KEDIRI, JP Radar Kediri- Mencari rumah Yovi Prasetyo tak terlalu sulit. Berbekal alamat yang diberikan, di Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, sangat mudah menandai bahwa itu rumah perajin layang-layang ini.
Bukan karena rumahnya yang memiliki pekarangan luas, melainkan ada tanda khas yang menunjukkan itu sebagai rumah Yovi.
Apalagi kalau bukan layangan gapangan polos yang tertempel di dinding garasi, di samping rumah.
“Itu gapangan masih belum jadi,” jelas Yovi, setelah keluar rumah dan menemui Jawa Pos Radar Kediri.
Ya, Yovi adalah seorang perajin layang-layang. Terutama yang jenis gapangan-layang-layang dua dimensi yang mengeluarkan suara berdengung ketika diterbangkan-dan layangan hias.
Setelah itu, si pemilik rumah ke dalam kamar. Mengambil sesuatu dari bawah springbed. Gambar naga berukuran jumbo.
Dicetak menggunakan kertas duplek. Yang merupakan mal atau pola untuk membuat layang-layang hias.
Gambar itu berdiameter 85 sentimeter. Bila jadi layang-layang hias, akan berbentuk naga dengan panjang yang bikin geleng kepala, nyaris 100 meter.
“Agar tetap lurus dan tidak melengkung, saya taruh di bawah kasur,” jelas pria 32 tahun ini, memberikan alasan mengapa menempatkan mal tersebut di lipatan springbed.
Tapi, membuat pola itu hanya satu tahap kecil dari proses menjadikannya satu karya layang-layang hias.
Yang pembuatannya bisa mencapai tiga bulan. Aktivitas seperti itu sudah dilakukan anak sulung dari tiga bersaudara itu sejak 2019.
Karya-karya yang dia hasilkan tak semuanya dijual. Sebagian juga difungsikan untuk lomba. Prestasi yang dicapai pun bukan ‘kaleng-kaleng’.
Deretan piala terpajang di lemari kayu bercat cokelat muda. Itupun belum semua. Karena sebagian disimpan di karung!
“Piala itu dari lomba yang level nasional maupun internasional,” ucap anak pasangan Suroso dan Yatmini itu.
Kemampuannya membuat layang-layang buah dari hobinya main layangan sejak kecil. Sejak usia sekolah dasar Yovi kecil pandai membaut layangan gapangan. Baru ketika 2017, dia mulai melirik layangan hias.
Saat itu dia melihat layangan berbentuk naga. Dia sempat keheranan bagaimana cara menerbangkan kerangka naga yang berbentuk lingkaran tersebut.
Pulang dari melihat itu, Yovi mencoba bereksperimen. Dua kali mencoba, dua kali pula menemui kegagalan.
Akhirnya, dia mencoba mencari tahu dari teman Facebook-nya yang asalnya dari Tulungagung. Sang teman inilah yang memberinya tips membuat layangan hias.
Yovi akhirnya tahu di mana letak kesalahannya. Tapi, bukan berarti dia langsung bisa membuat layangan seperti yang dia harapkan.
Dia perlu tiga kali membongkar kerangka layang-layang sepanjang 100 meter tersebut.
“Masalahnya ada pada jarak antar keping. Jaraknya harus sama, kemudian benangnya juga tak boleh molor,” jelasnya.
Setelah itu, pada 2019, dia mengikutkan layang-layang karyanya dalam Jogja International Kite Festival. Yang pesertanya juga datang dari 11 negara.
Untuk menerbangkan layang-layang naga itu, dia harus dibantu 15 orang. Hasilnya, meskipun lomba pertama, Yovi meraih juara dua di kategori naga. Menyisihkan 87 peserta lain. Hal ini sempat membuatnya heran.
“Kata juri, desain dan motif layang-layang naga saya memang biasa. Namun terbangnya luar biasa,” kenangnya.
Setelah itu Yovi ikut lomba di Bali. Nah, ketika di Pulau Dewata ini dia didatangi orang Perancis. Yang mengaku sudah mengincar layang-layang buatan Yovi sejak di Jogja.
Akhirnya, si bule tersebut membeli layang-layang naganya seharga Rp 20 juta. Kini, layangan itu dipajang di salah satu museum di negeri tersebut.
“Yang beli itu seniman,” aku Yovi, sambil menyebut pernah dikirimi foto ketika layangan hiasnya terbang di salah satu pantai di Perancis.
Yovi tak hanya menjual layangan jadi. Juga menjula desain lengkap dengan gambaran ketika jadi. Selain itu, dia juga masih sering mengikuti berbagai lomba gapangan.
Seperti tahun ini, dia mengikutkan gapangan bertema wayang di lomba yang berlangsung di Jogja. Di lomba berlevel internasional ini dia mendapat peringkat empat.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah