Darah seni mengalir ke diri lelaki bertato ini. Namun, bukan menjadi pemusik seperti ayahnya. Melainkan sebagai modifikator skuter, yang karyanya terkenal hingga Eropa.
EMILIA SUSANTI, Kabupaten, JP Radar Kediri
Namanya terdengar elok di telinga, Danang Ki Asmoro. Mirip nama-nama seniman Jawa yang terjun di dunia pedalangan. Tapi, nama panggilannya boleh disebut melenceng. Sehari-hari dia dipanggil Tepos.
“Dulu, waktu SMA ada dua nama Danang. Yang satu gemuk, sedangkan saya kurus. Mangkane dipanggil Tepos,” ucap sang pemilik nama berkisah.
Toh, panggilan itu tak menghilangkan darah seni yang mengalir dari kedua orang tuanya. Selain pemusik, sang ayah juga seorang pengukir kayu.
Sedangkan sang ibu seorang sinden. Belum lagi fakta bahwa sang bibi, dari sang ayah, bergelar raden ajeng dari Keraton Jogjakarta.
Lalu, apa keahlian Tepos? Yang jelas, Danang jago dalam membuat sketsa. Karyanya itu memang tak banyak yang menghiasi kanvas berpigura. Melainkan di kaus-kaus.
Keahliannya yang lain adalah mengolah barang rongsokan menjadi sesuatu yang bernilai. Tak heran bila banyak barang-barang bekas yang menumpuk di bengkel kerjanya, di teras rumahnya di Dusun Galuhan, Desa Kandat, Kecamatan Kandat.
Sebagian berada di rak susun dari besi yang menempel dinding yang batanya masih jelas terlihat. Sebagian lagi menumpuk di lantai. Atau, tergantung di langit-langit.
Tapi bengkel itu tak didominasi barang-barang bekas seperti lampu, knalpot, spion, stang, ataupun helm. Ada pula kendaraan jenis skuter yang tengah terbongkar bagian-bagiannya.
“Di sini untuk modifikasi Vespa,” terang sang pemilik, sambil sibuk mengutak-atik bagian kendaraan tersebut.
Ya, Danang juga pemilik bengkel modifikasi skuter yang dia beri nama RSJ. Kependekan dari Rosok Skuter Jahanam.
Hebatnya, hasil karyanya tak hanya dinikmati warga sekitar maupun nasional saja. Tapi sudah jauh melintasi lautan menuju Benua Biru, Erop. Tepatnya di Swiss.
“Dulu di tahun 2008. Waktu itu ada teman dari Jakarta yang menghubungkan (dengan orang dari Swiss),” ceritanya.
Bukan hanya sekali itu dia berhubungan dengan penyuka karyanya dari luar negeri. Pernah pula dia didatangi pelanggan dari negeri jiran, Malaysia.
Selain itu, markas RSJ miliknya juga sering digunakan sebagai jujukan bagi komunitas atau orang-orang yang sedang touring.
Mereka tak hanya datang dari Pulau Jawa. Melainkan juga daerah-daerah lain seperti Lombok, Sumatra, dan lainnya.
Bukan sekadar rehat. Mereka yang kehabisan uang selama touring juga bisa bekerja di bengkel miliknya.
“Anak-anak yang touring kan nggak sebentar. Kadang ada yang kehabisan duit. Terus di sini kerja dapat gaji, setelah itu berangkat lagi (touring, Red),” ujar pria bertato itu.
Mengulik lebih dalam, Danang mengaku bahwa bengkelnya itu dimulai sejak 2005 silam. Dulunya belum berlokasi di alamat yang sekarang. Melainkan di Banjaran, Kota Kediri.
Mengenai awal mula dirinya membuka bengkel modifikasi, tersimpan cerita panjang dan penuh liku yang dilalui.
Sebelumnya, bapak empat anak itu menggeluti usaha jasa tato. Sekitar 2003 silam di Kota Surabaya. Tak heran, lengan pria berusia 46 tahun ini dipenuhi dengan tato.
“Saya berhenti karena ibu saya. Ya dinasihati kalau mau ngopeni (menghidupi, Red) anak dari uang yang bener,” ingatnya dengan menyebut bahwa tato bisa merusak orang.
Pengalaman pahitnya tidak hanya karena membuka jasa tato. Dulu, anak sulung dari tiga bersaudara tersebut pernah diusir oleh sang ayah.
Kala itu, dia membuat keputusan yang sangat mengecewakan bagi kedua orang tuanya.
“Jadi dulu keterima PNS. Tetapi penempatannya di Sumenep dan saya tidak mau. Jadi diusir,” kenangnya.
Karenanya, hubungan Danang dengan Ayahnya sempat renggang bertahun-tahun. Dia hanya berkomunikasi dengan ibunya setidaknya satu bulan sekali. Untuk memberikan sebagian penghasilannya untuk membantu adik-adiknya.
“Tapi sekarang bapak ikutnya sama saya,” lanjutnya sebagai tanda bahwa hubungannya sekarang sudah harmonis.
Kini, Danang hanya berfokus pada bisnis modifikasinya. Ada empat karyawan yang membantunya. Lalu, omzet bisnisnya bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam sebulan.
Tak hanya bergelut pada modifikasi vespa, dia juga sering menggarap pesanan kaos untuk event Vespa. Tentu dengan desain gambar dari tangannya.
“Di sini modifikasi antara Rp 25 juta sampai Rp 30 juta. Sebenarnya, satu bulan bisa empat Vespa, karena di sini jam kerjanya bebas jadi biasanya dua bulan,” katanya.
Terbaru, Danang merambah ke dunia media sosial untuk mempromosikan usahanya. Lebih tepatnya di Facebook dan Instagram.
Lucunya, apa yang dilakukannya tersebut bertolak belakang dengan pandangannya dulu terhadap media sosial.
“Dulu itu saya anti. Tapi sekarang sehari bikin tiga video,” akunya.
Bukan tanpa sebab. Aktivitas kesehariannya yang diunggah mendapat antusiasme tinggi dari pengikutnya.
Alhasil, dia pun mendapat cuan dari Facebook. Mulanya hanya Rp 3 juta kini sudah bisa memperoleh Rp 10 juta dalam satu bulan.
Terlepas dari itu, ada sisi lain dari sosok Danang yang cukup menarik. Utamanya berkaitan dengan hasil karya modifikasinya. Dia merasa tidak keberatan bila desainnya ditiru oleh bengkel modifikasi lainnya.
“Saya malah senang bisa bermanfaat, hanya saja jangan pakai nama RSJ. Karena semakin ikhlas rejekinya semakin mudah,” tandasnya
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira