dulunya merupakan seorang yang pemalu.
Jika berkeliling, dirinya hanya diam saja. Hanya menunggu orang untuk memanggilnya berhenti.
“Kalau sekarang sama pelanggan malah cerita-cerita. Setiap berhenti, ngobrol. Berhenti lagi di pelanggan lain ngobrol lagi,” candanya.
Menariknya, jamu buatannya tidak sekadar jamu keliling biasa. Sebab, sudah menjadi salah satu minuman jamuan di hotel-hotel berbintang di di Kota Kediri.
Tidak hanya satu hotel saja. Melainkan ada dua hotel yang jatuh cinta dengan jamu buatan Witanti.
“Saya sudah supply dari tahun 2014. Dulu ibuk saya sebenernya yang lebih dulu. Tetapi karena ibuk saya itu orang kuno, kalau pulang ke Solo itu nggak bilang ke hotelnya. Akhirnya diganti orang lain,” ingatnya sembari menyebut ibunya berhenti memasok ke hotel tersebut pada 2010.
Ternyata, penjual jamu yang menggantikan ibunya itu memiliki masalah dengan pihak hotel. Sehingga, pasokan jamu di hotel tersebut pun kosong.
Dan saat dirinya mendengar informasi tersebut, dirinya langsung menyiapkan sample kepada pihak hotel. Tanpa menunggu lama, Witanti langsung disuruh untuk mengirim keesokan harinya.
“Dulu itu nggak cuma jamunya. Saya juga disuruh pakai kebaya, jamunya ditaruh botol-botol dan dimasukkan rinjing, lalu kalau ada tamu yang nuangin,” kenangnya.
Rutinitas itu dijalani selama kurang lebih dua tahun. Setiap pagi mulai pukul 06.00 WIB sampai 10.00 WIB.
Sementara, jamu yang harus dia sediakan yaitu beras kencur, kunyit asem, sinom, sirih kunci, cabe puyang, gula asem, dan paitan atau sambiloto.
“Karena saya hamil, saya nggak lagi harus ke hotel. Tapi terus disuruh kirim aja nanti ada mbake di sana yang jaga,” lanjutnya.
Memasok minuman jamu sejak 2014 hingga sekarang, tentu saja ada komplain yang datang. Dia pun bercerita bahwa ada yang me-review bahwa rasa jamu buatannya terlalu manis. Setelah itu, dia pun merevisi rasa jamu buatannya.
“Tapi habis itu ada yang komplain lagi kurang manis. Wis akhirnya kembali lagi ke rasa asli jamu saya. Mungkin kan ilate (lidahnya, Red) orang beda-beda saya, seleranya beda-beda,” ceritanya.
Meski permintaan jamu dari hotel sudah pasti, Witanti tetap bersikukuh untuk berjualan keliling.
Alasannya seperti yang dikatakan sebelumnya. Karena senang senang bertemu dengan para pelanggannya. Karena dia bisa mengobrol dan bercerita dengan para pelanggannya. Padahal, berkeliling menjual jamu dengan cara bersepeda bukanlah hal yang mudah.
“Susahnya itu kalau ban meletus. Yang sering ya itu. Jadi harus nurunin barang-barangnya dulu. Terus baru diganti atau ditambal bannya,” katanya.
Namun demikian, Witanti sangat menikmati pekerjaannya sebagai penjual jamu. Meski sudah memiliki permintaan tetap dari hotel, dia tetap berusaha membuat jamunya lebih terkenal lagi. Bukan cuman berkeliling, dirinya juga merambah pesanan online.
“Pesaing banyak. Tetapi saya santai karena rejeki ada yang ngatur,” tandasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira