Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Inilah Kisah Ana Musthofa yang Merintis Bisnis Tenun di Kabupaten Kediri

Karen Wibi • Selasa, 27 Februari 2024 | 17:06 WIB
Photo
Photo

KEDIRI, JP Radar Kediri- Bangunan itu jauh dari kata mewah. Hanya berukuran 10 meter kali 10 meter. Dikelilingi dinding yang masih berupa gedek, anyaman bambu. Lantainya bukan dari ubin. Melainkan hanya tanah yang sudah padat karena terlalu sering terinjak kaki.

Wajar bila orang yang baru melihat pertama kali tak menyangka bila bangunan sangat sederhana itu adalah suatu pabrik. Tempat memproduksi tenun yang hasilnya bahkan telah banyak terjual hingga ke luar negeri.

“Alhamdulillah, saat ini sudah lumayan besar (produksinya),” ucap lelaki yang berdiri tepat di depan pintu masuk ‘pabrik’ kain tenun itu.

Pria itu adalah Mochammad Ana Musthofa. Pengrajin sekaligus pemilik usaha kain tenun yang berada di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semen. Suaranya sedikit tenggelam dari suara bising yang muncul dari alat tenun bukan mesin (ATBM) yang ada dari dalam pabrik. Yang suara cetak-ceteknya sudah terdengar dari jarak 20-an meter.

Ana-panggilan akrabnya-mengarahkan pandangan ke dalam ruangan. Tempat belasan mesin ATBM-nya berada. Yang dijalankan oleh belasan karyawan pula. Sembari berkeliling ruangan yang tak terlalu lebar itu, dia mulai berkisah tentang usahanya yang tak berjalan dengan mudah itu.

“Awalnya dulu saya adalah pekerja tenun di salah satu pengrajin di Kota Kediri,” ujarnya, mengingat kisah pada 2013.

Setahun di tempat itu, hasratnya mulai bergejolak. Ingin mencoba peruntungan yang lain. Namun, karena kebisaannya hanya menenun, dia pun memberanikan diri membuka usaha sendiri. Tidak lagi hanya karyawan, yang bergantung pada orang lain.

Mudah? Tentu saja tidak. Terutama soal modal usaha. Untungnya, dia sempat mengumpulkan uang yang dia persiapkan sebagai modal, sebelum keluar dari tempatnya bekerja.

Modal bukan menjadi satu-satunya masalah. Soal pembeli juga persoalan lain. Jumlah peminat di tempatnya hanya dalam hitungan jari. Satu keadaan yang membuatnya terus merugi.

Ana sempat berpindah-pindah kontrakan. Untuk mengakali sedikitnya pembeli. Dengan berpindah tempat, dia berharap punya tambahan pelanggan. Sampai akhirnya dia bertahan di Desa Sidomulyo hingga sekarang.

Di tengah upayanya bisa eksis, dewi fortuna datang. Ana bertemu seorang rekan bisnis. Sang rekan itu memuji kualitas karya tenunnya. Yang disebutnya sangat berkarakter. Hanya perlu sedikit polesan, tenun songket itu bakal laris manis.

“Akhirnya sama rekan saya itu dipinjami modal,” ujarnya, mengenang momentum yang menandai titik balik usahanya itu.

Baca Juga: Dalang Muda Ki Akbar Syahalam Semakin Digandrungi, Ini Pengakuannya soal Jumlah Tanggapan Wayang Kulit dalam Sebulan

Setelah itu, produksi kain tenun milik Ana kian terkenal. Pembelinya tidak hanya dari Kabupaten Kediri. Tapi hingga luar negeri. Kain tenunnya banyak dijual di Arab Saudi.

Untuk ke Arab Saudi, Ana menyebut mayoritas kain tenun yang dia jual sudah berbentuk sarung. Kainnya bukan sembarang kain. Melainkan kain sutra. Harga per sarungnya mencapai Rp 800 ribu.

Soal kualitas? “Tidak usah dijawab lagi, pasti bagus,” suluknya, sembari terkekeh.

Kini usaha yang dirintisnya itu sudah kian besar. Soal urusan omset tentu sudah menembus tiga digit. Hitung-hitungannya begini, untuk satu minggunya, Ana mengerjakan 70 kain tenun songket biasa. Harganya antara Rp 225 ribu hingga Rp 700 ribu. Tergantung tingkat kesulitan motif. Sedangkan untuk sarung dari kain sutra bisa lebih dari 70 pesanan tiap minggunya. Dengan rata-rata harganya yaitu Rp 800 ribu.

“Ya kalau omsetnya bisa dihitung sendiri,” pungkasnya sembari tertawa. 

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Anwar Bahar Basalamah
#ATBM #Sosok #inspiratif #tenun