KEDIRI, JP Radar Kediri- Gea agaknya tak ingin terjebak dalam label pageant yang hanya unggul dari penampilannya saja.
Pelajar kelas XII itu membuktikan bahwa dia punya value yang bisa diunggulkan. Langkah konkretnya melestarikan budaya tradisional—khususnya seni tari—layak menjadi inspirasi bagi pemuda seusianya.
Gadis asal Desa Bogem, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri ini dikenal sebagai salah satu finalis Inu Kirana 2024.
Dari ajang duta wisata itu, dia ditunjuk sebagai Duta Pangan. Meski mengemban tugas baru, pelajar kelas XII itu tak ubahnya anak muda pada umumnya.
Di usianya yang masih 18 tahun itu, semangat Gea masih membara. Hari-harinya dia warnai dengan berbagai kesibukkan.
Tak hanya menjalani pendidikan saja. Dia juga aktif dalam berbagai kegiatan. Salah satunya, ikut berperan konkret melestarikan budaya tradisional. Khususnya seni tari.
“Saya sampai sekarang ngajar ekstrakurikuler tari di SDN Bangsal 3 Kota Kediri dan SDN Jongbiru Kabupaten Kediri,” kata Gea.
Kecintaannya pada seni tari memang sudah muncul sejak kecil. Rentetan prestasinya berhasil menarik kepercayaan beberapa sekolah untuk menunjukkan sebagai pengajar tari.
Salah satunya dari SDN Bangsal 3 Kota Kediri. Kebetulan, di sana juga tempatnya menempa ilmu beberapa tahun sebelumnya.
“Awalnya ragu sih (menjadi guru tari, Red) karena masih kecil. Tapi dicoba-coba, Alhamdulillah sampai sekarang masih saya pegang,” beber siswa SMAN 3 Kota Kediri itu.
Prestasi yang dia miliki itu tentu tidaklah datang secara instan. Sulung dari pasangan Hana Purwaningsih dan Ferydian Krisdianto itu telaten mengikuti berbagai ajang tari. Tujuannya agar semakin banyak ilmu dan pengalaman.
Tak ingin wawasan itu berhenti pada dirinya sendiri, Gea nekat mendirikan sanggar tari. Sanggar itu didirikan sejak dia masih kelas VII SMP. Bertempat di rumah orang tuanya, sanggar itu buka seminggu sekali.
Dia sendiri pula yang mengajarkan berbagai kreasi tari tradisional kepada anggota sanggarnya.
Hingga kini, sedikitnya sudah ada 150 anggota di sanggarnya yang berasal dari berbagai usia. Mulai dari setara TK, SD, SMP, hingga SMA.
“Karena saya sendiri senang kesenian tari. Tapi juga ingin mengembangkan dan menyalurkan ke orang lain,” akunya.
Rutinitas itu tentu menambah kesibukannya sebagai pelajar. Belum lagi berbagai event yang harus dia ikuti semenjak menjadi Duta Pangan Kabupaten Kediri.
Belum lama ini, Gea juga ditunjuk sebagai muse atau ikon Kediri Fashion Batik Festival (KFBF) 2024. Yakni, ajang peragaan karya wastra dan budaya unggulan Kabupaten Kediri.
“Saya juga baru pertama kali ikut acara seperti ini. Takut sekali awalnya. Tapi Alhamdulillah sebelumnya ada yang ngajarin,” bebernya yang tak bisa menyembunyikan rasa bangga dan leganya dengan capaian itu.
Anak pertama dari dua bersaudara itu punya semangat yang besar dalam mengumpulkan pengalaman sebanyak-banyaknya.
Salah satunya dengan aktif bertukar pengalaman dengan berbagai komunitas. Khususnya sanggar-sanggar tari.
“Meskipun setelah ini lulus SMA tapi pengennya sanggar ini terus berlanjut. Karena saya juga inginnya tari ini jadi peluang untuk bisa lebih berkembang lagi,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah