KEDIRI, JP Radar Kediri-Sosok tegap itu duduk di kursi ruangan kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri. Mengenakan seragam warna biru langit. Menghadapi beberapa berkas yang ada di meja di depannya.
Saat itu sekitar pukul 09.00. Masih tergolong pagi. Namun, aktivitas di lapas yang berada di Jalan Jaksa Agung Suprapto itu sangatlah sibuk.
Beberapa petugas melakukan pemeriksaan pada pengunjung yang datang silih berganti. Sebagian lagi keliling blok tempat para warga binaan-sebutan untuk penghuni lapas-tinggal.
Termasuk yang melakukan kegiatan terakhir ini adalah sosok yang bernama Urip Dharma Yoga ini.
Setiap hari, aktivitas pria yang biasa disapa Urip memang tak jauh dari kehidupan warga binaan. Wajar, karena dia adalah kepala Lapas Kelas IIA Kediri.
Jabatan yang dia sandang sejak 4 September lalu. Menggantikan Budi Ruswanto, pejabat lama, yang kembali menjadi Kalapas Kelas I Madiun.
"Tidak ada artinya berangkat ke kantor bagi seorang petugas lapas kalau tidak menyempatkan sebentar untuk bertemu dengan warga binaan," ucap pria 41 tahun ini, menjelaskan alasan melakukan aktivitas rutin tersebut.
Memang, setiap hari, Urip menyempatkan waktu bertemu dengan para penghuni penjara. Ngobrol langsung dengan mereka. Sehari saja dia tak melakukan hal itu, seperti ada yang kurang dalam pekerjaannya.
Apalagi, dengan bertatap muka itulah yang membuatnya semakin dekat dengan warga binaan. Tak hanya menyapa, Urip juga menanyakan keluh-kesah mereka. Sembari diselingi candaan.
"Saya ingin mendengar keluh kesah mereka selama berada di sini. Nantinya untuk perbaikan kami dalam menyelenggarakan progran pembinaan dan pelayanan," urai Urip.
Tentu saja, meladeni para warga binaan bukan perkara mudah. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Hal itulah yang ingin diketahui oleh sang kalapas.
Caranya dengan meluangkan waktu untuk mengobrol, meskipun hanya bisa satu atau dua blok saja dalam sehari.
Pria asal Purwokerto ini sangat menjiwai pekerjaannya yang harus ‘bergelut’ dengan para pelaku tindak kejahatan. Baginya, menjadi petugas lapas sekaligus jalan menuju surga. Karena dia harus berbuat baik kepada ratusan warga binaan.
"Tak perlu jauh-jauh beramal, di sini banyak orang yang tidak diperhatikan oleh sebagian besar orang. Jadi, di kantor kami ini ibarat ladang amal,” jelas pria yang sebelumnya bertugas di Surakarta ini.
Yang menarik, jalan hidup yang dilalui Urip sejalan dengan yang dia angan-angankan sejak kecil. Ya, dia memang bercita-cita menjadi kepala lapas. Angan-angan yang dibangun karena dia besar dalam keluarga petugas lapas.
Ayah Urip adalah seorang kepala lapas. Saat dia lahir, sang ayah merupakan Kalapas Amuntai Kalimantan Selatan. Karena itu, sejak kecil dia hidup di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
Saat usianya lima tahun, lingkungan penjara ibarat tempat bermainnya. Dia biasa bergaul dengan ratusan narapidan.
"Saya sering masuk ke dalam (lapas). Bertemudengan para warga binaan. Mereka saya panggil om. Sampai tidur pun pernah saya tidur di kamar mereka," kenang Urip.
Urip kecil sangat nyaman berada di antara para penghuni penjara itu. Sampai-sampai, ketika waktunya potong rambut dia memilih dicukur oleh warga binaan di lapas.
Ada kenangan yang dia ingat sampai sekarang. Yaitu kedekatannya dengan seorang narapidana. Sampai-sampai, ketika waktunya orang tersebut bebas, Urip kecil enggan berpisah. Menangis dan memintanya tak pulang ke rumah.
"Akhirnya dia nginep di rumah dinas bapak semalam, sampai saya tidur. Kemudian dia pergi," kenangnya, tertawa renyah mengingat kejadian itu.
Hal itulah yang kemudian memupuknya bercita-cita menjadi petugas lapas. Keinginan yang terwujud, dengan pengalaman pertamanya memimpin rutan Wonogiri pada 2019. Setelah itu di Surakarta pada 2021 hingga 2024 Agustus. Sebelum akhirnya berpindah ke Kediri saat ini.
Dari berbagai pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi petugas Lapas, ia selalu berprinsip bahwa warga binaan adalah keluarga sendiri. Dari situlah ia membangun kedekatan dengan mereka.
"Keluarga itu melebihi dari seorang teman sahabat maupun masyarakat lain. Karena setiap hari saya bertemu dengan mereka," ungkap pria asal Purwokerto itu.
Ketika mereka dianggap sebagai keluarga, tambah Urip, mereka juga akan baik. Hal utulah untuk meminimalisir tindakan-tindakan yang melanggar aturan.
"Kalau sudah dekat mereka, kalau ada yang mau melanggar akhirnya ngga jadi, ora penak karo bapake, itu yang kami harapkan," ucapnya berargumen.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah