Setiap coretan desainnya punya filosofi. Terinspirasi dari kisah Panji Asmarabangun dan Galuh Candra Kirana. Mengantarkan karyanya itu terpilih sebagai pemenang dalam Sayembara Desain Pakaian Khas Kota Kediri yang digelar Forkopim.
HABIBAH A. MUKTIARA, Kota, JP Radar Kediri
Dari seberang telpon, suara Franky Kurniawan terdengar gembira. Sangat antusias dalam bercerita. Maklum, pria yang tinggal di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember ini baru memenangkan sayembara desain pakaian khas Kota Kediri.
Kemenangan itu, baginya, tergolong mengejutkan. Sebab, pertama kali ini dia mendesain pakaian berbasis kain tenun. Biasanya adalah desain untuk kain batik.
“Ini yang pertama ikut lomba desain menggunakan kain tenun,” akunya.
Walaupun orang Jember, Franky tidak asing dengan Kediri. Istrinya berasal dari Kediri. Tepatnya di daerah Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Keikutsertaannya dalam sayembara ini juga bertepatan ketika dia berada di Kediri.
“Waktu itu sedang berada di Kediri. Kemudian, saya mencoba ikut,” terang Franky, menyebut bahwa dia tahu ada lomba ini setelah melihat postingan Instagram milik Pemkot Kediri.
Penggagas sayembara itu adalah Bagian Protokol Komunikasi Pimpinan (Prokopim) Pemkot Kediri. Berlangsung mulai 24 Maret hingga 14 April lalu. Sebagai salah satu upaya pemkot melestarikan tenun ikat Bandarkidul.
Karena upaya pelestarian kain tenun, tentu saja karya peserta harus memasukkan unsur tenun. Sekaligus memiliki makna khusus atau filosofinya.
Untungnya, karena juga rutin berada di Kediri, pria 30 tahun ini tak asing dengan tenun Bandarkidul. Dia pernah mendatangi Kampung Tenun Ikat yang berada di Kelurahan Bandarkidul, Kota Kediri.
Melihat proses pembuatan kain khas ini. Pengalaman inilah yang membantunya dalam melakukan riset.
Untuk melengkapi, dia juga membaca berbagai artikel tentang motif kain tenun. Agar bisa menciptakan karya sesuai syarat lomba. Yaitu bisa untuk pakaian sehari-hari maupun acara formal.
Akhirnya, ketemulah ide desainnya. Yaitu membuat desain dengan motif ceplok dan wajik. Yang tampilannya seperti bunga besar serta motif geometris yang biasa digunakan untuk bahan baju atasan.
Sedangkan nama desainnya adalah Panji Galuh. “Terinspirasi cerita Panji Asmarabangun dan Galuh Candra Kirana,” terang anak pertama dari dua bersaudara ini.
Desain karya Franky ini menggunakan bunga teratai sebagai aksesoris di bagian tengah pakaian untuk pria. Sedangkan bagian bawah dikembangkan dengan tambahan celana panjang.
“Hiasan kepala berupa udeng dengan kain senada dengan bagian bawah,” beber lulusan jurusan Seni dan Desain Universitas Malang (UM) ini.
Bagian atasan desain Franky berupa beskap. Terinspirasi seperti yang dikenakan duta wisata Panji-Galuh. Menggunakan kombinasi tenun polos dan motif wajik.
Namun, ketika dinyatakan menang, motif bagian atasan ini diminta diubah oleh pemkot. Menjadi berbentuk kemeja dengan lengan tiga per empat. Alasannya, desain berupa beskap tak nyaman digunakan sebagia pakaian harian.
“Itu sudah biasa. Setiap lomba desain besar akan ada perubahan. Saya juga cuma butuh waktu satu jam untuk mengubahnya,” terang peraih gelar master bidang Pendidikan Seni dari Fakultas Bahasa Seni dan Budaya Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) ini.
Bagaimana dengan desain pakaian perempuannya? Bentuknya berupa kebaya kreasi dengan aksesori selendang.
Pada selendang tersebut disematkan payet teratai. Selendang tersebut juga diikat sabuk berwarna emas.
“Selendang ini tidak jadi satu dengan pakaian. Karena kalau sehari-hari nanti ribet,” ungkap Franky.
Sedangkan untuk bawahan berupa rok panjang dengan bawahan wiru di bagian belakang. Bawahan ini menggunakan kain tenun motif ceplok dan warna dasar ungu, yang sudah jadi warna khas Kota Kediri.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira