KEDIRI, JP Radar Kediri- Novinda mengambil langkah besar dalam hidupnya saat memilih menjadi dokter kecantikan.
Keputusannya itu tak lepas dari rasa ingin belajarnya yang tinggi. Juga dorongan untuk membantu pasien mengembalikan rasa percaya diri mereka.
Novinda telah lama menjadi dokter umum. Kemudian, pada 2022 silam dia memutuskan menjadi dokter aesthetic. Dia merasa miris banyak orang yang terganggu mentalnya karena merasa kurang cantik.
“Ada loh yang bunuh diri cuma gara-gara jerawat,” ucap perempuan 31 tahun tersebut. Hal itu cukup untuk menyimpulkan seberapa krusial penampilan bagi diri seseorang.
Tak ayal, banyak yang rela mengupayakan segala cara demi mendapatkan wajah yang rupawan.
Itu juga yang menjadi salah satu alasan Novinda. Dia terketuk untuk bisa membantu orang-orang yang merasa putus asa dengan permasalahan wajahnya.
Seperti muncul problem jerawat tak sembuh-sembuh atau flek hitam di usia yang masih produktif.
“Orang-orang yang sudah hopeless sama kondisi wajahnya, yang nggak tahu harus gimana, itu kan ngaruh ke mental. Itu sering sekali saya temui,” ujar Novinda.
Kerap kali pertemuan dengan pasien berubah menjadi sesi curhat-curhatan. Baginya, pengobatan yang maksimal juga seharusnya bisa menyeluruh mengakomodasi berbagai keluhan pasien.
“Dia perawatan jadi nyaman, terus hatinya kan juga nyaman. Soalnya kalau dipendam sendiri itu berat gitu rasanya. Lebih baik kan cerita sama orang,” ungkapnya.
Menjadi dokter aesthetic bukanlah pilihan pertamanya. Perempuan kelahiran Bontang, Kalimantan Timur itu dulunya hanya bercita-cita menjadi seorang dokter.
Setelah lulus, dia sempat pindah-pindah untuk pengabdian. Dari Kalimantan ke Sumatera karena koasnya di Medan.
“Terus sebelum di sini, saya di Sukabumi jadi dokter perusahaan di sana,” beber perempuan yang kini menetap di Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri itu.
Perjalanannya menggeluti dunia estetika dimulai pada 2022. Keputusannya itu timbul setelah dia pindah ke Kabupaten Kediri.
Karena baru melahirkan anak pertamanya, dia harus memboyong anaknya untuk tinggal bersama neneknya.
Sebab, profesinya sebagai dokter mengharuskan dia membagi waktu antara bekerja dan merawat anak.
“Sebenarnya ya benar-benar nggak kepikiran. Cuma pas dijalani, kok kayaknya passion saya memang di situ di aesthetic,” urai dokter yang praktik di REAF Aesthetic and Wellness Bandarkidul, Kota Kediri serta di Klinik Aesthetic Center, Selodono, Kabupaten Kediri.
Mempelajari ilmu estetika itupun harus dimulai dari nol. Sebab, basic ilmu tersebut tidak pernah disampaikan selama pendidikan dokter.
“Saya mengambil gelar basicnya sekalian sama CIBTAC-nya itu mulai 2022 sampai 2023,” sambung ibu satu anak itu.
Mengisi hari-hari sebagai dokter umum dan dokter kecantikan sekaligus menjadi seorang ibu sudah jadi rutinitasnya. Hebatnya, dia masih menyisakan waktu bersama keluarga.
Khususnya anaknya yang menginjak usia 3 tahun. Meskipun waktu pagi dan siangnya dia habiskan untuk praktik dari klinik satu ke klinik lainnya.
“Terkadang manusia biasa lah ya capek. Pas capek ya kita healing. Tapi terkadang pas melihat wajah anak itu ya jadi semangat lagi sih,” tandasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah