KEDIRI, JP Radar Kediri- Awalnya, gadis ini adalah pebola voli. Sebelum akhirnya memilih jadi atlet lontar martil dan lempar cakram. Semua demi keinginan merasakan podium Porprov Jatim.
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025 nanti adalah yang ketiga bagi Indira Pratiwi. Atlet atletik ini mewakili Kota Kediri di dua nomor sekaligus, lontar martil dan lempar cakram.
Pada penampilannya yang ketiga di ajang olahraga se Jatim itu, tersembul harapan kuat di dadanya. Yaitu bisa merasakan podium.
“Di dua porprov sebelumnya saya kurang beruntung,” aku gadis 21 tahun ini.
Tantangan untuk mewujudkan ambisinya itu tidak kecil. Selain harus menghadapi lawan tangguh, dia juga perlu meningkatkan kepercayaan dirinya. Maklum, di cabor atletik dia tergolong baru. Yaitu dua tahun terakhir.
“Saya basic-nya voli. Delapan tahun di olahraga itu,” akunya, di sela-sela latihannya di lapangan Gajah Mada Pesantren.
Mengapa tak melanjutkan keseriusan di bola voli? Ternyata, Indira mengaku tak berkembang di olahraga beregu tersebut.
Selama delapan tahun tak ada prestasi menonjol. Orang tuanya pun tak mendukungnya menekuni olahraga tersebut.
“Performa saya stagnan. Cuma (bermain di turnamen) tarkam-tarkam (antar kampung, Red) saja. Beda dengan di atletik, belajar tiga bulan bisa naik podium,” ucap cewek bertinggi badan 180 sentimeter ini.
Podium itu dia raih ketika berlaga di Pekan Olahraga Mahasiswa Provinsi (Pomprov) Jatim 2023. Mendapat medali emas untuk nomor tolak peluru. Prestasi yang membuatnya kian termotivasi menggeluti atletik.
Meskipun begitu, melepas voli bukan perkara mudah. Harus melalui berbagai ‘drama’.
Terlepas dari semua itu, dia merasa senang menerjuni atletik. Banyak dukungan yang dia dapat. Mulai dari pelatih hingga sesama atlet.
Setiap hari dia juga seakan mendapat tantangan. Ada target yang harus dia penuhi dalam program latihan setiap hari.
“Jadi lebih terukur. Dulu di voli kan latihannya asal. Kalau sekarang itu jelas,” akunya.
Enaknya lagi, jadi atlet lempar cakram dan lontar martil membuatnya bisa makan sepuasnya, kecuali minum es.
Sebab, berapapun berat badannya, tak mememgaruhi performanya. Beda dengan ketika jadi pemain voli. Yang mengharuskan dia selalu diet.
“Dulu berat saya 80 kilogram, sekarang 95 kilogram paling rendah 92 kilogram. Jadi dengan berat saya miliki, nanti dalam latihan juga disesuaikan,” ceritanya.
Yang tak kalah penting, dukungan dari sekitar membuatnya semakin bersemangat berlatih. Orangtuanya pun begitu. Selalu siap sedia memenuhi kebutuhan Indira.
“Saya kan baru di atletik, saat mau tanding itu kadang masih kurang percaya diri. Tetapi pelatih dan teman-teman selalu bilang kalau pasti bisa. Dan saya selalu dimotivasi kalau punya kemampuan yang bagus tetapi mentalnya nol ya percuma. Jadi, saya di atletik ini semangat,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah