KEDIRI, JP Radar Kediri - Seorang gadis belia berdiri tegap di matras warna biru. Tangannya sejajar dengan paha, dengan lutut sedikit menekuk.
Membungkukkan badan ke arah juri, memberi hormat. Kemudian berteriak keras, sebelum memulai aksinya memeragakan jurus-jurus karate.
Gadis yang ada di video Youtube itu adalah karateka asal Kediri.
Namanya Aghnia Zamzami. Video itu direkam ketika mengikuti kejuaraan nasional karate Piala Ketua Umum PB Forki di Padang, Sumatera Barat, 2022.
“Saya menerjuni karate sejak kelas 1 SD,” ucap gadis yang nama depannya menjadi nama panggilan ini.
Aghnia mengatakan hal itu melalui sambungan telepon. Memang, tidak sedang berada di rumahnya, di Perumahan Mojoroto Indah.
Karena harus mempersiapkan diri sebelum mengikuti turnamen karate di Malaysia.
“Minggu ini tak bisa pulang karena sibuk (berlatih),” terang mahasiswa jurusan ekonomi syariah di Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini.
Soal pengalaman bertanding di luar negeri, bungsu dari lima bersaudara ini punya segudang. Tak hanya di Asia, juga negeri-negara Eropa pernah dia jelajahi untuk mengikuti kejuaraan karate.
Sebut saja Malaysia, Thailand, Jepang, Kazakstan, Uzbekistan, Italia, Jerman, Austria, dan Swiss. Dari negara-negara itu gadis 20 ini telah mengoleksi beberapa medali.
“Akhir Juli kemarin mengikuti kejuaraan di Jepang. Bulan ini seharusnya bertading di Malaysia. Tapi diundur Oktober,” cerita gadis kelahiran 2004 ini.
Khusus kejuaraan di Jepang, Aghnia memiliki kesan yang sangat mendalam.
Bukan hanya karena dia bertanding di negara asal olahraga beladiri karate, namun juga jenis kejuaraan yang berbeda. Di Negeri Sakura itu dia mengikuti kejuaraan karate tradisional.
“Teknik, jurus, dan peraturannya berbeda dibanding kejuaraan karate modern,” terang alumnus SMAN 2 Kota Kediri ini.
Memang, dalam kejuaraan itu Aghnia gagal melaju hingga ke final.
Tampil di nomor kata, dia terhenti di babak semifinal. Namun, yang membuatnya tak terlalu kecewa, lawan yang mengalahkannya saat itu akhirnya menjadi juara.
Yang juga membuatnya merasa puas meski tak bisa mendapatkan juara di kejuaraan ini, adalah wawasan dan pengetahuannya yang bertambah.
Selain berinteraksi dengan karateka dari berbagai belahan dunia, dia juga mendapat pengalaman. Pengalaman itulah yang dia tularkan ketika ada di tanah air.
Bagi dara ini, karate memang sudah memikatnya ketika awal melihat.
Yaitu ketika dia diajak sang ayah melihat kejuaraan yang diselenggarakan oleh Pabrik Gula Pesantren Baru.
“Waktu pertama kali lihat saya terkesima melihatnya saking bagusnya.
Dan saat itu dapat tawaran untuk ikut karate,” kenangnya.
Meski sudah belasan tahun menerjuni karate, Aghnia mengaku masih memiliki beberapa kelemahan.
Terutama ketika disergap rasa gugup. Yang bisa membuatnya tidak fokus.
“Kadang bisa bengong pas pemanasan,” akunya.
Untungnya, Aghnia punya cara menutupi kelemahan itu.
Yaitu, dia tak pernah melihat bagan permainan.
Sehingga tidak tahu siapa lawan yang akan dihadapi.
Lebih sedikit tahu tentang kemampuan lawan, membuatnya tak gugup.
Meskipun telah melanglang buana ke berbagai negara, ada satu keinginan yang belum terwujud. Yaitu mewakili kota kelahirannya, Kota Kediri.
Memang, dia pernah menjadi wakil daerahnya ketika berlangsung olimpiade olahraga siswa nasional (O2SN).
Tapi, kini dia berharap bisa mewakili ke ajang yang lebih prestisius. Yaitu di pekan olahraga provinsi (porprov) maupun menjadi wakil Jatim dalam pekan olahraga nasional (PON).
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah