Lima siswa SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School ini punya cara tersendiri mengungkapkan rasa terima kasih kepada Bupati Dhito. Menghadiahi sang kepala daerah dengan karikatur diri.
HILDA NURMALA RISANI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Lima remaja berseragam khas sekolahnya, SMA Dharma Wanita 1 Pare Boarding School. Atasan berwarna biru muda, dipadu bagian bawah biru dongker. Lengkap dengan dasi warna merah.
Di bagian kepala, yang pria terpasang baret yang warnanya sama dengan warna dasi. Sementara yang perempuan, dua orang di antaranya, baret itu berganti menjadi jilbab.
“Idenya baru muncul lima jam sebelum berangkat ke pendapa,” terang Muhammad Kelvin Andrian Maulana. Pemuda 17 tahun ini adalah ketua organisasi siswa intra sekolah (OSIS) sekaligus pemilik ide.
Ya, Kelvin ingin memberi kenang-kenangan kepada Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana. Sebagai bentuk terima kasih atas fasilitas luar biasa yang diberikan untuk mereka.
Dan, kenang-kenangan itu harus diberikan hanya beberapa jam lagi. Saat mereka mendapat kesempatan menginap di Pendapa Panjalu Jayati (3/5).
“Terlintas di pikiran, memberikan sesuatu yang tidak komersial. Namun bisa dikenang meskipun nanti beliau tidak menjabat lagi,” lanjutnya.
Awalnya dia bingung apa yang akan diberikan. Ide baru mengerucut setelah dia dan Darul Ulum, teman satu kelasnya, berbincang dengan guru seni.
Yang menyarankan memberi hadiah berupa karikatur, yang identik dengan Bupati Dhito.
“Saat itu saya sempat bingung. Jujur, saya memang punya ide bagus. Tetapi kurang bisa mengaplikasikan dalam bentuk karya,” aku sang ketua OSIS.
Melihat kebingungan itu, sang guru menyodorkan tiga nama yang bisa membantu. Yaitu Adellia Deviana Eka Putri, Anggun Usnaha, dan Ahmad Galih.
“Saya juga kaget, tiba-tiba dipanggil ke ruang OSIS. Diminta menggambar bupati dan istrinya,” ucap Anggun, menimpali cerita rekannya.
Di antara kebingungan teman-temannya itu, Kelvin mulai membagi tugas. Anggun dan Adel bagian menggambar karikatur. Sedangkan dia dan Ulum mencari atau membeli apa yang dibutuhkan. Seperti kertas ukuran A4, cat semprot berwarna bening atau clear, serta pigura.
“Kalau Galih ini yang membantu finishing. Sekiranya perlu ditambah ornamen atau sejenisnya dia yang melakukan,” papar Kelvin.
Masalah tuntas? Tentu saja belum. Apalagi mereka harus berkarya di tengah padatnya jadwal belajar.
Belum lagi, semua dikerjakan dalam keterbatasan biaya. Akhirnya, mereka berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan barang bekas yang layak pakai.
“Pensil warna dan beberapa peralatan kami memanfaatkan yang sudah ada,” tandasnya.
Anggun dan Adel mulai bekerja pukul 13.00. Selesai satu jam kemudian. Sayangnya karya itu tak disetujui oleh guru seni. Alasannya, kurang menunjukkan identitas dan karakter Bupati Dhito.
“Kami berdua sempat mau menangis. Karena capek-capek menggambar, tiba-tiba disuruh mengulangi semuanya,” ungkap Anggun dan Adel, bergantian.
Padahal, mereka sudah harus tiba di pendapa pukul 16.30. Artinya, hanya tersisa dua jam setengah saja.
Tak ayal, ibarat pertandingan sepak bola, mereka harus mengulang di menit akhir. Segera para pelajar itu berselancar di dunia maya. Untunglah segera bertemu dengan ide baru.
Yaitu Bupati Dhito dengan Vespanya, serta Bu Cicha-panggilan akrab Eriani Annisa, istri Dhito-mengenakan kebaya merah.
“Konsep ini kami tuangkan dalam dua karya. Pak Dhito dan Bu Chica dengan ciri khasnya masing-masing,” terang Kelvin.
Mereka pun ngebut menggambar. Tepat pukul 15.00 atau hanya satu setengah jam sebelum berangkat ke pendapa.
Dengan segala tantangan tersebut, mereka berlima saling bahu membahu. Ada yang mempersiapkan pigura, ada juga yang bersiap menyemprotkan cat clear.
“Sempat, ketika karikatur sudah jadi dan disemprot cat clear ternyata kebanyakan. Membuat merembes di kertas. Kami memutar otak dengan mengambil tisu dan diangin-anginkan agar segera kering,” kenangnya.
Belum lagi, karya yang sudah jadi itu sempat terkena tumpahan cat air. Membuat mereka berlima sudah hampir angkat tangan tanda menyerah.
Untungnya, Kelvin meyakinkan teman-temannya bahwa hal itu bisa diatasi. Yaitu, menutup bagian yang tertumpah cat air dengan gambar awan.
“Saya terus memberikan semangat kepada mereka. Ayo pasti bisa menyelesaikannya, sudah jangan ragu,” ucapnya.
“Alhamdulilah Pak Dhito dan Bu Chica menerima dengan penuh bangga dan terharu. Ke depannya kami berlima juga berencana membuatkan karya untuk pak Bupati dengan ukuran yang lebih besar,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira