JP Radar Kediri - Shofi panggilan akrab Shofi Nur Laili Mufadhiroh- merupakan korban bullying. Tindakan yang tak patut dicontoh itu dialaminya ketika duduk di bangku SMP. Dulu, teman-temannya sering mengolok-olok penampilannya. Shofi yang punya mental baja tidak lantas terpuruk. Dia menjadikan cemoohan teman-temannya itu sebagai cambuk. Tekadnya yang kuat berhasil mengantarkannya meraih berbagai prestasi.
“Gara-gara fisik, saya selalu dibully. Dibilang kurus, jelek, hingga item (berkulit gelap, Red),” aku gadis asal Kelurahan Pocanan, Kota Kediri.
Perundungan teman-temannya itu telah menjadi pecut bagi dirinya untuk menjadi lebih baik. Dia bertekad untuk bisa tampil glow up. Setelah menamatkan SMP, Shofi lalu melanjutkan pendidikan ke luar kota. Ia meneruskan sekolah di MAN 4 Jombang.
Dari situlah dia mengubah semuanya. Shofi sangat memperhatikan penampilan. Mulai dari cara berpakaian hingga komunikasi. Dan yang tidak kalah penting adalah wawasan harus terus diperluas.
Merasa sebagai anak yang tidak memiliki kepercayaan diri, Shofi lantas mencari wadah yang pas agar bisa tampil di depan publik. Saat itulah dia memutuskan untuk masuk ke organisasi di sekolah. Yakni bergabung di ekstrakurikuler pidato. “Tujuannya cuma satu agar bisa meningkatkan kepercayaan diri,” kenangnya.
Di ekstrakurikuler itu, Shofi lalu dilatih untuk public speaking. Keberanian tampil di depan publik menjadi modal yang luar biasa untuk mengantarkan dirinya meraih segudang prestasi. Awalnya, dia mulai memberanikan diri ikut ajang duta di pondok pesantrennya. Di sana, dia juga aktif ikut beberapa perlombaan dan kompetisi. Dia melakukannya untuk meningkatkan skill.
Saat kali pertama ikut ajang kontes kecantikan, Shofi sempat pesimistis. Dia merasa tidak percaya diri karena kontestan lain menurutnya punya kelebihan yang sulit ditandingi. Dari situ pula belajar, jika ajang beauty pageant ini tidak hanya soal kecantikan semata. Sebab, semua peserta diuji tentang wawasan, kecakapan, dan ketangkasan. Termasuk juga perilaku. Semuanya harus dimiliki karena menjadi pondasi.
“Di MAN dulu ada namanya Asa Queen (Asrama Sunan Ampel Queen, Red). Ya ini mirip-mirip lah seperti ajang pageant beauty gitu. Pada waktu itu alhamdulillah juara 1,” akunya dengan bangga.
Tidak hanya berpuas diri saat masih di MAN, dia aktivitasnya itu saat kuliah. Shofi mencoba ikut Miss Hijab Jawa Timur Persahabatan 2022. Ketertarikannya itu tidak hanya karena ingin mengasah skill di dunia pageant beauty, namun juga karena ingin menunjukkan bahwa perempuan berhijab juga bisa tampil di depan banyak orang.
“Visi misi miss hijab ini sangat bagus, pakaian hijab bukan jadi halangan buat mengejar pendidikan dan karir,” aku perempuan kelahiran 2000 ini.
Di sela-sela kesibukannya menimba ilmu dan bekerja, dia juga masih menyempatkan diri untuk mengemban tugas menjadi seorang duta untuk kontes kecantikan.
“Alhamdulillah gara-gara di-bully di SMP bisa mengubah saya menjadi lebih aktif dan lebih baik dari sebelumnya,” akunya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah