KEDIRI, JP Radar Kediri - Setiap minggu pagi, terlihat truk dam keliling di Desa Kras. Bukan tanpa sebab, truk itu keliling dengan tujuan mencari rongsokan dari warga. Terlihat pula polisi yang mengiringinya. Sesekali berbicara di mikrofon yang tertaut dengan sound sistem dan genset di dalam truk. Mengajak warga untuk memberikan sampah rumah tangganya. Masyarakat juga antusias. Berbondong-bondong membawakan kumpulan rongsokan. Mulai dari gelas bekas, kardus, dan semacamnya.
“segala macam sampah diterima dan di bawa ke penampungan yang letaknya di sebelah Masjid Desa Kras, Masjid Darul Muttaqin,,” terang babinkamtibmas yang akrab disapa Gendut itu.
GSR namanya, kepanjangannya “Gerakan sedekah rosok”. Kegiatannya menerima sedekah dari masyarakat desa. Tidak berupa uang, melainkan berupa barang bekas yang notabennya tidak berguna dan bernilai harganya.
Walau demikian, di tangan Gendut, dan tim dari NU Ranting Kras, barang bekas itu bisa menghasilkan banyak cuan.
“Diambil pengepul setiap dua sampai tiga minggu sekali, dapatnya uang sekitar Rp 3 – Rp 5 juta,” terang, Agus Ariadi, Kasun Kras, yang juga anggota NU Ranting Kras yang turut ikut kegiatan GSR.
Sebenarnya kegiatan ini sudah ada sejak 2021 akhir, namun karena masih membabat, jadi masih belum optimal. Saat 2022, ketika Gendut menjadi Babinkamtibmas Desa Kras, lantas dia berantusias bergabung. Tidak hanya ikut secara ceremonial saja, melainkan turut mendukung. Awalnya dengan memberikan imbauan-imbauan kemasyarakat, agar lebih berantusias. Selanjutnya juga turut keliling ketika mencari sedekah dari masyarakat.
“Mengajak masyarakat untuk memaksimalkan. Karena memang tujuannya baik, untuk kegiatan sosial. Cukup mengumpulkan sampah di rumahnya, setiap minggu disetorkan,” jelas Gendut.
Kegiatannya dilakukan setiap minggu. Bergantian di setiap dusunnya.
“Misal minggu pertama di Dusun Kras, berikutnya Dusun Jagung, lanjut Dusun Menang, Semibnggu sekali keliling di satu dusun,” jelas Gendut.
Setelah keliling ke rumah-rumah warga untuk mengambil rongsokan, berikutnya dikumpulkan di penampungan yang berada di sebelah Masjid Darul Muttaqin. Besok malamnya, dipilah-pilah oleh anggota. Dua-tiga minggu berikutnya di ambil pengepul. Hasil uangnya tidak serta merta diambil anggota. Melainkan digunakan kegiatan sosial. Seperti, bila ada warga yang meninggal, maka diberikan bantuan selama tujuh hari untuk kegiatan selamatan.
“Dibuat pengajian juga, kegiatan keagaaman-keagamaan lain juga, seerti santunan anak yatim, dan sebagainya. Intinya untuk kegiatan sosial masyarakat,” imbuh Agus.
Masyarakata juga sangat berantusias. Mereka dengan senang hati menyetorkan. Di satu sisi, mereka jadi tidak bingung harus membuang sampah ke mana. Satu sisi juga bisa menjadi invetasi akhirat.
“Karena ini itungannya kegiatan amal. Ini juga bentuk investasi, bila ada sanak keluarga yang meninggal, bisa sedikit terbantu dari dana yang diberikan dari kegiatan ini,” jelas Gendut.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah