Awalnya memang meneruskan usaha orang tua, berjualan umbi-umbian kukus. Namun, tekadnya berkembang ingin mengajak orang hidup sehat. Kini, setelah melibatkan media sosial, omzet dan keuntungannya menjadi berlipat.
HILDA NURMALA RISANI, Kota, JP Radar Kediri
Hari masih pagi. Waktu juga belum menunjuk pukul 06.00. Namun, Muhammad Aziz sudah mendorong gerobak beroda dua miliknya menyusuri jalanan gang.
Menuju tepi jalan HOS Cokroaminoto. Di seberang Pasar Pahing, salah satu pasar besar yang dikelola Pemkot Kediri.
Di depan toko yang masih tertutup rapat pemuda berkaus lengan panjang abu-abu tua, berpadu celana jeans hitam, menempatkan gerobaknya.
Berada di bahu jalan. Mepet dengan trotoar yang posisinya lebih tinggi.
Setelah itu, Aziz mulai bekerja. Memasang payung berdiameter 260 sentimeter. Melindungi seluruh badan gerobak sepanjang satu setengah meter.
Menata loyang, berjumlah dua, berikut alat penjepit makanan.
Sedangkan di gerobak, sudah tertata kompor satu tungku. Ada dua lubang besar yang terisi panci besar. Di atas panci tersebut ditempatkan kukusan bambu, yang biasa disebut klakat. Di dalam klakat itulah terletak aneka dagangannya.
Mulai dari makanan dari umbi-umbian-atau pala pendem-, pisang, hingga labu. Semuanya masak dengan cara dikukus.
“(Jualan) pala pendem ini dulu dirintis orang tua. Sempat berhenti kemudian saya teruskan lagi. Sekitar dua atau tiga tahun terakhir ini,” ucap pria berpenampilan rapi ini, di sela-sela melayani pembeli yang mulai berdatangan.
Karena meneruskan usaha orang tuanya, lokasi berjualan pun tetap. Hanya berjarak 100-an meter dari rumah.
Sebenarnya, anak ketiga dari enam bersaudara ini adalah lulusan teknik mesin di salah satu politeknik Kediri.
Namun, dia memilih tak mencari kerja yang sesuai dengan pendidikannya. Alasannya sederhana. Dia merasa kemampuannya tak maksimal di jurusan itu.
“Saya sempat bekerja sebagai warung kopi di daerah Kaliombo,” terangnya.
Tujuh bulan ikut orang, dia merasakan bosan. Setelah itu terpikir untuk melanjutkan usaha yang telah dilakukan orang tuanya dulu.
Sebagai penjual pala pendem di tepi jalan, jam buka warga Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren ini juga tak lama.
Hanya empat jam. Mulai pukul enam pagi hingga sepuluh siang. Tepatnya ketika toko di belakangnya buka.
Jalan yang harus dilalui Aziz tidaklah lempeng. Di awal-awal justru mengalami kesulitan. Merasakan pasang surut penjualan. Kadang, satu hari hanya bisa menjual 20 kilogram pala pendem kukus.
Akhirnya, instuisi sebagai gen-Z muncul. Aziz mulai memanfaatkan media sosial (medsos). Terutama TikTok.
Awalnya hanya meng-upload konten saat melayani pembeli. Lama-kelamaan juga melakukan live sambil berjualan.
Impiannya merajut asa sebagai wiraswasta yang berhasil membuat semangatnya terus meninggi. Dia mempelajari dengan lebih cermat lagi algoritma TikTok.
Ujung-ujungnya, dia mampu memikat banyak pembeli.
“Saya mulai ngonten Januari lalu. Terus saya kembangkan sampai akhirnya banyak pelanggan yang mulai berdatangan,” ungkapnya sembari menerangkan jika omsetnya naik dua kali lipat semenjak live TikTok.
Melengkapi aktivitasnya berjualan melalui aplikasi tersebut, Azis menaruh tripod di samping gerobak. Untuk menyangga handphone yang digunakan merekam setiap aktivitasnya. Ada pula mikrofon kecil terpasang di kerah baju.
Untuk berinteraksi secara live dengan penonton live. Interaksi itu dia lakukan di sela-sela melayani pembeli yang datang langsung.
Saat live, ada beberapa ciri khas Aziz yang selalu diingat penonton. Yaitu kata-kata ‘masnya apa?’ dan ‘mbaknya apa?’.
Dua pertanyaan yang selalu dia ucapkan kepada para penonton yang menginginkan membeli.
“Ternyata banyak yang tertarik saat saya menawarkan di live TikTok. Bahkan beberapa orang yang masih awam dengan pala pendem ini jadi tertarik,” terangnya.
Menariknya, setelah tiga tahun berjualan, kini ada satu motivasi lagi yang membuat dia ingin terus berjualan umbi-umbian dan makanan sehat ini.
Yaitu, ketika tahu bahwa konsumennya sebagian adalah orang tua yang menderita penyakit tertentu.
Yang tidak boleh mengonsumsi makanan sembarangan. Ataupun juga remaja yang diet karena tidak percaya diri dengan tubuhnya.
Melihat fakta itu, dia semakin bersemangat. Karena usahanya itu ternyata membantu banyak orang. Yang selama ini kesulitan mendapatkan makanan sehat.
“Tidak pernah kepikiran kalau ternyata makanan ini bisa menjadi penolong bagi mereka yang membutuhkan,” paparnya.
Memang, kebanyakan pelanggannya adalah para lansia. Namun, yang remaja juga tak sedikit. Lebih-lebih, kini mulai banyak yang mengampanyekan pola hidup sehat.
“Di Kediri masih jarang yang berjualan seperti ini. Rata-rata mereka menjual gorengan. Dan hasil pengamatan saya akhir-akhir ini beberapa orang mulai mengurangi makanan junkfood dan beralih ke makanan yang sehat,” pungkasnya.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira