Sejak remaja, perempuan ini sudah getol belajar ilmu kebencanaan. Menjadi modal sebagai anggota tim unit reaksi cepat BPBD Kota Kediri. Menghilangkan stigma bahwa wanita tak bisa berkarya di bidang kerja yang ‘maskulin’.
AYU ISMA, KOTA, JP Radar Kediri
Predikat Kartini masa kini layak disematkan ke sosok Pegy Verdianti. Membuktikan bahwa kesetaraan gender memang layak didapatkan kaum perempuan seperti dirinya.
Terbukti, dia bisa bekerja di antara para pria yang menjadi anggota tim unit reaksi cepat (URC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri.
Tentu saja, hal ini dicapai oleh perempuan kelahiran 1997 ini dengan kerja keras. Pegy adalah anggota pramuka sejak belia.
Mempelajari ilmu-ilmu kebencanaan ketika berada di bangku SMP. Termasuk pertolongan pertama saat terjadi bencana.
“Sebelum di BPBD saya aktivis Brigade Penolong, sejak 2016,” ujarnya.
Mengawali karir sebagai seorang relawan kebencanaan, perempuan asal Kelurahan Setonopande, Kecamatan Kota, ini memilih totalitas.
Dia membuktikan bahwa sebagai seorang perempuan, tak akan menjadi penghalang mengembangkan kompetensi.
Meskipun di bidang yang dikenal maskulin. Menantang stigma dan membuktikan bahwa kompetensi tidak mengenal jenis kelamin.
“Waktu Covid-19, saya dipanggil (untuk bergabung) di BPBD. Untuk penjagaan lockdown di desa-desa. Setelah itu, saya diikutkan diklat HART (High Angle Rescue technique, Red) bersama Basarnas. Di situ saya jadi lulusan terbaik perempuan dari satu angkatan itu,” ungkap anggota perempuan satu-satunya di URC BPBD Kota Kediri tersebut.
Tak hanya puas dengan kompetensi pertolongan korban di ketinggian atau vertical rescue saja, Pegy juga seorang anggota URC yang mengantongi sertifikasi penyelamat air atau water rescue.
Membuatnya kompeten dalam melakukan semua pertolongan. baik di air maupun di ketinggian.
Dua kali mengikuti pelatihan oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), tidak ada perlakuan khusus baginya yang seorang perempuan.
Semua dianggap setara dalam pengujian kompetensi yang berlangsung dua pekan itu. Khususnya saat uji kompetensi water rescue, Pegy menjadi satu-satunya peserta perempuan di angkatannya.
Sekali lagi membuktikan bahwa perempuan bisa mengejar prestasi yang sama meski di lingkungan yang didominasi laki-laki sekalipun.
“Mentor saya pernah bilang begini, kita sebenarnya di sini sama saja. Laki-laki atau perempuan sama saja.
Yang membedakan cuma kelaminnya saja. Jadi ujian ini tetap berlanjut. Nggak peduli kamu perempuan atau laki-laki. Karena ini misi kemanusiaan,” kenangnya.
Perempuan yang pada 21 April lalu mendapatkan penghargaan dari Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati sebagai Wanita Berprestasi itu sudah menggeluti dunia kerelawanan sejak usia remaja.
Beberapa kali Pegy harus berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawa. Mulai dari menjadi relawan bencana saat erupsi Gunung Kelud hingga petugas jaga lockdown selama Pandemi Covid-19.
Khusus selama covid, itu menjadi pengalaman paling tak terlupakan. Saat itu, selama setahun lebih dia ditugaskan menjadi petugas pengawas lockdown di desa-desa.
Di luar tugas kemanusiaan yang diembannya, rasa was-was tetap menghantuinya saat itu.
“Saya takut sekali setiap mau pulang ke rumah. Takut nggak sadar menularkan ke orang tua. Jadi waktu selesai penjagaan, saya selalu mandi, cuci baju, saya pakai lagi. Setiap hari seperti itu,” ungkapnya anak bungsu dari lima bersaudara itu.
Bekerja di bidang kemanusiaan tak selalu berjalan mulus bagi Pegy. Angannya kembali lagi pada akhir 2020. Saat dia bertugas di masa Covid-19, orang tuanya sempat melarangnya.
“Tapi karena saya berhubung anaknya ndablek, saya yakinkan orang tua kalau saya bisa jaga diri. Kuncinya meyakinkan orang tua,” tandasnya, diikuti tawa ringan.
Panggilan hati untuk bekerja di bidang kemanusiaan itu kini mendapat dukungan penuh dari orang tua.
Seolah sudah maklum dengan risiko pekerjaan. Termasuk saat tak bisa pulang ke rumah ketika tugas memanggil. Sekaligus menambah semangatnya menjadi penolong bagi masyarakat.
“Karena saya suka menolong. Saya suka saat melihat orang yang saya tolong itu tersenyum. Jadi saya ingin bermanfaat untuk orang lain,” ucapnya, mengungkap motivasinya menjalani karir di BPBD.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira