KEDIRI, JP Radar Kediri - Tak pernah terpikirkan di benak lima anak muda ini sebelumnya. Bahwa mereka mampu menempuh jarak ratusan kilometer (km) dengan mengayuh sepeda. Rowi Ardiyansyah, Al Haqi Attaallah Subachtiar, M. Rijal Maulana, M. Fahmi Fadhilah, dan Arnayudin merupakan santri dari Pondok Pesantren Lirboyo. Menyambut bulan suci Ramadan tahun ini, mereka mudik sejauh 900 km dengan mengayuh sepeda ontel.
“Sebelum-sebelumnya kami bernazar kalau wisuda, tahun ini mau ngontel. Jadi kalau nazar kan harus ditepati,” ujar Rowi terkait alasannya memilih sepeda ontel sebagai kendaraan mudiknya.
Perjalanan menuju Tangerang dan Serang, Provinsi Banten, dan Sukabumi, Jawa Barat itu mereka tempuh dalam waktu 12 hari. Tidak hanya fisik mereka yang ditempa selama perjalanan. Mudik dengan sepeda ontel itu juga punya makna spiritual bagi mereka.
“Kalau saya kuliah (di Universitas Islam Tribakti, Lirboyo Kediri, Red) sambil mondok di Lirboyo. Di sana kita ada tirakat. Jadi kami tirakat lah,” sambung pria kelahiran 2001 itu.
Setelah izin kepada kiainya, Rowi dan empat temannya pun diperbolehkan melakukan perjalanan panjang itu. Dengan bekal doa dari kiainya, lima pengembara itu memulai perjalanan akhir Februari lalu.
“Di samping olahraga, ada yang lebih penting. Yaitu melatih kesabaran,” tandasnya.
Bagi mereka, perjalanan ratusan kilometer dengan sepeda ontel termasuk bentuk latihan emosional. Selama perjalanan, mereka dilatih untuk bersabar dan menerima keadaan. Pun dengan mengelola emosi di tengah berbagai situasi yang dihadapi.
Salah satunya saat mereka nyaris menyerah di perjalanan. Di hari pertama, rasa lelah dan sakit di kaki hampir membuat mereka balik badan. Itu saat mereka baru sampai di Kabupaten Nganjuk dan memutuskan istirahat di salah satu masjid.
“Pas bangun pagi-paginya, kaki gak bisa digerakin, kram. Itu teman-teman sudah bingung dan patah semangat. Mau balik lagi nanggung. Pada akhirnya setelah tiga hari perjalanan, kaki sudah terbiasa,” urainya mengulang kembali pengalamannya selama di perjalanan.
Keinginan untuk memenuhi nazar itulah yang membuat mereka bangkit lagi. Beruntung, selama perjalanan mereka banyak bertemu dengan orang-orang baik. Sepeda ontel yang juga telah menemani mereka selama empat tahun kuliah itu turut menarik simpati komunitas sepeda ontel di berbagai daerah.
“Di beberapa daerah sering diportal atau diberhentiin. Dikasih makan, kopi, bahkan sempat dikasih ongkos waktu di Ngawi,” kenangnya.
Agar bisa sampai tujuan dengan selamat, salah satu kuncinya adalah tidak memaksakan diri. Perjalanan 12 hari itu dilalui dengan santai. “Alhamdulillah setelah perjalanan ini, pengen lagi kalau masih diberikan kesempatan dan teman-teman yang punya keinginan yang sama,” pungkasnya.
Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.
Editor : Anwar Bahar Basalamah