JP Radar Kediri - Pencapaian Vidy Riefta Adani saat ini tidak diraih dengan mudah. Banyak tantangan ditemui untuk menjadi penari profesional. Bahkan sempat terhambat restu orang tua.
Gadis dengan nama lengkap Vidy Riefta Adani ini dikenal luas karena bakat menarinya. Uniknya, semasa kecil dia justru tidak menyukai seni tersebut.
Namun dorongan terus dilakukan oleh Suprapti Rahayu, sang nenek. “TK itu pernah diikutkan belajar tari. Saat itu tari semut,” jelas Vidy.
Namun, Vidy tidak ada ketertarikan di tari tradisional. Justru dia tertarik dengan modern dance.
“Dulu pikirnya kalau modern dance itu kan lebih semangat. Beat musiknya lebih semangat lebih enak gitu,” akunya.
Semasa mengenyam pendidikan di SDN Kepung 1, Vidy semakin dicekoki sang nenek untuk belajar tari. Kebetulan, neneknya juga guru ekstrakurikuler tari di sana.
“Yang awal-awal ikut agar nenek seneng. Tapi namanya gak suka ya, jadi latihannya gak sungguh-sungguh. Akhirnya gak jadi ikut lomba,” kenangnya.
Saat bersekolah di SMPN 2 Pare sekolahnya itu ada ekstrakurikuler cheerleader. Karena sejak awal tertarik di tari modern, akhirnya dia pun masuk di situ untuk belajar.
Saat di SMAN 1 Kandangan, Vidy semakin menekuni dunia tari. Namun lebih ke kontemporer.
Tari yang memadukan unsur modern dan tradisional. Akhirnya, dia masuk ke sanggar tari Flying Star Dance Pare.
Berbeda dengan sang nenek. Arief Rahman Sugiharto dan Bernita Liliana, kedua orang tuanya melarang Vidy berkecimpung di dunia tari.
“Kalau nenek mendorong di tari tradisional, orang tua justru tidak setuju kalau saya masuk dunia tari,” aku gadis kelahiran 2001 ini.
Karena sudah terlanjur suka, Vidy pun bandel. Dia tetap ikut latihan dengan sembunyi-sembunyi. “Awalnya sembunyi-sembunyi, karena bandel itu akhirnya dibolehkan,” ungkapnya.
Kesukaannya dengan dunia tari terpupuk dari waktu ke waktu. Ditambah, motivasi sang nenek tercinta.
Namun, kecintaan itu baru tumbuh saat SMA. “Dan saat itu sebelum saya memberikan prestasi di bidang tari. Nenek saya meninggal dunia,” kenang Vidy sembari matanya berkaca-kaca.
Semenjak itu dia semakin getol mengikuti lomba maupun festival tari di luar daerah. Walau sempat terhalang restu orang tua, Vidy beberapa kali meraih prestasi.
Seperti Juara 1 Lomba Parade Seni Budaya Nusantara dalam rangka Hari Jadi Kota Tangerang 2017 tingkat Nasional.
“Ada pencapaian itu orang tua agak melunak,” aku alumnus Universitas Negeri Malang jurusan seni tari dan musik itu.
Saat ini, Vidy masih terus aktif di dunia tari. Dia menjadi guru seni budaya di SMAN 1 Kandangan. Tak hanya itu, dia juga aktif mengajar tari di sanggar Flying Star Dance.
Baru-baru ini, dia dipercaya menjadi salah satu penari asal Kediri dalam agenda promosi kebudayaan ke mancanegara. Acara itu bertajuk Indonesia Culture 2025.
“Mewakili pentas di Malaysia dan Thailand bersama empat penari asal Kediri lainnya. Menampilkan tari dan batik khas Kediri,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Andhika Attar Anindita