KEDIRI, JP Radar Kediri - Gadis berperawakan kecil itu turun dari boncengan sepeda motor. Bergegas masuk dan mendatangi Jawa Pos Radar Kediri yang sudah duduk menunggu di salah satu kafe yang berada di Jalan Panglima Polim.
“Halo Kak,” sapanya sebelum meletakkan tas tangan warna putih di meja. Setelah itu dia pergi lagi. Kali ini mendatangi kasir. Memesan sepiring spaghetti dan segelas es kopi.
“Dulu awal terjun di dunia ini pas masih SMP. Jadi masih bocil (bocah cilik, Red) banget. Belum punya pengalaman,” ucapnya, ketika sudah duduk dan memulai perbincangan.
Gadis ini adalah Audy Nadya Shafa Thalita. Seorang beauty content creator yang aktif di Tiktok dan Instagram. Dengan follower yang sudah puluhan ribu. Bahkan, engagement yang dia peroleh, menurut sang content creator, sudah bisa dua digit alias puluhan juta.
“Ya bergantung jumlah followernya,” sebut gadis yang kala itu menggunakan blazer berwarna pink dengan bando berwarna senada itu.
Belum lagi dari endorsement yang dia lakukan pada produk-produk tertentu. Namun, untuk yang ini Audy enggan menyebut besarannya.
Tapi, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Kota Kediri ini tak meraih itu semua dengan mudah. Bahkan, penuh dengan rintangan. Terutama hujatan-hujatan terhadap dirinya di awal-awal terjun sebagai content creator.
“Awalnya iseng ber-make up dan upload di sosmed,” cerita Audy.
Di tengah obrolan, ada serombongan gadis yang menghampiri. Salah satunya bertanya,”Kak, content creator yang di Tiktok viral itu ya?”
“Iya,” jawab Audy ramah. Yang dilanjutkan dengan sesi minta foto dari para penggemarnya itu untuk beberapa saat.
Usai acara minta foto itu selesai, dia kembali pada obrolannya. Melanjutkan kisah bahwa dia pernah mengalami masa-masa pahit. Menjadi korban bully-an. Terutama karena fisiknya yang dianggap tak cocok sebagai beauty content creator.
Semua ejekan itu tak lantas membuatnya patah semangat. Sebaliknya, jadi dorongannya agar terus belajar.
Memang, perempuan kelahiran 2004 ini menyukai hal-hal tentang make up sejak kecil. Bahkan, saat itu dia sudah membayangkan enaknya jadi beauty advisor. Ditambah lagi, tontonan yang kerap dia lihat adalah konten milik Tasya Farasya, seorang beauty influencer. Sejak itulah dia mulai tertarik membuat konten.
“Awal posting udah banyak tuh hujatan-hujatan. Ngga hanya dari netizen aja tapi dari temen-temen terdekat aku juga. Bagi mereka aku tidak cukup cantik dan skill beauty make up-ku pada saat itu memang masih cukup jauh,” paparnya dengan dialek gaul kekinian yang terdengar sangat medok.
Audy bukannya tak terpengaruh dengan berbagai hujatan itu. Dia bahkan pernah mengalami periode terpuruk. Tidak mau membuka akun medsosnya selama tujuh bulan.
“Jahat-jahat banget komennya,” ucapnya beralasan.
Tapi, akhirnya dia pun bangkit. Support kedua orang tuanya adalah faktor utamanya. Audy pun kembali bergelut membuat konten-konten kecantikan lagi.
Terlepas dari semua hujatan itu, kendala lain yang didapat adalah soal waktu. Sebab, mulai ide, pembuatan, hingga pengeditan konten dia lakukan sendiri.
“Biasanya kalau ngonten itu aku start jam dua pagi sampai subuh. Soalnya pagi itu aku ada kuliah juga. Jadi pinter-pinter nyari waktu kosong aja,” jelas pemilik lebih dari 33 ribu followers di akun instagram pribadinya, @beauty_byaudy ini.
Perempuan kelahiran Kediri ini juga beberapa kali menjuarai lomba face art. “Bikin konten lombanya itu sampai delapan jam. Karena harus menggambar di wajah, jadi detail gitu,” ungkap pemiliki akun Tiktok @audynadya15 dengan 49 ribu followers ini, sambil menunjukkan hasil make up-nya.
Kini, hujatan memang masih dia dapat. Namun, tak pernah dia hiraukan. Bahkan, jadi penyemangatnya dan memicunya untuk bersyukur.
“Sekarang aku lebih menerima apapun yang ada di hidup aku. Setiap orang itu punya keunikan masing-masing,” jelas gadis yang berharap bisa menginspirasi banyak orang ini.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram"Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah