Abu H Usman atau Abu Kuta Krueng dikenal sebagai ulama kharismatik memiliki kontribusi luar biasa pada masyarakat Aceh, mulai dari pendidikan hingga pembinaan umat.
Semasa hidupnya, beliau mendirikan Pondok Pesantren Darul Munawwarah yang memiliki santri berjumlah kurang lebih 5.000 orang dari berbagai daerah hingga negara tetangga.
Abu Kuta tidak hanya dikenal mengurusi pesantren miliknya, beliau juga aktif menjadi anggota dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
Tidak sampai di situ, Abu H Usman juga turut menjadi salah satu tokoh di Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Pidie Jaya periode 2012-2017, serta menjabat sebagai pembina Dewan Syuyuh Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).
Sebagai ulama paling berpengaruh, Abu sering menjadi rujukan bagi tokoh-tokoh pemerintahan lokal, nasional, sampai internasional.
Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa'aduddin Djamal menyebut Abu Kuta merupakan ulama yang telah mengabdikan diri untuk pendidikan, membimbing ribuan santri, dan berperan aktif menjaga moral dan nilai-nilai keislaman di Aceh.
Kepergiannya menjadi duka mendalam bagi masyarakat Aceh.
“Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Saya atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Banda Aceh menyampaikan duka cita yang mendalam atas berpulangnya ulama kharismatik Abu H Usman Bin Ali,” ungkap Illiza.
Masyarakat segera berdatangan untuk mengantar kepergiaan Abu H Usman terakhir kalinya, pada Kamis, (13/2/2025) di kompleks kediamannya Dayah Darul Munawwarah.
Sejarah Perjalanan Hidup Abu H Usman
Abu Kuta Krueng memiliki nama asli Usman. Beliau lahir pada 31 Desember 1940 dari pasangan Teungku M Ali dan Umi Khadijah.
Sejak masa kecil, Abu sudah mempelajari ilmu agama Islam dari kedua orang tuanya.
Beliau mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat Indonesia (SRI) Desa Tanjungan kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Islam (SMI) Samalanga.
Abu Kuta mondok di Dayah MUDI, Mesjid Raya (Mesra), Samalanga, Kabupaten Bireuen, Aceh, pada tahun 1949 dan mendapat ijazah tarekat syattariyah dari Teungku Abi Hanafiah, ulama berpengaruh di masanya. Setelah gurunya (Teungku Abi Hanafiah) wafat, Abu Kuta diangkat menjadi mursyid.
Kemudian, Abu Kuta melanjutkan belajarnya pada Teungku Abdul Aziz, ulama dari lulusan Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan asuhan Abuya Syekh Muda Wali Al-Khalidy, yangs dikenal sebagai guru yang melahirkan ulama-ulama besar.
Setelah hampir belasan tahun menimba ilmu dan mengajar di Dayah MUDI Mesra, pada tahun 1964 Abu Kuta meminta izin kepada gurunya untuk mendirikan Dayah Darul Munawwarah. Beliau kemudian menikah dengan Ummi Khairiah, anak gurunya dan dianugerahi delapan anak. Kini, semua keturunannya sudah menjadi guru di pesantren miliknya.
Penulis: Eka Fitria Lusiana
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di saluran WhatsApp "Radar Kediri". Caranya klik link join saluran WhatsApp Radar Kediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi WhatsApp di ponsel.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira