Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Cerita Fitriara Kurnia Syafa, Peraih Runner Up Putra-Putri Tari Cilik 2024 asal Kediri yang Tak Ingin Tarian Tradisional Punah

Ayu Ismawati • Minggu, 4 Mei 2025 | 03:17 WIB

 

 

INSPIRATIF: Sosok Fitriara Kurnia Syafa memeragakan tarian tradisional.
INSPIRATIF: Sosok Fitriara Kurnia Syafa memeragakan tarian tradisional.

JP Radar Kediri- Di era modern seperti sekarang, tak banyak anak-anak yang punya perhatian pada seni tari tradisional. Fitriara Kurnia Syafa menjadi salah satu bocah yang menepis anggapan tersebut. Siswa SMPN 1 Kediri itu memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk menyebarkan wawasan tari tradisional ke teman sebaya. 

Remaja yang kerap disapa Syafa itu telah membuktikan, untuk menjadi profesional tak pandang usia. Siswa SMP kelahiran 2009 itu didapuk sebagai runner up dalam kompetisi Putra Putri Tari Cilik Indonesia 2024. Dari prestasinya itu, Syafa kini mendapat tugas untuk mempromosikan tari tradisional agar bisa lebih dikenal masyarakat. 

 Baca Juga: Mengenal Diah Widarni, S.E., S.Pd, Sosok Kepala Desa Doko, Kabupaten Kediri yang Inspiratif Membangun Desa Wisata Berbasis Olahraga

Sasaran paling realistis adalah teman sebayanya yang merupakan anak-anak muda. Kenapa harus anak muda? Karena Syafa ingin tarian tradisional yang dicintainya itu punah. Untuk memperkuat tekadnya itu, dia juga bercita-cita menjadi dosen seni tari.

Kecintaan Syafa pada tari tradisional sudah mengalir sejak ia duduk di bangku SD. “Dulu kegiatanku tidak hanya tari. Satu waktu pernah bebarengan jadwalnya, akhirnya sama orang tua disuruh memilih salah satu yang paling enjoy untuk dijalani,” kenangnya. 

Baca Juga: Membanggakan! Ais dan Fara, Dua Siswa SMKN 2 Kediri yang Meraih Prestasi di LKS Dikmen Jawa Timur 2025

Dia memilih tari karena ada hal yang berbeda setiap kali menampilkan tari tradisional. Selama menari itu pula, pelajar asal Kelurahan Singonegaran, Kecamatan Pesantren itu merasa bisa mengekspresikan dirinya yang sesungguhnya. 

“Pertama kali yang mengenalkan tari ini adalah orang tua. Latihannya di sanggar,” ujarnya. 

 Baca Juga: Niko Syukron Abdillah, Siswa SMK Kartanegara Wates, Juara 1 Welding dalam LKS Dikmen Jatim

Di tengah aktivitasnya sebagai pelajar SMP, Syafa tak pernah absen berlatih menari. Dia melakukannya setiap hari. Meski kerap merasa lelah namun rutinitas itu tetap konsisten dilakukan. Terlebih di tengah persiapannya menghadapi Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim, Juni mendatang di Malang.

“Saya ikut dua nomor di porprov. Ada traditional dance sport sama dansa. Dan dansanya itu latihannya di Surabaya setiap Jumat dan Sabtu,” beber pelajar kelas IX itu. 

 Baca Juga: Inilah Sosok Sari Gunawan, Owner CV Harika Berkah Yumnaa yang Peduli dengan Sesama

Baginya, mengenalkan tari tradisional kepada teman-teman seusianya memiliki tantangan tersendiri. Sebab, anak-anak seusianya kerap tutup mata dengan kebudayaan. Padahal ada banyak jenis tarian tradisional yang tidak kalah menarik. 

“Sebenarnya miris juga karena terpengaruh budaya luar, terkadang budaya kita sendiri dilupakan. Tapi Syafa dan teman-teman sebisa mungkin tetap menginspirasi supaya mereka mau mempelajari budaya tradisional, khususnya menari,” ujarnya yang bangga bisa menjadi salah satu anak muda yang mau menghidupkan tari tradisional. 

 Baca Juga: Dari Staf Bimbingan Belajar, Septiana Eka Arwanda Riski Kini Jadi Owner Anemone di Kota Kediri

Untuk memperkenalkan tari tradisional kepada teman sebayanya, Syafa harus mencari cara yang sesuai dengan kebutuhan anak muda. Salah satunya adalah memaksimalkan peran media sosial atau medsos yang banyak diakses anak muda khususnya seusianya. 

“Biasanya kalau Syafa lagi latihan nari, atau lagi tampil, itu sering Syafa unggah di medsos. Supaya teman-teman juga tahu kalau seperti ini tari tradisional itu,” akunya. 

Baca Juga: Cerita Gelar Gian Crismeril, Dulu Dibully Tapi Sekarang Sukses Kenalkan Tari Kediri ke Mancanegara 

Syafa menjalani semuanya dengan gembira. Rasa lelah yang menghampirinya akan hilang karena besarnya rasa cinta pada seni tradisional itu. “Karena sudah lama menyukai dunia ini, saya juga ingin jadi dosen tari. Yang terpenting, orang tua juga mendukung,” ungkap buah hati dari pasangan Sunarsih dan M. Junaidi. 

Jalan sulung dari dua bersaudara itu memang masih panjang. Kecakapannya membawakan tarian tradisional khas kebudayaan Jawa, Sumatera, hingga Bali saat ini bisa jadi masih akan terus terasah. Waktu dan usaha yang dicurahkan untuk berlatih dan memupuk mimpi di usia remaja ini akan menjadi bekalnya meraih cita-cita.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.

Editor : rekian
#smpn 1 kediri #kediri #tari tradisional #tari cilik #putra-putri #tarian tradisional #kota kediri