TIDAK semua orang punya kesempatan seperti Winda Ayu Nur Andini. Berbekal pengalaman sebagai atlet, dia dipercaya ikut membimbing atlet yang disiapkan untuk ikut berbagai kejuaraan. Baginya, bisa mengantarkan anak didiknya berprestasi menjadi kebanggan tersendiri. Untuk meraih itu semua dia rela belajar banyak hal. Termasuk mempertajam ilmu.
Usia gadis yang kerap disapa Winda itu tergolong muda. Masih 21 tahun. Dulu, dia adalah seorang atlet dari cabang olahraga (cabor) senam artistik. Soal prestasi, jangan ditanya. Banyak medali yang telah diraihnya dari berbagai ajang kompetisi. Terakhir, dia berhasil meraih medali emas pada pekan olahraga provinsi (Porprov) Jawa Timur (Jatim) 2022.
Itu adalah puncak tertinggi prestasi yang diraih gadis asal Kelurahan Blabak, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri. “Setelah itu saya berhenti (sebagai atlet, Red),” akunya.
Dia memilih gantung sepatu sebagai atlet senam karena bosan dengan aktivitas olahraga yang digeluti sejak duduk di bangku kelas 3 SD. “Jadi pas berhenti (jadi atlet, Red) rasanya lega banget (bisa meraih emas di Porprov Jatim, Red),” ungkapnya.
Setelah gantung sepatu sebagai atlet, Winda memilih untuk fokus kuliah. Dia benar-benar meninggalkan dunia olahraga. Hingga akhirnya awal 2024 lalu, Listianingsih, pelatih senam artistik meminta bantuannya untuk ikut melatih.
“Saya kasihan sama Mbak Lis (pelatih senam, Listianingsih, red), tidak ada yang bantu. Jadi aku ikut ke sini (melatih, red) bantu anak-anak buat persiapan Porprov,” ungkapnya.
Mulanya, Winda merasa tidak percaya diri untuk melatih atlet-atlet senam. Apalagi dia tidak memiliki pengalaman mengajar. Hanya punya bekal pengalaman sebagai atlet. Dia harus melakoninya karena Listianingsih sempat sakit.
“Saya tipe yang marah-marah (saat melatih, red),” jelasnya. Meski galak, para atlet merasa senang karena latihannya lebih terarah.
Awal melatih, dia mengaku sempat tertekan. Banyak tantangan yang harus dihadapinya. Utamanya menghadapi atlet-atlet yang memiliki karakter berbeda-beda.
Dia harus pandai-pandai mengenali karakter setiap atletnya. Sehingga, perlakuan yang diberikan bisa tepat. Winda ikut merasa stres jika atletnya tidak bisa berkembang. Dan gagal meraih prestasi terbaiknya.
“Awalnya nggak menikmati. Tetapi setelah melihat hasilnya anak-anak saat Popda jadi lebih semangat. Ternyata aku bisa membantu mereka. Jadi ada kepuasaan, soalnya kalau atletnya nggak bisa ikut stress jadi ikut mikir tekniknya untuk bisa itu gimana,” ceritanya sembari menyebut dukungan orang tua atlet turut membuatnya bersemangat dalam melatih.
Alasan itulah yang membuat Winda masih terus mempelajari teknik-teknik dalam senam. Terutama melalui video-video di youtube. Dirinya pun harus jeli memperhatikan gerakan dari ujung kaki sampai ujung tangan atlet.
Bahkan terkadang dirinya turun langsung untuk memberikan contoh kepada atletnya. Semua itu dilakukan agar atlet yang dibimbingnya bisa berprestasi. “Saya itu ingin atlet-atlet yang saya latih bisa lebih dari saya,” ungkapnya.
Untungnya, aktivitas melatihnya ini tidak bertabrakan dengan aktivitasnya di kampus. Pasalnya, kegiatannya di kelas berlangsung pada pagi hingga siang saja. Karenanya, Winda bisa membantu melatih para atlet pada sore harinya.
Uniknya, Winda mengambil jurusan yang bertolak belakang dengan apa yang digelutinya selama ini. Yaitu mengambil jurusan manajemen di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Kediri. Dia memanfaatkan prestasinya sebagai atlet memasuki kampus tersebut.
“Jadi saya dapat beasiswa penuh dari kampus,” jelasnya.
Di balik perjalanannya sebagai atlet dan pelatih, dirinya harus melalui masa-masa berat ketika berjuang dalam porprov 2022 lalu. Saat duduk di bangku kelas sepuluh sekolah menengah atas (SMA), Winda kehilangan ayahnya. Setelahnya, dia tinggal bersama bibinya. Sejak saat itulah uang transport yang didapatkannya sebagai atlet menjadi uang jajannya setiap hari.
“Jadi ya harus menyemangati diri sendiri. Nggak nyangka bisa melewati ini semua,” kenang lulusan SMA Negeri 3 Kota Kediri ini.
Winda memiliki cita-cita terjun ke dunia olahraga lagi. Namun bukan di senam. Melainkan ingin mempelajari pilates. Bahkan dirinya berharap bisa membuka kelas sendiri nantinya.
“Saya memang suka mempelajari hal-hal baru,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : rekian