Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Perkenalkan! Inilah Sosok Pramushinto, Seorang Dokter yang Menulis Buku 'Tahu Kediri'

Emilia Susanti • Rabu, 29 Mei 2024 | 17:18 WIB
TELATEN: dr Pramushinto menunjukkan buku Tahu Kediri yang bercerita tentang petuah diri.
TELATEN: dr Pramushinto menunjukkan buku Tahu Kediri yang bercerita tentang petuah diri.

KEDIRI, JP Radar Kediri - Rambutnya panjang dan sudah memutih. Dikuncir secara bersahaja. Duduk santai di kursi ruang tamu. Bersanding seonggok buku tebal yang, sepertinya, sengaja diletakkan di situ. Buku itu bersampul gambar dirinya.

Pria itu bernama Pramushinto. Sehari-hari profesinya adalah seorang dokter umum. Yang berpraktik di sebelah rumah tinggalnya, di Desa  Tawang, Kecamatan Wates.

Di gambar sampul buku itu sang dokter tidak ‘sendirian’. Di meja yang ada di sampingnya tersaji suguhan. Sepiring tahu dan secangkir kopi. Tahunya, tahu kuning. Yang biasa disebut tahu takwa.

“Tahu kenapa dinamakan tahu takwa?” tanyanya. Kemudian, pra yang biasa disapa Dokter Pramu itu menjelaskan cerita di balik nama tahu yang menjadi oleh-oleh khas Kediri ini.

Cerita tentang tahu itu memang menarik. Namun, yang lebih menarik adalah tentang buku yang berjudul Tahu Kediri itu. Terutama proses penulisan buku setebal 230 halaman itu. Isinya ada 206 judul tulisan pendek, buah pemikirannya selama dua tahun terakhir.

Bila melihat judul bukunya, orang pasti akan mengira isinya tentang Kediri. Anggapan itu bisa benar. Tapi, ternyata, lebih dari itu. Tahu Kediri bukan saja bercerita tentang Kediri. Juga bermakna tahu ke diri, mengetahui diri sendiri. Isinya lebih kepada tulisan bebas Dokter Pramu tentang apa yang sudah dialami, dipahami, dan yang ada dipikirkan.

Bukunya bukan tulisan panjang yang bisa membuat pembacanya mengantuk. Tapi terdiri dari esai pendek nan ringan. Paling panjang dua halaman. Itu pun tidak penuh. Meski begitu, maknanya begitu dalam. Mengandung petuah, yang salah satunya untuk mengajarkan tentang kebajikan.

Menariknya, Dokter Pramu ternyata hanya berbekal gawai untuk menuliskan ratusan judul. Setiap tengah malam, dirinya terbangun. Sulit untuk terlelap lagi. Ketika itulah, banyak hal yang ada di pikirannya. Banyak ide yang kemudian muncul begitu saja, lalu dituangkanlah dalam tulisan. Mengetik di gawai android.

“Saya masuk di grup (WhatsApp Mamaconga, kependekan dari Mahasiswa Complex Ngasem, Red) situ. Terus saya ngisi tulisan-tulisan di grup itu. Karena grupnya itu para profesor, aku nek nulis masalah ilmiah sains ga nututi. Jadi aku bikin tulisan-tulisan ringan aja, tiap hari ngisi,” ceritanya.

Dia sendiri bergabung dengan grup WhatsApp Mamaconga sejak akhir 2021. Setiap berhasil menyelesaikan satu tulisannya, Pramu kemudian mengirimkan di grup. Yang hingga terkumpul ratusan judul. Lalu, rekan-rekannya yang berada di grup itupun mendorong agar Pramu menjadikan tulisannya menjadi sebuah buku. Dan, tercetaklah buku Tahu Kediri ini.

“Cuman ini ndak saya cetak untuk dijual. Makanya di toko buku nggak ada,” jelas anak kedua dari sepuluh bersaudara ini.

Namun demikian, buku ini bisa dikomersilkan bila memang banyak masyarakat yang menginginkan. Sementara, cetakan pertama buku ini hanya sebanyak 100 eksemplar yang dibagikan kepada saudara-saudaranya.

Kembali lagi terkait proses membuat buku, ternyata Dokter Pramu sudah terbiasa menulis sejak dirinya sekolah. Di samping itu, dia juga sudah menyumbangkan beberapa tulisannya ke buku milik teman-temannya. Menurutnya, kunci dari menulis adalah membaca. Dia mengaku sudah membaca banyak buku semasa hidupnya. Yang mana hal ini membuatnya memiliki banyak ide.

“Tetapi kalau saya menemui hal yang sulit (saat menulis, Red) saya cari literasi. Kalau nggak cari literasi ya nggak jadi,” akunya sembari menyebut dirinya akan mencari-cari buku untuk menyelesaikan tulisannya.

Sementara, satu tulisan paling singkat diselesaikan dalam kurun waktu satu hari saja. Tetapi, bisa juga sampai satu minggu. Yang jelas, tiada hari tanpa menulis bagi Pramu. Suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan baginya. Yang lucunya, selalu membuatnya terkantuk-kantuk pada pagi harinya.

“Habis sarapan ae wis angop ping pitulikur,” candanya.

Apa yang dilakukan Dokter Pramu seharusnya menjadi tamparan bagi anak muda zaman sekarang. Meski sudah sepuh, dirinya tetap produktif. Dengan berbekal gawai jadulnya, Pramu membuahkan sebuah buku.

“Sebetulnya ini sebagian juga berisi petuah-petuah yang ingin saya sampaikan tetapi kalau diomongne kan angel. Ya wis dijadikan buku aja,” tandasnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel. 

 

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#dokter umum #sosok inspiratif #penulis buku #tahu kediri