Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Lautan Tangis Pecah di Pemakaman KH Douglas Toha Yahya

Muhamad Asad Muhamiyus Sidqi • Senin, 23 September 2024 | 19:06 WIB
PENGHORMATAN TERAKHIR: Warga Kediri dan sekitarnya menyaksikan keranda Gus Lik menuju peristirahatan terakhir di komplek Ponpes Assa’idiyah Jamsaren.
PENGHORMATAN TERAKHIR: Warga Kediri dan sekitarnya menyaksikan keranda Gus Lik menuju peristirahatan terakhir di komplek Ponpes Assa’idiyah Jamsaren.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Suasana kesedihan mendalam sangat terasa dalam prosesi pemakaman Kiai Haji Douglas Toha Yahya-biasa dipanggil Gus Lik-kemarin (22/9).

Para pelayat yang mencapai puluhan ribu orang seperti tak kuasa menahan tangis. Praktis, proses pemakaman yang berlangsung sekitar pukul 09.00 itu seperti diiringi oleh lautan tangis jemaah.

Memang, kepergian Gus Lik sangat memukul masyarakat. Terutama jemaah Langgar Kulon, yang biasa mengikuti Pengajian Malam Rabu (PMR) dan Pengajian Malam Jumat (PMJ).

Dua pengajian itu memang rutin digelar dan diasuh oleh Gus Lik semasa hidupnya.

Gus Lik tutup usia Sabtu malam (21/9) pukul 22.40. Kiai kharismatis pengasuh Ponpes Assa’idiyah Jamsaren itu dipanggil Sang Khalik pada usia 66 tahun.

Sebelumnya Gus Lik sempat dirawat selama seminggu di RS Bhayangkara.

“Mulai Sabtu (14/9) lalu, dirawat di RS Bhayangkara,” terang Muhammad Zaenal Hamami, 51, adik bungsu Gus Lik.

Laki-laki yang akrab disapa Mbah Mamik itu mengatakan, Gus Lik sudah mengeluh sakit sejak tiga minggu sebelumnya. Yaitu di bagian perut.

Kemudian sempat dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soetomo Surabaya. Di sini Gus Lik menjalani pemeriksaan dan dirawat selama dua hari.

“Keluhannya sakit di madaran (perut, Red). Tapi beliau gak mau lihat hasil pemeriksaan. Dia tetap bilang kalau sehat. Tapi memang Beliau itu jarang mau makan.

Sekali makan itu hanya tiga puluk, lima puluk. Nanti yang menghabiskan saya,” terang Mbah Mamik.

Menurutnya, kebiasaan itu dilakukan karena Gus Lik takut jika makan terlalu banyak membuat terlena kenikmatan. Dan melupakan Allah SWT.

Baca Juga: Sosok Aghnia Zamzami, Karateka Asal Kediri yang Sarat Pengalaman Ajang Internasional

Setelah dua hari dirawat, dia dibawa pulang. Kembali beraktivitas seperti biasa. Termasuk mengisi PMR  dan PMJ.

Sabtu (14/9), kondisi Gus Lik kembali drop.  Kemudian menjalani opname di RS Bhayangkara. Selama seminggu dirawat kondisinya naik-turun.

Mbah Mamik mengatakan, sebelum kembali drop pada Sabtu (21/9) pagi, Jumat malamnya sempat terlihat sehat. “Malam Sabtu masih tertawa-tawa,” terangnya.

Tapi, ternyata, Sabtu sekitar pukul 04.00 kondisi sang kiai kembali drop. Kemudian pada pada pukul 09.00 dia dibawa ke ruang ICU.

Mbah Mamik mengatakan, saat itu kondisinya berangsur menurun. Hingga Dia dinyatakan meinggal dunia sekitar pukul 22. 40.

Kabar kepergian sang kyai memantik duka di kalangan jemaahnya.

Ribuan jemaah dari berbagai wilayah Kediri dan sekitarnya, langsung mendatangi Pondok Pesantren Assa'idiyah sejak Sabtu malam.

Hanya selang beberapa menit setelah kabar duka tersebut terdengar, jalanan depan Pondok Pesantren Assa'idiyah yakni jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Pesantren, dipadati massa.

Isak tangis terdengar di antara para jemaah, baik pria maupun wanita.

Sampai jelang pemakaman, jemaah yang mendoakan Gus Lik terus berdatangan.

Pihak pondok mengizinkan jamaah memasuki area pondok pesantren untuk ikut menyolati jenazah almarhum Gus Lik secara bergantian.

“Dimakamkan sekitar pukul 09.00 karena mempertimbangkan banyaknya jemaah yang datang untuk menyolati beliau. Biar jemaah juga bisa marem di saat kepergian Beliau,” terang Mbah Mamik.

Pantauan koran ini, tokoh masyarakat dan tokoh agama berdatangan di saat proses pemakaman Gus Lik.

Seperti keluarga besar Ponpes Ploso, Mojo, KH Nurul Huda Djazuli, serta Muhammad Abdurrahman Al Kautsar. Keluarga besar Ponpes Al-Mahrusiyah KH. 

Reza Ahmad Zahid, keluarga besar Ponpes Lirboyo KH. Anwar Mansyur, KH Abu Bakar Abdul Jalil yang merupakan Ketua PCNU Kota Kediri, KH Muhammad Ma'mun yang merupakan Ketua PCNU Kabupaten Kediri, serta tokoh-tokoh agama serta tokoh masyarakat lainnya. 

 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#radar kediri #meninggal dunia #pemakaman #Kyai Haji Douglas Toha Yahya #sakit #jawa pos #tokoh masyarakat #Gus Lik