Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perjuangan Buya Hamka dalam Menyebarkan Dakwah Sampai di Penjara Pemerintah

Ilmidza Amalia Nadzira • Kamis, 3 April 2025 | 17:30 WIB

Profil Buya Hamka Ulama Asal Sumatera Barat
Profil Buya Hamka Ulama Asal Sumatera Barat

JP Radar Kediri - Salah satu ulama terkemuka di Indonesia adalah Buya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) yang berasal dari Padang Panjang, Sumatera Barat. Buya Hamka adalah ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. Merupakan salah satu tokoh berpengaruh di organisasi Muhammadiyah, kisah hidup Buya Hamka penuh dengan perjuangan.

Terlahir di Sungai Batang, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Buya Hamka dilahirkan di keluarga inti yang religius dan mengharapkan agar ia bisa melanjutkan estafet dakwah ayahnya.

Merasa kecil hati, selayaknya anak ulama yang terbeban dan dibayang-bayangi nama ayahnya, Buya Hamka kecil murung. Masa depannya seakan sudah diputuskan. 

Ayah kandung dan ibu kandung Hamka bercerai, masing-masing menikah lagi beberapa waktu kemudian. Hal ini membuat bingung Hamka jika harus pulang dari asramanya. Berkunjung ke rumah ibu, akan bertemu ayah tiri. Sementara di rumah ayah, ada ibu tiri. 

Karena kebingungan itulah, Hamka sering kali memutuskan untuk keluyuran dan mencari pengalaman lain di luar rumahnya. Hamka juga lebih sering bersama anduangnya dibandingkan kedua orang tuanya.

Baca Juga: Gus Miek, Sosok Kebapakan dan Tak Pernah Marah ada Anaknya

Ayah Hamka menjuluki Hamka sebagai bujang jauh. Hamka berkali-kali pergi dari rumah, ada yang izin pada keluarganya maupun perjalanan yang dilakukan tanpa izin. Pencarian jati diri dilakukan oleh Hamka yang enggan selalu berada di rumah. 

Perjalanan itu antara lain adalah perantauan ke Yogyakarta yang mengenalkan Hamka dengan Muhammadiyah serta menetap di Mekkah selama 7 bulan dan bertemu Agus Salim.

Hamka sempat pulang dan berdamai dengan ayahnya hingga akhirnya dinikahkan dengan seorang gadis bernama Siti Raham. Ketika mulai menerima ayahnya, Hamka juga mulai mengisi ceramah di kampungnya dan menjadi seorang pengajar agama. Meskipun pada awal, tidak serta merta masyarakat menerima Hamka karena ia tidak memiliki gelar diploma dalam pendidikan. Namun, rasa tidak percaya itu berangsur-angsur hilang karena Hamka membuktikan dirinya pantas.

Pada tahun 1964, Hamka sempat ditangkap karena sudah mulai lancar menjalani keahlian jurnalistiknya. Tulisan-tulisan kritis Hamka di surat kabar membuat takut pemerintah akan adanya pemberontakan terselubung yang dilakukan oleh Hamka. Bermalam-malam interogasi dan penyiksaan dilakukan kepada Hamka. Hamka dipaksa mengaku bahwa dirinya merupakan seorang pemberontak.

Beruntungnya, di dalam penjara ada salah satu sipir penjara yang tidak tega melihat ulama besar disiksa dengan alasan ketakutan pemerintah. Hamka ketik di penjara dibantu dengan menyediakan pena dan kertas untuk menulis buku barunya.  

Baca Juga: Mengenal Burung Hud-Hud, Burung dalam Kisah Nabi Sulaiman yang Kini Masih Hidup di Era Modern

Keluarga Hamka pun dibatasi ketika ingin menjenguk Hamka di penjara. Namun, pada akhirnya ketika pergerakan komunis di Indonesia mulai meluas, alasan penahanan Hamka makin melemah. Sehingga, Soeharto memerintahkan pembebasan Hamka dari penjara.

Penahanan Hamka membuahkan Tafsir Al-Azhar yang sampai sekarang masih masyhur dipakai dan dibaca oleh banyak orang. Selama hidupnya juga,selain menulis di surat kabar dan majalah, Hamka telah menghasilkan beberapa buku legendaris.

Beberapa Buku Karya Buya Hamka

  1. Di bawah Lindungan Kakbah
  2. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk
  3. Tafsir Al-Azhar
  4. Merantau ke Deli

Penulis: Laila Karima

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran  WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.   

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#buya hamka #biografi #dakwah #perjuangan