KEDIRI, JP Radar Kediri - Namanya panjang, Shinta Fahrani Arianti. Namun, gadis yang tinggal di Dusun Bloran, Desa Canggu, Kecamatan Badas ini terbiasa dipanggil Shinta. Sudah mengenal olahraga pencak silat sejak duduk di sekolah dasar (SD). Meskipun baru menyeriusi ketika naik ke bangku sekolah menengah pertama (SMP).
“Waktu SD itu, saya belum serius mempelajari (pencak silat). Latihan tidak rutin,” aku siswa MTs Nidhomiyah Surowono ini.
Semuanya berubah ketika dia duduk di kelas akhir sekolah dasar. Ketika kelas enam itu, ada unggahan status WhatsApp yang dia lihat. Tentang pendaftaran siswa di perguruan silat Porsigal. Begitu melihat dia langsung tertarik.
“Saya izin dulu ke orang tua. Alhamdulillah diberi restu,” lanjut pengidola pesilat nasional Puspa Arumsari ini.
Bagi Shinta, pencak silat seperti menjadi chemistry tersendiri. Ada hasrat terpendam menekuni olahraga ini karena mengingat kisah sang ibunda. Yang sering bercerita kepadanya bahwa dia ingin menekuni silat tapi dilarang oleh orang tuanya. Kisah dari sang ibunda itulah yang terus memompa semangatnya. Ingin menerjuni pencak silat dengan serius.
Setelah masuk ke perguruan silat, awalnya dia ingin menekuni kategori bertanding. Tapi, akhirnya dia ubah haluan ke kategori seni tunggal pencak silat. Kategori yang mengutamakan keindahan gerak.
Shinta kemudian mulai mengikuti kejuaraan silat. Namun, kejuaraan pertama yang dia ikuti jauh dari hiruk-pikuk. Tak ada atmosfir penonton yang datang langsung. Sebab, kejuaraan tersebut berlangsung virtual.
“Kejuaraan pertama saya berlangsung virtual,” ulangnya.
Karena virtual, Shita diminta mengirim video ketika memeragakan jurus-jurus pencak silat. Video itu dibuat melalui kamera handphone. Di halaman sekolah, dilihat oleh teman-temannya.
“Banyak yang lihat, malu banget saat itu,” kenangnya.
Shinta memang gadis pemalu. Jadi, ketika ditonton orang banyak dia jadi grogi. Beruntung, sang pelatih terus memompa semangatnya.
“Tidak boleh malu atau grogi. Nanti hasilnya tak bisa maksimal,” ujarnya, mengulang ucapan sang pelatih yang mencoba membangkitkan semangatnya kala itu.
Seiring waktu, dengan kerapnya dia ikut kejuaraan, rasa grogi itu hilang dengan sendirinya. Ditambah dengan upaya Shinta yang berusaha beradaptasi dengan setiap kompetisi yang dia ikuti.
“Sekarang sudah nggak malu seperti dulu. Itu kalau nggak salah waktu di kompetisi ketujuh,” ingatnya sembari mengungkapkan perasaannya bahwa dirinya bangga tak jadi anak yang pemalu lagi.
Setelah keikutsertaan pertamanya pada NU CUP 2 2021, Shinta mulai aktif mencari informasi berbagai kejuaraan silat. Tentu dengan dibantu oleh sang pelatih. Keinginannya menorehkan prestasi mendorong dia terus meningkatkan level keikutsertaan.
“Saya pengen dapat medali. Kan ada kakak kelas saya juga ikut, terus dapet medali. Saya itu pengen kayak dia. Apalagi, katanya, bila banyak prestasi mudah mencari SMA favorit,” akunya polos.
Kini, Shinta bisa tersenyum. Medali demi medali telah dia koleksi. Koleksinya, seperti runner up tunggal putra dini di NU CUP 2 2021. Kemudian runner up Banyuwangi Championship 2022. Juga, runner up Indonesia Paku Bumi Open 12 Pencak Silat Championship 2024.
“Saya ingin nanti bisa mewakili Kabupaten Kediri. Kemudian tampil di Asian Games,” harapnya. Satu cita-cita yang sangat mungkin teraih. Tinggal melihat seberapa jauh tekad sang atlet serta dukungan yang dia terima dari berbagai pihak.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah