KEDIRI, JP Radar Kediri-Perjuangan Gelar Gian Crusmeril untuk menjadi seorang penari profesional bukan tanpa hambatan. Tantangan tidak hanya dari eksternal. Tapi juga internal. Dia pernah merasakan sakitnya dibully teman sekolah. Dan tidak didukung sang ayah. Semua kerikil itu menjadikannya tumbuh sebagai anak yang kuat dan bermental baja.
“Arek wedok kok pencilakan (anak perempuan kok banyak tingkah, Red),” kalimat itu masih terngiang di telinga Meril -sapaan akrab Gelar Gian Crusmeril.
Kata-kata itu disampaikan almarhum sang ayah ketika Meril masih duduk di bangku SMP. Merasa tak dapat dukungan dari ayahnya, alumni SMPN 2 Pare yang sudah terlanjur cinta dengan seni tari tak berani terang-terangan.
Anak dari pasangan almarhum Giax Sugiad dan Kristin Setyo Asih itu tetap berlatih meski hanya diam-diam. Karena tekadnya yang kuat, Meril justru kerap ikut lomba dan menjadi juara. Tentu saja prestasinya itu telah membanggakan sekolahan.
Karena prestasinya itulah, hati sang ayah akhirnya luluh kemudian meridhoi apa pun yang saat itu digeluti Meril. Jika satu persoalan selesai bukan berarti tidak ada kerikil.
Saat prestasinya sedang memuncak, Meril yang saat itu duduk di bangku SMP justru kerap dibully oleh kakak kelasnya di SMP. Dia menduga, kakak kelasnya merasa iri atas semua yang telah dicapainya.
“Saat itu saya ikut lomba dance di sekolah dan ternyata setiap tahun memperoleh juara. Dari juara 3, 2, hingga juara 1,” kenangnya.
Merasa bakatnya sebagai penari, Meril ketika SMA memberanikan diri untuk menguji kemampuannya dengan melatih teman yang berbeda sekolah. Kebetulan, di sekolah temannya itu mewajibkan ujian praktik, salah satunya praktik menari untuk kelulusannya.
Dia melatih temannya itu hingga kemudian dinyatakan lulus. Dari situlah, kepercayaan diri Meril semakin tinggi. Hingga kemudian dipercaya sebagai pelatih tari. Saat itu, sang ayah bisa legowo dengan apa yang menjadi pilihan Meril.
Berkat kepiawaiannya menari, perempuan asal Pare itu kerap dipercaya untuk membawakan tari khas Kediri di mancanegara. Baru-baru ini, bersama timnya, Meril membawakan tari Dewi Kilisuci dan Ambathik Kediren di Malaysia dan Thailand.
Istri dari Ody Widya Asmara itu bisa membiayai kuliah dari tari. Bahkan ikut membantu ekonomi keluarga. Perempuan yang lahir 31 tahun silam itu sukses dengan sanggar yang dia dirikan sendiri dengan nama Sanggar Flying Star Dance dan Sanggar Sekartaji Kontemporer.
Dari sanggar itulah, alumni SMAN 1 Pare itu berhasil membawakan berbagai jenis tari Kediri ke mancanegara. Selain Malaysia dan Thailand, dia sebelumnya juga pernah membawakan tari Kediri itu di Filipina dan Turki. Saat ini, dia aktif sebagai guru bimbingan konseling di SMP Muhammadiyah 1 Pare.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : rekian